Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH Khofifah Indar Parawansa mengundurkan diri dari posisi menteri sosial di Kabinet Kerja untuk mengikuti kontestasi pilkada Jawa Timur, perombakan Kabinet Kerja kembali terjadi. Presiden Jokowi mengangkat politikus Golkar Idrus Marham mengisi jabatan menteri sosial.
Kita melihat perombakan Kabinet Kerja untuk yang ketiga kalinya itu bukan sesuatu yang luar biasa. Perombakan kabinet tersebut bahkan menjadi sebuah keharusan mengingat posisi menteri sosial yang lowong setelah ditinggalkan Khofifah harus segera diisi. Semua kalangan, sejak Khofifah digadang-gadang sebagai calon Gubernur Jawa Timur, sudah mafhum bahwa Presiden pasti akan melakukan reshuffle kabinet.
Yang menjadi teka-teki dan ditunggu kepastiannya ialah terkait dengan 3W, yakni who, where, dan when alias siapa yang akan menggantikan, di mana seseorang akan ditempatkan, dan kapan keputusan itu akan diambil. Kepastian mengenai 3W dalam dunia jurnalistik itu terjawab sudah.
Kita tentu menghormati sepenuhnya keputusan Presiden Jokowi untuk merombak kabinetnya. Barangkali terdengar klise bila kita katakan kembali bahwa perombakan kabinet ialah hak prerogatif presiden. Akan tetapi, betapa pun klisenya, memang demikianlah faktanya. Adalah hak prerogatif Presiden Jokowi untuk memilih, mengganti, atau tidak mengganti para pembantunya dalam pemerintahan.
Akan tetapi, setelah tiga pertanyaan itu terjawab, muncul pertanyaan baru pascaperombakan kabinet. Pertanyaan itu mengandung unsur W yang keempat dalam dunia jurnalistik, yakni why alias mengapa. Mengapa Presiden Jokowi tidak mengganti Menteri Perindustrian.
Airlangga Hartarto setelah ia terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar? Bukankah Presiden pernah menekankan bahwa dia tidak mau anggota kabinet yang dipimpinnya merangkap jabatan di partai? Tentu hanya Presiden yang tahu. Yang kita tahu, Presiden punya pertimbangan dan kalkulasi sendiri.
Masa pemerintahan yang hanya tersisa satu setengah tahun boleh jadi menjadi salah satu pertimbangan Presiden untuk mempertahankan Airlangga di kabinet. Apalagi portofolio yang dipegang Airlangga termasuk bidang strategis yang memerlukan waktu penyesuaian tersendiri jika pejabatnya diganti. Penggantian dikhawatirkan akan memengaruhi kinerja keseluruhan kabinet.
Apa pun itu pertimbangan Jokowi, kita sepenuhnya menghormati keputusan tersebut karena pada dasarnya mempertahankan atau tidak mengganti menteri juga merupakan bagian dari hak prerogatif presiden. Yang kita ingin pastikan ialah dengan perombakan kabinet ketiga ini, kinerja pemerintahan Jokowi-JK tidak terganggu.
Sebaliknya, kita berharap kinerja Kabinet Kerja semakin meningkat sehingga rakyat pun semakin yakin bahwa dukungan bagi Jokowi untuk kembali memimpin Indonesia pada periode kedua 2019-2024 bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bukan hanya mengisi jabatan menteri sosial yang kosong, Presiden juga mengisi tiga jabatan lain dalam pemerintahan yang ia pimpin. \
Presiden mengangkat Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki. Presiden juga mengangkat Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden menggantikan KH Hasyim Muzadi yang wafat.
Presiden lalu mengangkat Marsekal Madya (Marsdya) Yuyu Sutisna sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto yang belum lama ini dipromosikan sebagai Panglima TNI. Yang menarik ialah sosok Moeldoko dan Agum Gumelar. Mungkin banyak yang menilai pengangkatan keduanya bertujuan memperkuat barisan TNI atau purnawirawan TNI di sekitar Presiden untuk menghadapi Pemilu Presiden 2019.
Penilaian itu belum tentu benar karena cuma Jokowi yang tahu pertimbangan dan hitung-hitungan politiknya. Tentu sah saja penilaian seperti itu sebagaimana sah pula Presiden mengangkat mereka. Sekali lagi, itu sepenuhnya menjadi hak Presiden.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved