Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGSA ini, sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia, senantiasa menghadapi berbagai persoalan yang datang silih berganti. Akan tetapi, bangsa ini, tidak seperti sejumlah bangsa lain, bukannya bersama-sama berupaya menyelesaikan persoalan, melainkan malah menambah ruwet perkara.
Perkara makin ruwet lantaran adanya politisasi. Segala perkara di negeri ini dipolitisasi tanpa tawaran solusi yang hakiki. Salah satunya ialah utang yang akhirnya mendapat respons dari Presiden Jokowi. Dikatakan utang Indonesia sudah lampu kuning, tak berapa lama lagi lampu merah.
Disebutkan negara ini di ambang krisis yang lebih parah daripada krisis 1997 gara-gara utang. Dikatakan utang negara kita membengkak, sebentar lagi pecah. Disebarkan opini Indonesia di ambang bubar lantaran utang yang sukar terbayar. Presiden Jokowi merespons kasak-kusuk soal utang, Sabtu (7/4).
Jokowi mengungkapkan ketika dirinya dilantik sebagai presiden, utang Indonesia sudah di angka Rp2.700 triliun dengan bunga Rp250 triliun per tahun. Wajar bila Jokowi merespons karena politisasi utang tersebut dialamatkan kepadanya. Kita percaya, dengan mengungkapkan sebagian utang tersebut merupakan warisan rezim-rezim sebelumnya, Presiden Jokowi tidak hendak menyalahkan presiden-presiden pendahulunya.
Presiden Jokowi hanya hendak meluruskan utang Indonesia yang kini sekitar Rp4.000 triliun merupakan akumulasi. Yang memolitisasi utang itu di antaranya ekonom, senior pula katanya, dan pernah duduk di pemerintahan. Undang-Undang Keuangan Negara menggariskan rasio utang terhadap produk domestik bruto maksimal 60%.
Rasio utang Indonesia sekarang ini di kisaran angka 30%. Jika dibandingkan dengan negara lain, semisal Thailand yang rasio utangnya 41% atau Malaysia 56%, Indonesia tentu lebih baik. Itu artinya utang Indonesia berada di zona aman.
Mahasiswa ekonomi semester awal saja tahu itu. Masak ekonom senior dan pernah duduk di pemerintahan pula tak paham itu? Lagi pula, utang sekarang ini digunakan untuk keperluan lebih produktif, terutama untuk membangun infrastruktur.
Sekadar perbandingan, di masa 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terbangun 230 km tol, sedangkan di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang belum genap empat tahun sudah dibangun 180 km tol.
Itu belum termasuk pembangunan infrastruktur lain seperti bandara, pelabuhan, dan jembatan. Kita tahu infrastruktur merupakan instrumen mencapai kemajuan ekonomi. Itu artinya pemerintah telah mengelola utang untuk memperbaiki ekonomi, bukan untuk menghancurkannya.
Rakyat awam saja tahu itu sehingga mereka mengapresiasi pembangunan infrastruktur tersebut. Apa iya ekonom senior dan pernah duduk di pemerintahan pula tak paham itu? Pemerintah pun berusaha mengelola pembayaran utang secara baik.
Pemerintah, misalnya, berupaya menurunkan beban bunga utang dengan mengembangkan instrumen utang jangka pendek dalam negeri untuk mengurangi risiko potensi meningkatnya bunga utang global karena kenaikan suku bunga The Fed.
Para ekonom mestinya tahu itu. Kok ekonom senior dan pernah duduk di pemerintahan seperti tak mau tahu itu? Kita percaya bahwa para elite sebetulnya memahami semua itu. Akan tetapi, lantaran hasrat memolitisasi lebih kuat daripada menawarkan solusi, perkara jadi makin rumit.
Bangsa ini menanggung banyak persoalan yang mesti diselesaikan. Kita memang tak boleh lelah bekerja untuk mengatasi persoalan itu. Akan tetapi, janganlah menambah berat persoalan dengan merecoki dan memolitisasinya. Bisa-bisa bangsa ini kehabisan energi mengurus sesat pikir terhadap persoalan tersebut, bukan lelah mengatasi persoalan itu sendiri.
Sikap-sikap oposisi semestinya disertai alternatif solusi. Kita semua, terutama pemerintah dan elite, berutang kepada rakyat untuk menghadirkan kemajuan ekonomi dan keadilan sosial. Pengelolaan utang yang baik merupakan solusi dari pemerintah untuk melunasi utang kepada rakyat tersebut. Mana solusi para elite?
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved