Solusi Permanen untuk Bandara

10/1/2014 00:00
BANDAR udara merupakan salah satu akomodasi penting yang dimiliki suatu negara. Ia ibarat gerbang masuk udara yang menghubungkan dengan dunia luar, antarpulau, juga antarbenua.

Sebagai sebuah gerbang, tidak berlebihan bila bandara kerap disebut sebagai etalase bagi sebuah negara. Oleh karena itu, banyak negara bertarung mempercantik bandara mereka. Namun, justru di pintu gerbang itulah negeri ini kedodoran. Kondisi Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi bandara internasional terbesar di Indonesia ibarat mobil yang sangat sarat beban.

Baru-baru ini Airports Council International memasukkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai bandara paling sibuk di dunia. Bandara yang ada di Cengkareng tersebut berada di urutan kesepuluh tersibuk dengan jumlah lalu lintas penumpang lebih dari 29 juta orang.

Sayangnya, kepadatan dan kesibukan bandara tidak dibarengi dengan infrastruktur yang memadai. Landasan pacu terbatas, hanya dua. Ruang tunggu pun tak cukup menampung membeludaknya penumpang. Belum lagi interkoneksi dengan angkutan di darat melalui kereta yang bebas macet, juga baru tahap pembangunan awal.

Keberangkatan pesawat-pesawat terbang pun sering kali tertunda karena sesaknya bandara. Tak sedikit penumpang yang gagal terbang karena terlambat setelah bertarung dengan kemacetan Jakarta.

Sebagai solusi, dibukalah Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur untuk menampung sebagian rute penerbangan. Mulai hari ini, Bandara Halim pun melayani penerbangan komersial. Langkah tersebut patut diapresiasi. Itulah solusi cepat mengatasi keadaan darurat bandara.

Namun, bukan berarti masalah selesai. Bandara Halim belum layak menjadi pendukung Bandara Soekarno-Hatta karena kapasitasnya minim. Penerbangan komersial harus bersaing dengan penerbangan VIP dan latihan militer.

Tentu saja penerbangan komersial yang harus mengalah. Artinya, penundaan penerbangan pasti tidak terelakkan. Ujung-ujungnya publik kembali menjadi korban. Maka, solusi jangka panjang yang benar-benar bisa diwujudkan harus disiapkan, bukan sekadar rencana di atas kertas.

Pertumbuhan penumpang transportasi udara seharusnya bisa diprediksi sejak lama seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Semakin tinggi daya beli, semakin banyak pula masyarakat yang mampu bepergian menggunakan pesawat. Semakin banyak manusia yang lahir, kebutuhan transportasi pasti meningkat. Maka, menambah bandara berkapasitas internasional, atau memperluas bandara yang ada, mesti segera dikerjakan.

Kita perlu pemimpin yang memiliki visi panjang dengan cara pandang antisipatif, bukan reaktif. Itu yang belum terlihat di diri para pengurus negeri sekarang ini. Untuk mengurus secara strategis satu persoalan, dari begitu banyak persoalan, yakni persoalan bandara, mereka pun tak kuasa.

Mental mereka masih bergaya pemadam kebakaran. Begitu ada persoalan, baru aktif bergerak memadamkan. Namun, saat api padam, mereka memilih diam, tidak mencari solusi-solusi alternatif yang strategis.


Berita Lainnya