JIKA hanya ada yang bisa menyatukan seluruh warga dunia dalam satu euforia, itulah Piala Dunia. Tanpa berbatas ras, tingkat ekonomi, dan bahkan agama, mulai dini hari nanti miliaran warga dunia akan tersengat oleh demam bola.
Demam itu sudah pasti pula sampai ke Indonesia. Namun, sayang, dalam pesta akbar empat tahunan ini lagi-lagi kita hanya kebagian bersorak. Hanya kebagian jadi pasar perebutan hak siar dan kaus tim nasional negara lain.
Memang ada banyak negara lain yang bernasib sama, tetapi kita semestinya lebih miris. Sekian lama hanya menjadi penonton sesungguhnya menjadi cubitan pada kita yang sekian lama bangga menyebut sebagai bangsa yang besar.
Kenyataannya, hingga kini ukuran kebesaran itu masih sekadar angka jumlah penduduk. Dengan penduduk sekitar 253,60 juta jiwa pada Maret 2014, Indonesia menempati posisi keempat di bawah Tiongkok, India, Amerika Serikat. Brasil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 berada di posisi kelima.
Prestasi minim kita di dunia sepak bola pun tidak dapat disamakan dengan India. Meskipun sama-sama langganan jadi penonton, India sudah lebih berbicara di ajang Piala Dunia U-17. Negeri Ramayana itu akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 pada 2017.
Pun sudah bukan saatnya lagi kita terus-menerus bangga dengan jejak pernah lolos di Piala Dunia 1938. Terlebih jika mau jujur, kita pun tidak layak mengakuinya karena saat itu pun negara ini belum lahir. Begitu pun bukan juga sulit menjawab soal prestasi seret Indonesia di sepak bola dunia. Kondisi itu ialah cerminan kekarut-marutan sepak bola dalam negeri.
Bahkan lebih luas lagi, itu merupakan cerminan pembinaan olahraga yang seolah bukan menjadi bagian penting agenda pembangunan bangsa. Padahal bapak bangsa kita, Bung Karno, telah menunjukkan arti penting olahraga. Bukan hanya untuk dalam negeri, melainkan juga bahkan untuk membangun kekuatan internasional.
Lewat ajang Games of the New Emerging Forces (Ganefo), Bung Karno menunjukkan kekuatan Indonesia dalam membangun poros baru politik dunia. Di dalam negeri sendiri, pesta olahraga negara-negara berkembang itu bagaikan suntikan nasionalisme. Karena itu, kini ketika hadir di tengah-tengah suasana pemilihan presiden dan calon wakil presiden, ajang Piala Dunia seharusnya membawa pesan bagi para kandidat pemimpin.
Pesan bahwa membangun olahraga, terutama sepak bola, merupakan salah satu bagian penting membentuk karakter bangsa.Piala Dunia mestinya membangkitkan tekad menempuh kejayaan olahraga Indonesia.
Para kandidat pemimpin mestinya pula menempatkan kebangkitan olahraga sejajar dengan kebangkitan produktivitas bangsa. Kelak, ketika mereka memimpin negeri ini, tanggung jawab itu tak boleh dikhianati. Namun, itu bukan berarti kita bebas menjadikan ajang Piala Dunia sebagai alat politisasi untuk menggiring penonton untuk menentukan preferensi mereka kepada calon tertentu.
Pasalnya, bukan saja cara-cara seperti itu tidak etis, melainkan juga bisa memicu terjadinya kegaduhan yang tidak perlu, bahkan pembelahan. Kita ingin Piala Dunia menjadi kegembiraan sejenak bagi masyarakat kita. Karena itu, mari kita merayakan kegembiraan tersebut.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.