Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PROTES publik terhadap tabiat pelesiran para anggota DPR yang berkedok studi banding sepertinya sewujud dengan kaset usang. Berulang kali diputar dan diutarakan, tapi tak didengar dan tak kunjung ditunaikan. Anggota dewan seperti masa bodoh dengan kehebohan rakyat yang mempersoalkan studi banding mereka. Sudah tak terhitung kecaman kepada anggota DPR terkait dengan kunjungan ke mancanegara yang tak ubahnya pelesiran tersebut.
Mereka tetap saja ke luar negeri, malah menggunakan anggaran negara untuk keperluan yang efektivitasnya diragukan. Sebanyak 30 anggota DPR melakukan studi banding ke Jerman dan Meksiko sejak minggu lalu. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mengestimasikan uang rakyat yang harus dirogoh untuk membiayai mereka selama enam hari di mancanegara mencapai Rp8 miliar.
Padahal, ada banyak cara lebih efektif dan efisien yang bisa dilakukan anggota DPR untuk menimba informasi dari luar negeri seperti menggunakan informasi elektronik, lewat korespondensi atau teleconference. Rasanya sulit berharap DPR memenuhi harapan publik mengefisienkan anggaran negara. Pasalnya, mereka justru memilih untuk makin gencar memunculkan alasan-alasan untuk memenuhi libido pelesiran mereka.
Menjadi makin konyol karena Pansus RUU Pemilu ingin belajar mengenai penerapan e-voting ke Jerman yang justru kini menghentikan penggunaan metode itu. Begitu pun alasan untuk belajar sistem pemilu karena Jerman menggunakan sistem pemilu campuran, yakni distrik dan proporsional. Jelas itu berbeda dengan Indonesia yang menganut sistem proporsional terbuka.
Studi banding anggota dewan kali ini, sebagaimana sebelum-sebelumnya, percuma saja. Bukan periode ini saja, sejak dulu kekonyolan dalam studi banding anggota DPR juga terlihat. Tentu tidak pernah lepas dari ingatan publik, DPR merasa perlu melakukan studi banding ke Turki dan Denmark hanya untuk mempelajari perubahan logo Palang Merah. Juga DPR merasa perlu ke Brasil tatkala membahas RUU Desa.
Pernah pula DPR ke Afrika Selatan untuk belajar Pramuka. Apalagi, DPR bertandang Yunani untuk belajar etika. Kala itu Yunani yang dinyatakan sebagai negara bangkrut justru dijadikan pedoman untuk belajar etika berdemokrasi dan bersidang. Juga kisah fenomenal sejumlah pemimpin DPR yang mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Mereka menjadi peserta Konferensi Ketua Parlemen Dunia Ke-4 di New York.
Namun, Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon justru menyempatkan hadir dalam acara konferensi pers yang diadakan calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump. Mestinya para anggota Pansus RUU Penyelenggaraan Pemilu itu lebih memfokuskan untuk merampungkan pembahasan. Masih banyak polemik klausul dalam rancangan UU yang memuat 543 pasal tersebut.
Belum lagi, anggota pansus yang mayoritas anggota Komisi II tersebut punya tugas mendesak untuk menggelar uji kelayakan dan kepatutan komisioner Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu yang tinggal sebulan. Tidak ada transparansi dalam bentuk laporan pertanggungjawaban yang dipublikasikan ketika mereka kembali dari luar negeri.
Transparansi itu yang mestinya tidak saja menyangkut hasil kunjungan, tetapi rencana kunjungan yang meliputi tujuan, program kerja/agenda, biaya perjalanan, dan hasil-hasil yang ingin dicapai. Bila katup transparansi tidak juga dibuka DPR, menjadi wajar sekiranya publik menggugat efektivitasnya.
Tidaklah berlebihan pula sekiranya kunjungan kerja ke luar untuk sementara dihentikan dan dananya dialihkan untuk kepentingan yang lebih mendesak. Mengkritisi kinerja DPR termasuk menyerukan studi banding disetop bukan karena kita hendak membatasi kiprah politikus Senayan. Rakyat sudah jengah dengan tabiat negatif yang kini melekat pada anggota DPR yang berimbas pada citra sebagai lembaga sebagai lembaga tukang pelesir.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved