Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MALAYSIA dulu ialah murid 'guru Indonesia' yang mungkin paling tekun. Mereka belajar banyak hal dari negara tetangga mereka yang ketika itu masih unggul segala-galanya. Harus diakui, meski mungkin tak terlihat mata, ada peran sang guru dalam perjalanan dan perkembangan Malaysia hari ini. Itu fakta sekaligus romantisme sejarah yang akan terus dikenang.
Beberapa dekade setelah itu, faktanya mulai berbalik. Sang murid belajar cepat, sementara sang guru makin kepayahan karena beban pikiran dan tanggungannya kian memberat. Pada sejumlah hal, Malaysia saat ini bahkan lebih layak menjadi guru dan Indonesia sebagai murid. Salah satunya
saat ini ialah bagaimana Indonesia mesti belajar kepada Malaysia dalam merespons isu utang negara.
Soal utang ini, kondisi Malaysia memang cukup mengkhawatirkan. Mereka memiliki utang sebesar US$251 miliar atau sekitar 1 triliun ringgit atau kalau dirupiahkan setara Rp3.474 triliun. Nilai itu sangat besar. Apalagi jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) Malaysia, rasio utang tersebut sudah mencapai 80%. Kalau utang itu dipasangi alarm, pasti sudah berbunyi nyaring.
Namun, di tengah besarnya utang itu, respons warganya sangatlah menginspirasi. Mereka rela urunan untuk bayar utang negara. Warga Malaysia percaya sekecil apa pun kontribusinya, mereka telah membantu negara lolos dari kesulitan. Ini sekaligus cara mereka dalam mengekspresikan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.
Luar biasanya, menurut laporan BBC, dalam 24 jam saja metode pengumpulan uang bertajuk Malaysia Hope Fund yang diluncurkan pada 30 Mei itu telah mengumpulkan hampir US$2 juta (Rp27 miliar). Itu belum termasuk dana yang dapat dikumpulkan dari gerakan Please Help Malaysia yang digagas warga sipil. Sampai Minggu (3/5), gerakan yang memanfaatkan laman gogetfunding.com tersebut sudah mengoleksi US$3.643.
Sesungguhnya bukan besar nominal penggalangan iuran itu yang membuat kita di Indonesia mesti tersindir sekaligus terinspirasi. Hasil pengumpulan itu, sampai kapan pun, tetap tak seberapa bila dibandingkan dengan total utang pemerintah yang mesti dilunasi.
Kita tersentak karena untuk isu yang sesensitif ini ternyata warga Malaysia mampu kompak dan memperlihatkan respons yang tak hanya positif, tapi juga solutif. Kaum ekonom juga memuji gerakan itu sebagai bagian dari pencerdasan publik terutama generasi muda sehingga mendapat pemahaman yang komprehensif tentang utang negara.
Sementara itu, di Indonesia, isu utang malah digoreng-goreng, dipolitisasi, dan oleh sebagian pihak dipakai untuk menembak pemimpin yang sedang berkuasa. Bukannya bersama-sama berupaya menyelesaikan persoalan, hobi mereka malah menambah ruwet perkara.
Harus jujur kita katakan, utang luar negeri Indonesia memang besar. Jumlahnya pada akhir Februari 2018 mencapai US$356,2 miliar atau sekitar Rp4.897,7 triliun (kurs 13.700). Jumlah itu Rp1.400 triliun lebih besar ketimbang utang Malaysia. Akan tetapi, rasio utang terhadap PDB tak setinggi Malaysia. Rasio utang Indonesia 34,7%, sedangkan Malaysia sudah menyentuh 80%.
Karena itu, mesti diakui bahwa kondisi di Indonesia jauh dari kegawatan. Kita mungkin tak perlu sampai bikin gerakan urunan seperti yang dilakukan Malaysia atau yang pernah pula kita lakukan saat rupiah mulai anjlok menjelang krisis ekonomi menyerang pada 1997. Kita percaya pemerintah masih punya kemampuan membayar utang dengan baik.
Namun, bagaimanapun, fenomena yang dilakukan warga Malaysia mestinya bisa menginspirasi kita agar 'memperlakukan' utang sebagaimana mestinya. Ketimbang terus mengait-ngaitkan utang ke ranah politik, lebih baik kita bantu awasi pemerintah agar disiplin mengelola anggaran dan mengupayakan penggunaan utang hanya untuk mendanai program-program yang produktif.
Kalau muridnya saja bisa, kenapa gurunya tidak?
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved