KEKHAWATIRAN akan keterlibatan anggota TNI dalam politik praktis di pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun ini ternyata tak mengada-ada. Begitu banyak imbauan dan peringatan dari beragam kalangan, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, agar TNI-Polri netral, tetapi masih saja ada tentara dan polisi yang mengabaikannya.
Belum lewat sepekan setelah Presiden Yudhoyono mengeluarkan instruksi agar TNI dan Polri tidak berpihak pada capres-cawapres tertentu, di Jakarta Pusat justru terungkap adanya bintara pembina desa (babinsa) yang mempertontonkan keberpihakan.
Mereka, para babinsa itu, dengan berpakaian dinas lengkap mendatangi rumah-rumah penduduk untuk menyurvei pilihan warga. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling mereka mendesak warga untuk menjatuhkan pilihan ke pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Tak cuma di Jakarta, hal serupa dilaporkan juga terjadi di sejumlah daerah lain. Sekretariat Nasional Jokowi, misalnya, mendapat laporan bahwa babinsa di Gunungkidul diinstruksikan untuk mendata, dan mengarahkan warga memilih capres tertentu. Dugaan keberpihakan dilakukan pula oleh anggota Polri. Negeri ini sudah bulat bersepakat menempuh jalur demokrasi dalam berbangsa dan bernegara. Di sinilah supremasi sipil mendapatkan tempat tertinggi dalam kekuasaan, sementara militer kembali ke peran mulia sebagai alat pertahanan dan Polri sebagai ujung tombak keamanan negara.
Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI pun secara gamblang melarang TNI terlibat dalam gelang gang politik praktis. Semangat yang sama digariskan Ketetapan MPR No VII/2000 bahwa TNI wajib bersikap netral dalam kehidupan politik.
Aturan-aturan hukum itu dibuat bukan untuk pajangan semata. Ia bukan pula untuk dipikirkan, ditafsirkan, atau diperdebatkan, melainkan untuk dijalankan. Artinya, netralitas TNI dan juga Polri ialah harga mati, sesuatu yang mutlak dipatuhi. Mereka haram memihak, pantang mendukung capres-cawapres mana pun dengan cara apa pun.
Bukan tanpa alasan melarang TNI dan Polri menjadi partisan. Tentara adalah organisasi yang sah untuk menggunakan senjata. Tentara adalah organisasi yang memiliki sumber daya manusia terlatih dengan komando yang tegas. Begitu pula polisi.
Dengan segala kelebihan itulah, TNI-Polri pantang terbelah, terkotak-kotak, lantaran menafikan netralitas dalam politik praktis. Segala kelebihan TNI dan Polri itu mutlak diabdikan untuk negara, bukan untuk yang lain.
Rakyat percaya, secara institusi TNI dan Polri masih netral, masih setia pada jalur reformasi yang mengoreksi mereka agar back to basic. Kita juga tidak ingin kepercayaan itu terkikis karena segelintir tentara dan polisi keluar dari jalur yang telah digariskan.
Namun, di sisi lain, kita khawatir, keberpihakan TNI dan Polri berlangsung masif dan sistematis. Buktinya, keberpihakan politik itu tidak terjadi di satu wilayah dan terjadi pada TNI sekaligus Polri.
Oleh karena itu, agar tidak ada kesan membiarkan, tidak ada pilihan lain bagi pimpinan TNI dan Polri kecuali mengusut tuntas dan menindak tegas anggota mereka yang mendukung capres tertentu. Sebagai Panglima Tertinggi TNI dan pemimpin tertinggi Polri, Presiden pun harus memastikan instruksinya agar TNI-Polri netral sungguh-sungguh dipatuhi.
Membiarkan TNI-Polri memihak capres-cawapres tertentu amat berbahaya bagi pemilu yang demokratis. Membiarkan TNI-Polri yang punya bedil dan pelor ikut bermain di pilpres hanya akan menebar ketakutan. Ujung-ujungnya, pilpres yang semestinya menjadi kegembiraan politik berbalik menjadi sesuatu yang menakutkan.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.