Keteladanan Elite di Tahun Politik

26/12/2017 05:01

SALAH satu fungsi partai politik ialah sebagai sarana pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas. Pendidikan politik itu penting agar masyarakat menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Fungsi pendidikan politik itu yang sering diabaikan selama ini. Partai lebih gandrung bicara soal rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik. Bicara soal calon kepala daerah, calon anggota legislatif, dan calon presiden, tampaknya hal itu jauh lebih seksi bagi partai ketimbang membahas pendidikan politik.

Terus terang dikatakan bahwa sebaik-baiknya pendidikan politik yang dilakukan partai ialah keteladanan para pemimpin partai. Kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh partai berpotensi menjadi sumber krisis multidimensi yang dialami negeri ini.

Dalam konteks inilah kita mengapresiasi pernyataan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-11 Partai Hanura yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (23/12)."Kepemimpinan parpol harus memberikan teladan untuk rakyat, melakukan pendidikan politik untuk masyarakat.

Orientasi parpol harus jelas, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, memperkuat Pancasila, dan memperkukuh Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Presiden. Pemimpin parpol bisa diteladani jika kata dan perbuatannya berjalan seiring. Hanya pemimpin yang ujar dan lakunya satu itulah yang bisa menjadi anutan masyarakat.

Jangan pernah lupa, pengalaman kita berbangsa dan bernegara menunjukkan bahwa seberat apa pun persoalan yang dihadapi, semua itu bisa diatasi kekuatan karakter para pemimpinnya. Tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan persoalan yang dihadapi bangsa ini sesungguhnya bukanlah defisit sumber daya, bukan pula minimnya jumlah orang pandai, melainkan bangkrutnya keteladanan para pemimpin.

Tatkala tokoh anutan sulit ditemukan, pada saat itulah anak-anak zaman sekarang mencari keteladanan dalam sosok rekaan. Sudah saatnya pemimpin parpol menjadi anutan generasi muda, apalagi menyongsong pemilihan kepala daerah serentak tahun depan yang dilanjutkan dengan pemilihan anggota legislatif dan presiden pada 2019.

Tidak sebatas pemimpin parpol, para calon kepala daerah, calon anggota legislatif, dan calon presiden pun hendaknya menampilkan diri menjadi sosok anutan. Jika negeri ini memiliki banyak tokoh anutan, niscaya generasi muda tidak lagi mencari keteladanan dalam dunia fiksi.

Begitu juga sebaliknya, tatkala negeri ini defisit tokoh anutan, terpaksa kita menengok batu nisan para negarawan. Belumlah terlambat para pemimpin parpol untuk menjadi anutan. Tahun politik mestinya menjadi momentum emas menjadikan diri mereka sebagai tokoh politik sekaligus negarawan.

Kesempatan emas di tahun politik tidak boleh dilewatkan begitu saja. Para pemimpin partai hendaknya menjadi pelopor yang menawarkan politik gagasan dalam setiap kontestasi, bukan mencari kemenangan dengan memainkan politik identitas. Jika sebatas mencari kemenangan kontestasi dengan politik identitas, itu artinya pemimpin partai tak kunjung naik kelas menjadi negarawan.



Berita Lainnya