Harap-Harap Cemas pada DPR Baru

06/6/2014 00:00
ADA secercah harapan, tetapi terbersit pula kekhawatiran. Begitulah ketika kita melihat komposisi wakil rakyat terpilih yang bakal duduk di gedung parlemen lima tahun ke depan. Harapan tentu saja berkecamuk karena lebih dari separuh anggota DPR periode mendatang diisi muka-muka baru.

Di tengah profil dan prestasi yang ditunjukkan DPR selama ini yang dipersepsikan publik kurang elok, kehadiran mereka sangat diharapkan mampu membawa perubahan. Mereka, para debutan, itulah yang kita andalkan sebagai agen perubahan untuk memutus hegemoni para petahana yang mungkin masih akan mempertahankan tabiat mereka. Harapan juga meninggi karena dari 56,6% wajah baru itu, sebagian besar berasal dari kalangan pengusaha. Kita layak untuk berasumsi bahwa dengan latar belakang itu mereka ialah orang-orang yang punya cukup kemampuan ekonomi.

Artinya, mereka datang ke Senayan bukan untuk memenuhi kantong pribadi, melainkan betul-betul ingin mengabdi bagi kepentingan rakyat banyak. Wakil rakyat dari pelaku usaha juga mestinya lebih mengerti persoalan yang melilit bangsa ini, setidaknya dari beberapa sisi, seperti ekonomi dan birokrasi. Karena itu, idealnya, mereka tak perlu proses belajar dan adaptasi yang lama untuk bisa melaksanakan fungsi DPR sesuai dengan konstitusi, yaitu legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Namun, di tengah harapan-harapan baru itu tetaplah muncul kecemasan. Sebabnya, seperti yang diutarakan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), mayoritas caleg terpilih diperoleh dari praktik politik transaksional pada saat pemilu legislatif lalu. Tidak terkecuali mereka yang berlatar belakang pengusaha.

Dengan logika paling simpel, kita bisa menilai jika untuk masuk ke parlemen mereka memakai cara transaksional, saat di dalam pun mereka akan memilih jalan 'bertransaksi'. Apalagi kalau yang dominan nanti justru watak 'tak mau rugi' ala pengusaha, bukan watak melayani rakyat seperti tujuan semula. Satu lagi yang membuat kita khawatir ialah alih-alih membawa perubahan energi baru di DPR, mereka justru terseret oleh arus perilaku buruk sejumlah anggota parlemen petahana.

Pada titik inilah benih-benih kemalasan dan korupsi mulai disemai sehingga tumbuh dan menjalar ke segala penjuru. Kita jelas tak menginginkan hal itu. Kita percaya sesungguhnya banyak anggota parlemen yang baik. Namun, ibarat gara-gara setitik nila rusak susu sebelanga, perilaku malas dan korup sejumlah anggota DPR telah merusak citra DPR sebagai lembaga. Rakyat sudah muak menyaksikan perilaku korup para wakil rakyat.

Rakyat sudah lelah dengan mereka yang kerap melupakan tugas dan fungsinya. Di antara harapan dan kekhawatiran itulah kepentingan rakyat akan dipertaruhkan. Wajah baru seharusnya tidak menambah panjang daftar anggota parlemen yang gemar dan tak risih menilap uang rakyat. Wajah baru mestinya mampu menyegarkan otak dan nurani parlemen agar kembali memikirkan rakyat.

Pengusaha, politikus, mantan pejabat, atau apa pun latar belakang anggota DPR yang bakal menduduki Senayan nanti, itu tidak akan berarti apa-apa jika mereka tidak memaksimalkan fungsi sebagai wakil rakyat untuk benar-benar mewakili rakyat. Rakyat sudah muak menyaksikan perilaku korup para wakil rakyat. Rakyat sudah lelah dengan anggota dewan yang kerap melupakan tugas dan fungsi mereka.




Berita Lainnya