Pembangunan yang Menyejahterakan

16/6/2014 00:00
PEMBANGUNAN ekonomi dan kesejahteraan sosial merupakan dua perkara yang sesungguhnya tak terpisahkan. Tujuan pembangunan ekonomi di negara mana pun tiada lain ialah menyejahterakan rakyat. Pembangunan ekonomi yang tak mencapai kesejahteraan sosial ialah pembangunan ekonomi yang gagal.Sangat penting bagi pemimpin negara untuk memahami dan menerapkan pembangunan ekonomi yang menyejahterakan rakyat. Di negara yang sedang menyelenggarakan pemilu presiden seperti Indonesia, rakyat bisa mengetahui apakah calon presiden memahami pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial melalui visi dan misi, yang antara lain disampaikan melalui debat.

Karena itu, tepat bila debat dalam Pemilu Presiden 2014 mengangkat tema Pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial.  Kita tahu pembangunan ekonomi di negara ini dalam 10 tahun terakhir menghadirkan pertumbuhan, tetapi mengabaikan pemerataan. Angka pertumbuhan relatif mentereng, tapi pemerataan meredup. Pembangunan ekonomi kita lebih mengutamakan kuantitas, yakni pertumbuhan, ketimbang kualitas, yaitu pemerataan.Pembangunan ekonomi kita menguntungkan si kaya, tetapi seperti menegasikan si miskin. Pendapatan segelintir orang kaya bertumbuh cepat, tetapi pendapatan sebagian besar rakyat berjalan lambat bak siput. Maka, pembangunan ekonomi di negeri ini hanya memproduksi liang kesenjangan yang makin menganga.

Para ekonom menyebut subsidi energi yang tak terkendali sebagai salah satu akar serabut perkara kesenjangan ekonomi tersebut. Subsidi energi yang mendekati Rp400 triliun itu tidak tepat sasaran lantaran lebih banyak dinikmati orang-orang kaya, sedangkan orang-orang miskin cuma bisa gigit jari. Padahal, penggunaan anggaran pendapatan dan belanja negara akan lebih merata bila digerojokkan untuk subsidi yang lebih produktif semisal subsidi pendidikan, kesehatan, dan pertanian, ketimbang subsidi konsumtif seperti subsidi energi. Subsidi produktif akan menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang produktif pula, yang siap mengelola kekayaan alam kita serta memiliki daya saing prima.Semua itu memamerkan kepada kita betapa strategi pembangunan ekonomi dalam satu dekade terakhir telah menempuh jalan sesat. Itu antara lain disebabkan pemerintahan saat ini lebih mengutamakan popularitas ketimbang kualitas. Mereka sesungguhnya telah meninabobokan rakyat dengan madu sesaat, tetapi menjerumuskan dengan racun selamanya.

Itu tentu sebuah pembodohan ekonomi politik bagi rakyat. Oleh karena itu, kita membutuhkan presiden yang berani mengembalikan strategi pembangunan ke jalan yang benar, jalan yang menyejahterakan rakyat. Kita membutuhkan presiden yang bukan sekadar mengail popularitas, melainkan sungguh-sungguh berkhidmat pada pemerataan dan ke¬sejahteraan rakyat. Dari debat tadi malam yang merupakan debat untuk kali kedua, rakyat semestinya bisa membaca siapa calon presiden yang mampu mewujudkan model pembangunan ekonomi yang menyejahterakan rakyat, yang tak hanya menghadirkan pertumbuhan, tetapi juga pemerataan. Namun, kita juga mengingatkan bahwa apa yang diangkat capres barulah cita-cita ideal yang kelak harus dikonkretkan dalam kerja-kerja nyata pemerintahan. Ini juga sekaligus peringatan kepada capres agar tak hanya pandai bicara dalam debat, tetapi juga harus piawai bekerja mewujudkannya dalam kenyataan. Rakyat merekam segala pernyataan capres dan akan menagihnya kelak ketika satu di antara dua pasangan capres dan cawapres memerintah.



Berita Lainnya