Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PETA rivalitas untuk pilkada serentak 2018 sudah tergambar jelas. Anggapan bahwa ia akan menjadi gambaran kontestasi Pilpres 2019 tak menjadi realitas karena ternyata koalisi yang terbentuk begitu cair. Dengan berakhirnya masa pendaftaran pasangan calon tadi malam tepat pukul 24.00, proses awal pilkada serentak 2019 pun berakhir.
Komisi Pemilihan Umum memang masih memberikan tambahan waktu tiga hari untuk pendaftaran bagi daerah yang baru punya calon tunggal. Begitu pula, KPU masih akan memverifikasi administrasi para calon, tetapi peta persaingan sudah gamblang terpampang.
Pilkada serentak di 171 daerah tingkat provisi, kabupaten, dan kota awalnya diperkirakan mengerucut menjadi dua kutub. Kutub pertama dihuni partai-partai politik propemerintah yang juga menginginkan Jokowi Widodo menjadi presiden untuk periode kedua. Adapun kutub kedua berisi partai-partai oposisi yang menghendaki pucuk pimpinan negeri ini berganti.
Dengan prediksi semacam itu, pilkada serentak 2018 awalnya dianggap pula sebagai gambaran sekaligus pemanasan Pilpres 2019. Namun, realitas politik menjungkirbalikkan semuanya. Politik lagi-lagi mempertontonkan pakemnya bahwa tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan.
Karena kepentingan, tiada lagi label partai pemerintah atau partai oposisi di pilkada kali ini. Semuanya dengan gampang menanggalkan perbedaan pandangan politik, lalu menyatu dalam satu kubu guna memenangi kontestasi. Semuanya begitu cair, tidak ada lagi faktor ideologi yang menghalangi.
Memang, pembelahan antara partai pemerintah dan partai oposisi masih kental terasa di beberapa daerah. Akan tetapi, menyatunya partai tanpa melihat beragam latar belakang juga begitu kentara. Simak saja di Sumatra Utara ketika Partai Golkar dan NasDem bergabung dengan Gerindra, PKS, dan PAN untuk mengusung Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.
Di Jawa Tengah, PKB yang merupakan partai propemerintah juga menyatu dengan Gerindra, PKS, dan PAN untuk mencalonkan Sudirman Said-Ida Fauziyah. Pun di Jawa Timur, Gerindra dan PKS sebagai partai oposisi berkolaborasi dengan PDIP dan PKB untuk menjagokan Saifullah Yusuf.
Bahkan, Pilkada 2018 mampu menyatukan partai yang selama ini diyakini tak mungkin menyatu, yakni PDIP dan Demokrat. Keduanya kini satu gerbong untuk mengusung Ganjar Pranowo-Gus Yasin di pilgub Jateng dan Karolin Margret Natasa-Suryadman Gido di pilgub Kalimantan Barat.
Mustahil disanggah kepentingan dan kekuasaan di atas segalanya bagi seluruh partai politik di pilkada tahun ini. Sulit untuk disangkal, koalisi dalam perpolitikan di negeri ini ialah persekutuan untuk menang dan berkuasa. Di satu sisi, kita prihatin karena partai politik di Indonesia belum juga beranjak dari pragmatisme.
Namun, di sisi lain, tak salah jika kita memandang fenomena itu secara positif bahwa partai politik tak tersandera oleh rivalitas tanpa batas. Mereka boleh berseteru di tingkat nasional, tapi tak ada salahnya menyatu di daerah. Dengan cairnya koalisi, kita juga layak berharap pilkada serentak 2018 tak segawat yang dikhawatirkan semula. Ketika tak ada lagi kubu-kubuan, penggunaan politik identitas sebagai senjata pun diyakini akan berkurang signifikan.
Terlebih, banyak pasangan kandidat yang merupakan kombinasi nasionalis dan santri sehingga sulit bagi kelompok tertentu memainkan isu SARA. Berkoalisi ialah bagian dari strategi untuk memenangi kompetisi. Yang terpenting, setiap pemenang harus menggunakan kekuasaan yang didulang untuk semata memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan demi mengakomodasi kepentingan anggota koalisi.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved