Politik Usang Kampanye Hitam

21/5/2014 00:00


BANGSA ini akan mencetak sejarah baru pada 9 Juli mendatang. Untuk  pertama kalinya sejak pemilihan presiden (pilpres) secara langsung digelar, kita akan memilih presiden hanya dalam satu putaran. Ada sejumlah hal positif yang bisa diraih dari pelaksanaan pilpres satu putaran, yakni lebih hemat, efisien, dan tak terlalu menyisakan 'luka politik' mendalam akibat waktu kampanye yang tidak terlalu pendek.

Namun, penghematan uang negara dan tidak adanya debat politik  berkepanjangan dari kompetisi singkat itu tetap harus diwaspadai, terutama jika kompetisi berakhir dengan selisih suara yang tipis. Ia akan menjadi 'bola liar' karena bisa memicu gugatan berkepanjangan.Lihat saja yang terjadi di pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) di Kerinci dan Bali. Pada pemilu kada yang digelar tahun lalu itu, selisih suara di Kerinci hanya 1.067 suara, sedangkan di Bali bahkan kurang dari 1.000 suara.

Jumlah suara yang hanya terpaut kecil rawan dijadikan polemik oleh pihak yang kalah. Tentunya hal itu sangat tidak diharapkan terjadi di Juli nanti.Tipis ataupun telak, kemenangan dan kekalahan harus diakui dan dihormati. Sikap itu tentunya harus ada, baik pada setiap pasangan calon presiden maupun para pendukung mereka.Mempermainkan bola liar hasil pemilu hanya akan membuat tujuan besar demokrasi menjadi mandek. Alih-alih segera menjalankan program-program  pembangunan, bangsa ini malah jalan di tempat.
Rakyat pun kembali akan disuguhi perdebatan politik yang panjang, bukan sikap kesatria para pemimpin yang saling berangkul untuk kemajuan.

Di sisi lain, hasil ketat pemilu satu putaran menunjukkan begitu berartinya setiap suara. Satu suara saja dapat membuat perubahan pada masa depan bangsa ini.Sebab itu, bukan sekadar berpartisipasi, masyarakat harus memilih sesuai dengan hati nurani. Jangan tergiur oleh politik uang. Justru kinilah saatnya untuk membenci setiap upaya meraup suara dengan politik uang dan cara-cara curang lainnya, termasuk kampanye hitam.Politik uang dan kampanye hitam harus dilihat sebagai strategi malas dan culas. Dengan jumlah kandidat yang lebih langsing, peserta pilpres kali ini mestinya bukan pusing menelikung apa yang dilakukan lawan.

Ibarat perlombaan lari, hadangan sudah datang dari arah yang sama, yakni panjangnya jarak yang harus ditempuh. Sebab itu pula, tidak ada pelari yang berupaya menang dengan menjegal kaki lawan. Yang perlu dilakukan hanyalah fokus pada kecakapan dan kekuatan sendiri untuk mencapai finis secepat mungkin.Dalam pemilu ini kecakapan dan kekuatan itu tentunya ialah komitmen dan program yang jelas untuk membawa bangsa ini pada kebangkitan. Bukan sekadar janji-janji, apalagi kebohongan untuk menutupi kelemahan sendiri dan menciptakan borok bagi orang lain.Namun, ketika pertandingan bersih dan santun masih langka di negeri ini, sudah saatnya rakyat yang 'menciptakan' garis finis itu sendiri. Saatnya kita membuat garis tegas dan mengatakan tidak kepada politik uang dan kampanye hitam. Hanya mereka yang menawarkan solusi yang pantas menjadi pemimpin bangsa ini.


Berita Lainnya