Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Salah satu faktor yang membentuk kepribadian seseorang di masa dewasa adalah pengalaman masa kecil mereka. Hal ini sering disebut dengan inner child.
Pengalaman masa kecil, baik itu yang menyenangkan ataupun tidak akan memberikan dampak pada seseorang ketika mereka tumbuh dewasa.
“ Inner child itu adalah sosok kecil atau sosok diri kita di masa kecil yang menyimpan segala memori. Baik itu memori yang menyenangkan, maupun memori yang tidak menyenangkan," ujar Jenyffer, M.Psi seorang Psikolog Klinis, dalam acara Webinar “Good Talk Series” oleh Good Doctor dan LSPR, seperti dilansir medcom.id, Minggu (31/10).
Jenyffer menambahkan, hidup ada up and down. Jadi tidak mungkin kita hidup mengalami hal yang menyenangkan terus. Memori di masa kecil, baik yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan itu terekam dalam inner child.
“Diri kita saat ini sangat bisa dipengaruhi oleh masa lalu kita. Kalau misalnya inner child kita ada yang wounded atau terluka, tidak apa-apa untuk mengenali sisi kecil dalam diri kita itu seperti apa. Tujuannya untuk berdamai dengan masa lalu, mengatasi trauma yang dirasakan. Tujuan kita mengenal inner child adalah belajar untuk mengenal diri kita sendiri juga,” jelas Jenyffer.
Meskipun demikian, menurut Jenyffer seperti apapun itu sosok kecil di dalam diri kita, itu adalah diri kita sendiri. Tapi perlu dipahami juga, sosok kecil dalam diri kita itu mungkin masih powerless.
"Kita tidak punya kekuatan, kita tidak punya suara. Kita ngomong apa tidak ada yang mendengar, kita tidak bisa melawan kalau ada ketidakadilan,” ujar Jenyffer.
“Tapi saat ini kita sudah dewasa dan punya kekuatan. Maka dari itu yang perlu kita lakukan adalah kita mencoba untuk re-parenting diri kita. Mencoba untuk mengasuh diri kita yang masih kecil itu. Kalau misalnya kita mau jadi orang tua, kita mau jadi orang tua seperti apa sih? Bagaimana sih kita mau mendekati sosok kecil dalam diri kita seperti apa?,” jelas Jenyffer.
Dari sosok inner child itulah yang membentuk diri kita sekarang. Meskipun memang, trauma yang dialami saat kecil tidak boleh dijadikan sebagai pembenaran.
“Oh inner child kita terluka makanya aku unstable jadi emosian, tidak boleh seperti itu. Kamu sudah dewasa, kamu sudah punya kekuatan untuk memilih hidupmu mau dibawa kemana dan kamu punya kekuatan untuk menjadi orang yang seperti apa. Jadi keputusan ada di tangan kamu, mau ke jalan yang mana,” tutup Jenyffer. (M-4)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved