MISKIN antisipasi. Itulah salah satu sifat buruk yang melekat pada pengurus negeri ini. Aksi antisipasi yang minim itu termasuk untuk penyediaan infrastruktur dasar yang menjadi tulang punggung perekonomian bangsa.
Hal itulah yang terjadi pada tenaga listrik di negeri ini. Saat ini, kapasitas listrik terpasang pembangkit listrik secara nasional tercatat 48 ribu megawatt. Itu berarti naik hampir dua kali lipat ketimbang pada 2005 yang hanya 25 ribu megawatt.
Namun, selama periode yang sama pula, keluhan terhadap pemadaman bergilir semakin kerap terdengar. Laju penambahan kapasitas listrik tidak mampu mengimbangi laju permintaan listrik.
Di berbagai kawasan di Sumatra yang semula mengalami biarpet sehari sekali, kini menjadi sampai tiga kali sehari.
Tanpa penambahan kapasitas dalam jumlah yang berarti, PT PLN (persero) menyebutkan hanya dalam tempo empat tahun ke depan, Jawa pun akan mengalami krisis listrik serupa. Pantas saja Blackberry lebih memilih membangun pabrik di Malaysia ketimbang di Indonesia. Demikian pula Samsung yang lebih ingin menjadikan Indonesia sebagai sekadar pasar dengan menempatkan basis produksi di Vietnam.
Memang, banyak persoalan yang menghadang upaya pemerintah menyediakan infrastruktur, termasuk tenaga listrik, dalam jumlah memadai. Batu sandungan yang utama dan terus-menerus menjadi masalah ialah pengadaan lahan. Anehnya, meski telah memiliki payung berupa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, pemerintah tetap tidak berdaya. Mafia-mafia tanah tetap berjaya menjadi penguasa lahan.
Proyek PLTU berkapasitas 2x1.000 megawatt yang akan dibangun di Batang, Jawa Tengah, menjadi salah satu korbannya. Padahal, proyek yang telah mendapatkan pemenang tender sejak 2011 itu digadang-gadang menjadi pemasok kekurangan listrik Pulau Jawa.
Bila pun akhirnya PLTU tersebut terbangun, lalu bagaimana dengan nasib wilayah-wilayah lain di Indonesia? Data menunjukkan tingkat rasio elektrifikasi kita pada September 2013 mencapai 80,1%.
Namun, itu kondisi rata-rata. Hingga saat ini, setidaknya masih ada 12,5 juta rumah tangga di negeri ini belum memperoleh akses listrik. Di Nusa Tenggara Timur, rasio elektrifikasi malah baru mencapai 50%. Itu berarti separuh penduduk NTT tak dialiri listrik. Di Papua, masih ada 30% penduduk yang belum tersentuh listrik.
Karena itu, sudah saatnya pemerintah dengan serius menyelisik alternatif penyediaan listrik secara masif dan dalam waktu cepat yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Ingat, Indonesia bukan hanya Jawa.
Jangan pula meminggirkan opsi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Tidak ada lagi waktu tersedia untuk menunda-nunda pemanfaatan energi baru ataupun terbarukan demi menghasilkan listrik dalam skala besar.
Lagi-lagi, bangsa ini tidak bisa berharap pada pemerintah yang sekarang masih berkuasa. Pemerintah bentukan presiden terpilih mendatang, mau tidak mau, harus menyelesaikan persoalan ancaman krisis listrik dengan cepat dan tegas. Pembangunan pembangkit listrik yang pernah diinisiasi oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla layak untuk digemakan lagi.
Bila tidak, segala sendi kehidupan perekonomian nasional bakal tersendat. Berlambat-lambat hanya akan mengantarkan bangsa ini ke zaman kegelapan.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.