Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADAKAH kata yang tepat selain 'biadab' untuk menggambarkan perbuatan orang yang menyerang orang lain yang baru selesai salat di masjid?
Tak peduli simbol agama apa yang diusung pelaku. Tak peduli motif dan tujuan pelaku. Tak peduli pula apakah korban polisi atau orang biasa. Sekali lagi, itu perbuatan yang jauh, sangat jauh, dari kata berperikemanusiaan dan beradab.
Kebiadaban itu terjadi tadi malam. Dua lelaki menikam dua polisi yang baru selesai menunaikan ibadah salat Isya di Masjid Bhayangkara, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Jakarta.
Serangan tersebut jelas lebih brutal dan biadab jika dibandingkan dengan serangan sebelumnya terhadap polisi yang sedang berjaga di Markas Polda Sumatra Utara persis di perayaan Idul Fitri, Minggu (25/7). Bayangkan, para pelaku melancarkan serangan di rumah Tuhan terhadap orang yang baru selesai menjalankan perintah Tuhan.
Agama mana pun pasti mengutuk perbuatan seperti itu. Celakanya, para pelaku mengatasnamakan agama untuk melancarkan aksi itu. Para pelaku meneriakkan beberapa simbol agama ketika melancarkan aksi mereka. Mereka jelas cuma membajak agama.
Serangan tadi malam merupakan bagian dari rangkaian teror terhadap polisi. Polri selama ini gigih memberantas terorisme. Para teroris berbalik menganggap polisi musuh yang harus diserang balik. Polisi menjadi target serangan teroris.
Tujuannya apa lagi kalau bukan mempermalukan Polri, terlebih ketika Polri merayakan Hari Bhayangkara hari ini. Para teroris itu hendak menunjukkan eksistensi mereka, sukses menembus jantung Polri. Mereka berhasil menyerang polisi di markas sendiri.
Oleh karena itu, Polri harus menganggap serius serangan teror tersebut. Tingkatkan kewaspadaan, apa pun taruhannya, karena teror bisa datang kapan saja. Teror tadi malam, misalnya, dilakukan dua teroris yang menunaikan salat bersama-sama dua polisi yang menjadi korban serangan.
Berulang kali kita katakan bahwa Polri harus mampu melindungi diri dari serangan teror. Bila gagal melindungi diri sendiri, bagaimana Polri bisa melindungi rakyat dari serangan teror.
Rakyat menaruh kepercayaan besar kepada Polri untuk memberantas terorisme untuk menghindarkan rakyat dari terorisme tersebut. Rangkaian teror terhadap polisi boleh jadi mencederai kepercayaan rakyat. Kepercayaan rakyat dikhawatirkan berubah menjadi ketakutan.
Pudarnya kepercayaan rakyat terhadap Polri dan berubahnya kepercayaan itu menjadi ketakutan merupakan tujuan lain serangan terhadap polisi. Oleh karena itu, sekali lagi, Polri harus mampu melindungi diri dari serangan teror demi memulihkan kepercayaan rakyat.
Selain melindungi diri, Polri pantang surut, apalagi takluk melawan segala bentuk terorisme. Polri harus melawan segala bentuk teror. Rakyat berada di sisi Polri dalam perang melawan terorisme.
Kita pun tak bosan mendesak para pemangku kepentingan untuk memberi amunisi kepada Polri untuk secara lebih proaktif memberantas terorisme. Amunisi baru itu ialah revisi undang-undang antiterorisme yang memberi dasar hukum kepada Polri untuk proaktif bertindak sebelum para teroris melancarkan aksi mereka. Tindakan proaktif itu tentu harus tetap memperhatikan hak asasi manusia.
Banyak pelaku sebetulnya memiliki indikasi dan potensi kuat akan melancarkan serangan teror. Mereka, misalnya, pernah ke Suriah untuk berperang bersama Islamic State atau pernah mengikuti latihan perang.
Namun, ketiadaan perangkat hukum membuat Polri tak leluasa menindak mereka. Kita sekali lagi mendorong DPR dan pemerintah segera mengesahkan Undang-Undang Antiterorisme yang baru yang memberi kewenangan kepada Polri menindak mereka yang terindikasi dan berpotensi melancarkan teror demi mencegah jatuhnya korban di kalangan aparat dan rakyat.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved