Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Terus-menerus berada di rumah selama pandemi covid-19 seringkali membuat orang lupa berolahraga, dan bahkan malah tak henti mengemil.
Ketika Anda merasa tidak sanggup lagi berlari secepat atau mengangkat beban sebanyak yang biasa Anda lakukan sebelum pandemi virus, ada baiknya memulai dari awal lagi agar kembali bugar tanpa melukai diri sendiri.
Semakin tinggi tingkat kebugaran Anda, semakin besar dampak 'kehilangan' yang akan dialami selagi Anda berhenti berolahraga.
Ajun Associate Professor Benedict Tan, yang juga kepala Departemen Kedokteran Olahraga & Latihan Rumah Sakit Umum Changi mengatakan seorang binaragawan profesional dengan banyak massa otot melihat kehilangan massa otot yang signifikan saat berhenti berlatik. "Demikian juga, pelari maraton cepat akan melaporkan bahwa daya tahan berlarinya adalah ukuran pertama yang terkena dampak," kata Tan seperti dilansir dari CNA.
Namun, selain stamina dan kekuatan otot, ada aspek lain dari kesehatan Anda yang bisa terpengaruh juga. Bila dalam 10 hari tidak berolahraga, pikiran Anda terasa kabur dan Anda mudah merasa kesal.
Dalam dua minggu tidak berolahraga, Anda akan ngos-ngosan ketika menaiki tangga. "Naik tangga bisa terasa lebih sulit setelah dua minggu (atau bahkan hanya berhari-hari) menghentikan pelatihan, kata Justin Wee, ahli fisioterapi utama di Departemen Fisioterapi Rumah Sakit Tan Tock Seng.
Itu karena VO2 max Anda turun. VO2 max adalah indeks yang mengukur seberapa efisien tubuh Anda menggunakan oksigen selama aktivitas aerobik. Semakin rendah VO2 max Anda, semakin Anda terengah-engah saat melakukan kegiatan kardiovaskular.
Dalam empat minggu kemudian tidak berolahraga, Anda akan merasa mudah lelah. Lalu setelah delapan minggu setelah tidak berolahraga, berat badan Anda bertambah.
"Sekitar enam minggu, Anda mungkin sudah melihat perubahan tubuh baik di cermin atau angka pada skala," kata Dr Hameed.
Sebuah studi tahun 2012 dalam Journal Of Strength and Conditioning Research menemukan bahwa perenang yang kompetitif, yang mengambil istirahat lima minggu dari pelatihan mereka, mengalami peningkatan lemak tubuh 12%, dan peningkatan berat badan dan lingkar pinggang.
Atlet taekwondo, yang absen selama delapan minggu dari olahraga juga menjadi gemuk. Dalam sebuah studi 2016, mereka mengalami peningkatan lemak tubuh dan penurunan massa otot.
Untuk kembali pulih, kuncinya adalah mengesampingkan ego Anda, dan mulai perlahan. Jangan berasumsi bahwa Anda masih sama fit seperti sebelum Covid.
Sebagai aturan praktis, kata Dr Tan, lanjutkan aktivitas Anda dengan intensitas, frekuensi, dan durasi yang relatif sama dengan apa yang Anda lakukan sebelumnya. Lakukan selama berminggu-minggu, semakin meningkat intensitasnya sebesar 10 persen setiap minggu," kata Tan.
Untuk mengetahui apakah titik awal Anda berlebihan, Dr Tan merekomendasikan untuk mencatat rasa sakit dan pegal setelah latihan. “Jika Anda tidak mengalami rasa sakit atau nyeri otot, kemungkinan Anda terlalu berlebihan latihan dan terlalu ambisius dengan rutinitas kebugaran Anda. Mulailah latihan dengan intensitas yang Anda merasa nyaman," saran Tan. (M-2)
BACA JUGA: Doyan Pamer Pose Yoga Tingkatkan Risiko Cedera
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved