Merayakan Kegembiraan

12/6/2014 00:00
JIKA hanya ada yang bisa menyatukan seluruh warga dunia dalam satu euforia, itulah Piala Dunia. Tanpa berbatas ras, tingkat ekonomi, dan bahkan agama, mulai dini hari nanti miliaran warga dunia akan tersengat oleh demam bola.

Demam itu sudah pasti pula sampai ke Indonesia. Namun, sayang, dalam pesta akbar empat tahunan ini lagi-lagi kita hanya kebagian bersorak. Hanya kebagian jadi pasar perebutan hak siar dan kaus tim nasional negara lain.

Memang ada banyak negara lain yang bernasib sama, tetapi kita semestinya lebih miris. Sekian lama hanya menjadi penonton sesungguhnya menjadi cubitan pada kita yang sekian lama bangga menyebut sebagai bangsa yang besar.

Kenyataannya, hingga kini ukuran kebesaran itu masih sekadar angka jumlah penduduk. Dengan penduduk sekitar 253,60 juta jiwa pada Maret 2014, Indonesia menempati posisi keempat di bawah Tiongkok, India, Amerika Serikat. Brasil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 berada di posisi kelima.

Prestasi minim kita di dunia sepak bola pun tidak dapat disamakan dengan India. Meskipun sama-sama langganan jadi penonton, India sudah lebih berbicara di ajang Piala Dunia U-17. Negeri Ramayana itu akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 pada 2017.

Pun sudah bukan saatnya lagi kita terus-menerus bangga dengan jejak pernah lolos di Piala Dunia 1938. Terlebih jika mau jujur, kita pun tidak layak mengakuinya karena saat itu pun negara ini belum lahir. Begitu pun bukan juga sulit menjawab soal prestasi seret Indonesia di sepak bola dunia. Kondisi itu ialah cerminan kekarut-marutan sepak bola dalam negeri.

Bahkan lebih luas lagi, itu merupakan cerminan pembinaan olahraga yang seolah bukan menjadi bagian penting agenda pembangunan bangsa. Padahal bapak bangsa kita, Bung Karno, telah menunjukkan arti penting olahraga. Bukan hanya untuk dalam negeri, melainkan juga bahkan untuk membangun kekuatan internasional.

Lewat ajang Games of the New Emerging Forces (Ganefo), Bung Karno menunjukkan kekuatan Indonesia dalam membangun poros baru politik dunia. Di dalam negeri sendiri, pesta olahraga negara-negara berkembang itu bagaikan suntikan nasionalisme. Karena itu, kini ketika hadir di tengah-tengah suasana pemilihan presiden dan calon wakil presiden, ajang Piala Dunia seharusnya membawa pesan bagi para kandidat pemimpin.

Pesan bahwa membangun olahraga, terutama sepak bola, merupakan salah satu bagian penting membentuk karakter bangsa.Piala Dunia mestinya membangkitkan tekad menempuh kejayaan olahraga Indonesia.

Para kandidat pemimpin mestinya pula menempatkan kebangkitan olahraga sejajar dengan kebangkitan produktivitas bangsa. Kelak, ketika mereka memimpin negeri ini, tanggung jawab itu tak boleh dikhianati. Namun, itu bukan berarti kita bebas menjadikan ajang Piala Dunia sebagai alat politisasi untuk menggiring penonton untuk menentukan preferensi mereka kepada calon tertentu.

Pasalnya, bukan saja cara-cara seperti itu tidak etis, melainkan juga bisa memicu terjadinya kegaduhan yang tidak perlu, bahkan pembelahan. Kita ingin Piala Dunia menjadi kegembiraan sejenak bagi masyarakat kita. Karena itu, mari kita merayakan kegembiraan tersebut.



Berita Lainnya