Keniscayaan Revolusi Mental

29/5/2014 00:00
BANYAK sudah yang menyebutkan bahwa krisis yang melanda negeri ini begitu luas cakupannya dan begitu dalam penetrasinya. Saking luas dan dalamnya sampai-sampai ada yang menyebut bangsa ini sedang menuju ke negara gagal.

Malangnya lagi, sebagian elite negeri ini masih bermental sempit dan dangkal. Banyak di antara mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai 'ujung perjalanan', dan karena itu harus diburu dengan segala cara. Hanya sebagian kecil yang memandang kekuasaan sebagai proses dan alat menciptakan kebajikan.

Kerisauan itulah yang membuat calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Partai NasDem, PKB, Partai Hanura, dan PKPI, yakni Joko Widodo, menyerukan perlunya revolusi mental. Jokowi menyebutkan bahwa percuma kita menyiapkan infrastruktur yang baik, seperti bandara yang baik, jalan tol yang baik, tapi mentalitas kita tidak baik.

''Pembangunan manusia yang benar akan menghasilkan produktivitas. Sedangkan produktivitas yang baik akan menghasilkan daya saing, karena yang akan kita hadapi kompetisi antarnegara. Maka, revolusi mental sangat penting,'' ujar Jokowi dalam sambutannya saat Rapat Kerja Nasional Partai Nasdem di Jakarta, Selasa (27/5).

Akutnya krisis yang kita hadapi meniscayakan bahwa untuk memulihkannya kita memerlukan lebih dari sekadar politik sebagaimana biasanya (politics as usual). Negeri ini butuh visi politik baru yang mempertimbangkan kenyataan bahwa krisis nasional itu berakar pada krisis moralitas.

Dengan revolusi mental, langkah bangsa ini ke depan tidak semata disandarkan pada perubahan di tingkat prosedur dan perundang-undangan. Kita membutuhkan elite yang taat azas sekaligus mampu menjadi tauladan kebajikan bagi rakyat.

Langkah tersebut amat penting karena rakyat selama ini sudah amat jenuh dijejali oleh para pemimpin plastis. Pemimpin seperti itu lebih mengedepankan citra ketimbang kerja keras untuk rakyat.

Lihatlah bagaimana banyak pejabat, termasuk wakil rakyat, misalnya, yang lebih sibuk mempermahal ruang kerja namun 'mempermurah' nilai keseriusan penyusunan rancangan undang-undang. Setiap proyek diukur dengan parameter seberapa besar ia mampu menjadi 'lumbung' untuk mengeruk uang.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar menjadi kecil karena memiliki mentalitas pemimpin yang kerdil. Padahal, mentalitas seorang pemimpin sangat penting bagi sebuah bangsa yang menginginkan perubahan. Sedangkan perubahan itu harus dimulai dari revolusi mental.

Sayangnya, proses pambangunan karakter tersebut jarang disentuh. Bangsa Indonesia yang seharusnya mengedepankan mental investment, justru mengabaikan adanya revolusi mental tersebut.

Karena itu, kita perlu keberanian untuk memperjuangkan mentalitas nasional tersebut. Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu melayani apa yang dibutuhkan rakyatnya.

Revolusi mental yang dimulai dari seorang pemimpin amat penting agar martabat bangsa tidak direndahkan oleh bangsa lain. Juga, sangat strategis untuk mendorong anak bangsa ini kian mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam kompetisi global yang kian sengit.


Berita Lainnya