Kompetisi Sehat Pemilihan Presiden

20/5/2014 00:00
TEKA-TEKI soal siapa yang akan memimpin Indonesia lima tahun mendatang terjawab sudah. Kemarin, dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden mendeklarasikan diri di tempat yang terpisah.

Pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla yang diusung PDIP, NasDem, PKB, dan Hanura mendeklarasikan diri di Gedung Joang, Jakarta. Sementara itu, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Gerindra, PAN, PPP, dan PKS serta didukung PBB dan Golkar, memilih Rumah Polonia, Jakarta Timur, sebagai tempat deklarasi.

Dengan demikian, Pemilihan Presiden 2014 dipastikan berlangsung satu putaran karena hanya diikuti dua pasangan. Fakta hanya muncul dua poros tersebut patut kita sambut gembira.

Secara teknis prosedural pilpres satu putaran jelas lebih mudah, efisien waktu, dan berbiaya murah. Mudah karena dua pasang calon jelas lebih gampang dikenali. Dalam hal waktu, pemilihan juga lebih singkat sehingga lebih efisien dan lebih murah.

Negara bisa berhemat lebih dari Rp2 triliun biaya untuk putaran kedua. Selain itu, perdebatan sengit terbuka juga tidak terlalu membawa 'luka politik' karena kampanye yang singkat.

Rekonsiliasi partai dan elemen bangsa pun juga bisa lebih cepat. Bagi pemerintah yang masih memiliki sisa ker ja kurang dari lima bulan, pilpres satu putaran bisa membuat mereka jauh lebih fokus menyelesaikan permasalahan bangsa karena tidak lagi terpecahkan oleh ke pentingan politik seperti kampanye. Pilpres dengan dua kontestan juga memudahkan bagi pemilih. Rakyat bisa lebih mendalami, mengamati rekam jejak, dan menentukan pilihan secara detail ihwal sosok calon pemimpin serta program apa saja yang mereka ajukan.

Para calon pun akan makin maksimal menawarkan gagasan-gagasan terbaik agar bisa 'mencuri' perhatian pemilih, lalu menjatuhkan pilihan kepada pengusung program terbaik. Kompetisi pun dipastikan akan lebih sengit dan dinamis.

Namun, sesengit apa pun, kita mengingatkan bahwa di atas segalanya kepentingan bangsa ialah yang utama. Karena itu, berkompetisilah secara fair, sehat, dan santun.

Jangan ada lagi usaha menjatuhkan lawan dengan 'kampanye hitam' yang mendiskreditkan dan penuh dengan fitnah. Silakan mengkritisi program dan rekam jejak lawan hingga yang sengit sekalipun, asal itu merupakan fakta dan berbasiskan argumentasi yang logis.

Siapa pun yang memenangi kontestasi dan kompetisi pilpres 9 Juli nanti pada hakikatnya ialah pemimpin bangsa hingga lima tahun ke depan. Karena itu, jadilah calon pemimpin untuk semua, bukan hanya pemimpin individu dan kelompok.

Untuk pasangan yang kalah, bukan berarti kerja politik sepenuhnya berakhir. Masih ada medan perjuangan yang tak kalah mulia dalam demokrasi, yakni menjadi oposisi atau penyeimbang pemerintah.

Tradisi baik menjadi penyeimbang yang dalam lima tahun terakhir dimainkan PDIP dan Gerindra amat patut untuk dilestarikan. Ia akan menjadi watchdog yang penting agar pemerintah pemenang pemilu tidak keluar dari rel yang lurus.

Lebih dari 240 juta rakyat Indonesia sangat rindu akan perubahan. Mereka ingin melihat Tanah Air yang mereka tempati mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Siapa pun yang memenangi pilpres pada hakikatnya ialah pemimpin untuk semua, bukan hanya untuk individu dan kelompok.


Berita Lainnya