Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Berkebun tanaman hias konon dapat membuat orang merasa lebih bahagia dan sehat. Mengapa?
Fakta ini dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti dari Royal Horticultutal Society (RHS) di Inggris dalam riset terbaru tentang korelasi antara berkebun dengan tingkat stres masyarakat.
Dalam penelitian unik ini, para peneliti merekrut 42 warga yang tinggal di kawasan masyarakat berpendapatan rendah, di Salford, Greater Manchester, Inggris.
Para relawan tersebut diminta untuk menanam beberapa jenis tanaman yang telah disediakan oleh pihak RHS yaitu sebuah bibit pohon, bibit semak rambat, serta bunga hias seperti azalea, clematis, dan lavender, kemudian tanaman umbi-umbian, untuk mengisi dua wadah tanam yang telah dirancang agar dapat mengairi tanaman secara mandiri. Tanaman-tanaman itu lalu ditempatkan di pekarangan rumah para relawan.
Para warga (relawan) ini tidak diharuskan untuk merawat tanaman mereka secara intens. Namun, mereka didorong untuk ambil bagian dalam kegiatan berkebun ini dengan bantuan dari penasihat Royal Horticultural Society.
Dalam setiap sesi monitoring, tim peneliti dari RHS biasanya akan mengukur terlebih dahulu tingkat hormon kortisol dari setiap relawan baik sebelum maupun sesudah kegiatan berkebun rutin dilakukan.
Peneliti menemukan perubahan pola kortisol yang lebih sehat dari warga yang mengikuti kegiatan berkebun tersebut selama setahun. Sebelum penelitian, hanya 24 persen responden yang punya pola kortisol yang terbilang sehat. Seiring menghijaunya pekarangan warga, persentase tersebut meningkat menjadi 53 persen.
Lebih dari separuh warga yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa berkebun membantu mereka merasa lebih bahagia dan rileks. Sementara lebih dari seperempat warga lain mengungkapkan bahwa taman membantu mereka untuk lebih dekat dengan alam.
Wawancara mendalam menyimpulkan bahwa taman memotivasi orang untuk lebih banyak berkebun dan merenovasi area lain dari properti mereka. Responden juga melaporkan, bukan hanya membuat mereka merasa santai, berkebun juga memantik rasa bangga terhadap tempat tinggal mereka. Selain itu, melihat tanaman yang mereka rawat menimbulkan rasa gembira dan semangat.
"Kita sekarang membuktikan pentingnya menyertakan tanaman di kediaman kita. Data pengurangan stres yang berhasil kami himpun pun sangat mengejutkan, kami menemukan respons yang signifikan hanya dari beberapa pohon yang kami tanam bersama masyarakat," ungkap Lauriane Suyin Chalmin-Pui salah satu peneliti dari Royal Horticultural Society, seperti dilansir dari dailymail.co.uk, Selasa (6/10).
"Sekarang kita tahu bahwa pemanfaatan sepetak kecil tanah sekalipun memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan kita. Penghijauan kembali lingkungan kita sangat penting," pungkasnya mengakhiri keterangan yang ia berikan pada dailymai.co.uk.
Temuan lengkap dari para peneliti dari RHS ini pun dapat dibaca di jurnal Landscape and Urban Planning yang terbit minggu ini. (M-2)
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved