BANDAR udara merupakan salah satu akomodasi penting yang dimiliki suatu negara. Ia ibarat gerbang masuk udara yang menghubungkan dengan dunia luar, antarpulau, juga antarbenua.
Sebagai sebuah gerbang, tidak berlebihan bila bandara kerap disebut sebagai etalase bagi sebuah negara. Oleh karena itu, banyak negara bertarung mempercantik bandara mereka. Namun, justru di pintu gerbang itulah negeri ini kedodoran. Kondisi Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi bandara internasional terbesar di Indonesia ibarat mobil yang sangat sarat beban.
Baru-baru ini Airports Council International memasukkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai bandara paling sibuk di dunia. Bandara yang ada di Cengkareng tersebut berada di urutan kesepuluh tersibuk dengan jumlah lalu lintas penumpang lebih dari 29 juta orang.
Sayangnya, kepadatan dan kesibukan bandara tidak dibarengi dengan infrastruktur yang memadai. Landasan pacu terbatas, hanya dua. Ruang tunggu pun tak cukup menampung membeludaknya penumpang. Belum lagi interkoneksi dengan angkutan di darat melalui kereta yang bebas macet, juga baru tahap pembangunan awal.
Keberangkatan pesawat-pesawat terbang pun sering kali tertunda karena sesaknya bandara. Tak sedikit penumpang yang gagal terbang karena terlambat setelah bertarung dengan kemacetan Jakarta.
Sebagai solusi, dibukalah Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur untuk menampung sebagian rute penerbangan. Mulai hari ini, Bandara Halim pun melayani penerbangan komersial. Langkah tersebut patut diapresiasi. Itulah solusi cepat mengatasi keadaan darurat bandara.
Namun, bukan berarti masalah selesai. Bandara Halim belum layak menjadi pendukung Bandara Soekarno-Hatta karena kapasitasnya minim. Penerbangan komersial harus bersaing dengan penerbangan VIP dan latihan militer.
Tentu saja penerbangan komersial yang harus mengalah. Artinya, penundaan penerbangan pasti tidak terelakkan. Ujung-ujungnya publik kembali menjadi korban. Maka, solusi jangka panjang yang benar-benar bisa diwujudkan harus disiapkan, bukan sekadar rencana di atas kertas.
Pertumbuhan penumpang transportasi udara seharusnya bisa diprediksi sejak lama seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Semakin tinggi daya beli, semakin banyak pula masyarakat yang mampu bepergian menggunakan pesawat. Semakin banyak manusia yang lahir, kebutuhan transportasi pasti meningkat. Maka, menambah bandara berkapasitas internasional, atau memperluas bandara yang ada, mesti segera dikerjakan.
Kita perlu pemimpin yang memiliki visi panjang dengan cara pandang antisipatif, bukan reaktif. Itu yang belum terlihat di diri para pengurus negeri sekarang ini. Untuk mengurus secara strategis satu persoalan, dari begitu banyak persoalan, yakni persoalan bandara, mereka pun tak kuasa.
Mental mereka masih bergaya pemadam kebakaran. Begitu ada persoalan, baru aktif bergerak memadamkan. Namun, saat api padam, mereka memilih diam, tidak mencari solusi-solusi alternatif yang strategis.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.