Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA pandemi, tidak sedikit gerakan sosial yang tumbuh di masyarakat. Gerakan itu tidak hanya dilakukan pesohor melainkan juga orang biasa, bahkan yang sebenarnya juga terdampak pandemi.
Salah satunya seorang driver ojek online di Bandung yang tertangkap kamera melepaskan pakaian yang dia kenakan untuk diberikan kepada seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang saat itu tidak memakai celana beberapa hari lalu, seperti dikutip dari akun instagram @bandung.banget, Jumat(6/8).
Banyak pula orang yang mengatakan jika berbuat baik atau beramal menimbulkan rasa ketagihan. Rasa ikut berbahagia mendorong orang terus beramal dan justru merasa semakin lapang meski harus menyisihkan sebagian hartanya.
Tentu saja berbuat baik tidak mesti lewat materi. Kebaikan melalui perilaku, bahkan sekadar senyum atau bersabar juga bisa berdampak besar.
Nyatanya pula, manfaat dari berbuat baik bukan hanya dinyatakan dari nasihat orang tua maupun ajaran agama, melainkan memang sudah dibuktikan manfaatnya secara ilmiah. Berikut beberapa manfaat dari berbuat baik yang sudah ditunjukkan oleh studi para ilmuwan:
1. Mengobati depresi
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari York University Ontario, Amerika Serikat, menunjukkan jika berbuat baik akan sangat bermanfaat untuk mengobati depresi pada orang yang tempramental. Studi yang telah diterbitkan di jurnal Translational Issues in Psychological Science itu mengungkapkan jika orang yang tempramental cenderung dikucilkan atau dihindari orang lain. Hal itu akan membuat orang yang tempramental menderita stress atau depresi.
Dilansir news.yorku.ca, Tim peneliti kemudian mengumpukan lebih dari 600 orang tempramental yang menderita depresi ringan. Mereka diminta untuk berbuat atau bersikap baik pada orang-orang di lingkungan dekat mereka. Hasilnya, setelah dua bulan, orang-orang yang mengikuti anjuran peneliti, melaporkan perubahan positif dalam hidup mereka. Mereka merasa depresinya berkurang dan lebih bahagia.
Myriam Mongrain, ketua penelitian itu yang juga merupakan seorang profesor bidang psikologis mengungkapkan jika pada dasarnya manusia membutuhkan orang lain. Sifat temperamental membuat orang dijauhi orang lain, sementara berbuat baik akan membuat mereka diterima lingkungannya dan akhirnya membuat mereka merasa senang.
2. Memperpanjang umur
Penelitian lain menemukan bahwa orang yang berusia 55 tahun ke atas yang menjadi sukarelawan untuk dua atau lebih organisasi memiliki kemungkinan lebih panjang umur. Dalam pengamatan selama lima tahun, orang-orang itu memiliki potensi meninggal lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak menjadi sukarelawan, bahkan ketika memperhitungkan banyak faktor lain termasuk usia, olahraga, kesehatan umum dan kebiasaan negatif seperti merokok.
Penelitian juga menemukan bahwa orang yang lebih tua menjadi sukarelawan setidaknya 200 jam setahun menurunkan risiko hipertensi hingga 40 persen. Ini mungkin karena mereka diberi lebih banyak kesempatan sosial, yang membantu menghilangkan kesepian dan stres yang sering menyertainya.
3. Kebaikan itu menular
Tindakan kebaikan juga dapat menular. Studi menemukan jika orang lebih cenderung melakukan tindakan kemurahan hati setelah mengamati orang lain yang melakukan hal yang sama.
Selama perilaku memberi hadiah, manusia mengeluarkan hormon di otak yang memberikan perasaan senang, contohnya seperti serotonin (hormon yang memediasi suasana hati), dopamin (hormon yang membuat perasaan senang) dan oksitosin (hormon kasih sayang dan ikatan). (M-1)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved