Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMANG kita harus berterima kasih kepada Hanifan Yudani Kusumah. Tidak hanya karena medali emas pencak silat di nomor kelas C putra 55-60 kg, tetapi juga spontanitasnya terhadap Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Di tribune VVIP, setelah bersalaman, Hanifan memeluk secara bersamaan kedua tokoh yang bersaing di Pilpres 2019 itu. Pemandangannya benar-benar menggembirakan karena Jokowi dan Prabowo yang hadir sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) menyambut pelukan itu tanpa ragu-ragu.
Jadilah pelukan yang tidak disangka-sangka itu ibarat simbol perdamaian. Di atas kontestasi apa pun, termasuk untuk kursi nomor satu, permusuhan tidak boleh terjadi.
Persatuan itu pula yang sebenarnya diharapkan rakyat. Hal ini bukan saja terbukti dari gemuruh tepuk tangan di Padepokan Pencak Silat TMII, melainkan juga dari respons rakyat di berbagai media.
Pesta olahraga memang bukan semata ajang unjuk kekuatan, melainkan juga momen kebangkitan dan persatuan. Malah sejarah sudah sering mencatat, nasionalisme yang bangkit setelah kemenangan besar di laga olahraga dunia. Sebab itu, hampir semua negara berlomba tampil di ajang olahraga internasional.
Bukti keampuhan olahraga itulah yang kini kita rasakan dan bukan hanya di tribune VVIP. Kemenangan setiap atlet pun juga menjadi kegembiraan bersama.
Masyarakat yang beberapa waktu lalu begitu sensitif dengan isu SARA, kini tidak meributkan latar belakang para juara. Baik yang berwajah Melayu maupun tidak, semuanya ialah putra-putra terbaik bangsa. Semuanya diiringi doa ketika bertanding dan dielukan ketika menang.
Momen ini jelas mengharukan. Namun, yang lebih penting ialah bagaimana kita memeliharanya meski nanti Asian Games 2018 usai. Bagaimana pula kita membuktikan jika yang tersaji di tribune VVIP bukanlah sekadar show.
Pertanyaan ini bukan hanya dituntut ke para tokoh itu sendiri, melainkan juga lebih kepada para tokoh partai koalisi, para tim sukses, hingga simpatisan di akar rumput sebab sudah sering kita saksikan para tokoh
partai koalisi justru menjadi provokator perpecahan.
Tokoh-tokoh yang semestinya menjadi negarawan malah membuat bangsa ini di ambang krisis persatuan. Demi kekuasaan, rakyat sengaja dipertentangkan dengan politik identitas. Bukan itu saja, mereka menjadi pabrik hoaks dengan memelintir berbagai fakta dan data kinerja pemerintah.
Sementara itu, di momen-momen internasional seperti Asian Games, mereka tidak mau pula ketinggalan pamor. Ibarat penumpang, mereka ikut mengklaim keberhasilan penyelenggaraan dan prestasi. Di sisi lain, mereka pula yang menjadi barisan terdepan pencela setiap kekurangan dalam pesta olahraga ini.
Bagi para simpatisan di akar rumput, sikap Hanifan ialah contoh tergamblang. Ia ialah senyatanya gambaran, bukan saja atlet yang tangguh, melainkan juga rakyat yang cerdas. Seperti yang ia ungkapkan belakangan, meski pelukan itu tidak direncanakan, ada pelajaran yang ingin diberi kepada masyarakat. Kepada wartawan, atlet 20 tahun itu mengatakan bahwa pelukan itu merupakan ajakan bagi masyarakat untuk tetap menjaga hati dan silaturahim. Baginya, kebangsaan tidak semestinya terpecah karena hal yang tidak penting.
Menjaga hati dan silaturahim mestinya dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap orang mampu menjaga hati dan silaturahim, niscaya dalam tahun politik ini terjadi kontestasi dalam harmoni.
Kita bersyukur, patut bersyukur, bahwa tidak hanya prestasi yang dihadirkan dalam Asian Games 2018, tetapi juga yang jauh lebih penting lagi yakni olahraga mampu menyatukan semua perbedaan.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved