Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JANGAN pernah anda meremehkan kekuatan dari harapan baik. Sebuah studi terbaru menunjukkan jika sikap optimis bisa memperpanjang umur anda.
Studi yang dilakukan Lewina Lee, seorang peneliti Psikososial di Boston University School of Medicine berhasil menemukan korelasi antara umur panjang seseorang dengan sifat optimis yang ia miliki.
Dalam studi itu Lee mensurvey 69.744 wanita dan 1.429 pria. Penelitian yang hasilnya telah terbit di jurnal Prosiding National Academy of Sciences, itu menemukan jika orang optimis cenderung lebih bahagia. Mereka bahkan memiliki kebiasaan yang lebih sehat seperti rutin berolahraga dan lebih sedikit kemungkinannya untuk merokok, sehingga ia memiliki potensi untuk berumur panjang.
"Banyak bukti menunjukan bahwa umur panjang yang dimiliki seseorang biasanya berkorelasi dengan kesehatan yang baik dan kondisi fisik yang tanpa cacat yang ada padanya, sehingga temuan kami meningkatkan kemungkinan menarik bahwa kita mungkin dapat mempromosikan cara mengelola optimisme dalam menjalani kehidupan untuk menghadapi penuaan yang sehat dan tangguh," terang Lewina Lee seperti dikutip oleh theladders.com.
Studi lain mengenai kesejahteraan psikologis juga mengonfirmasi tentang hal yang sama. Salah satunya adalah studi yang dilakukan oleh Dr. Catherine Hurt, seorang ahli psikologi dari University of London. Ia menyoroti pentingnya seseorang memiliki kesejahteraan psikologis daripada kesejahteraan fisik untuk menjalani hidup yang lebih panjang dan sehat.
Ia menyatakan, jika hasil riset menunjukan bahwa usia harapan hidup yang panjang dapat diupayakan dengan mendorong orang untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan berolahraga secara rutin. "Tetapi kita juga harus mempromosikan kesejahteraan psikologis dan pentingnya optimisme dalam menjalani hidup. Karena pandangan Optimis tampaknya kini telah menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat," tambah Dr. Catherine Hurt.
Orang yang optimis memiliki penjelasan yang berbeda terhadap kondisi kemalangan. Mereka akan berpikir bahwa "itu adalah suatu kondisi buruk, pilihan yang salah dan ketidak beruntungan. Itu akan berganti dengan cepat, dan ada banyak hal baik dalam hidup saya saat ini."
Mereka tidak terus memikirkan segala sesuatu yang salah dalam sisi negatifnya. Orang yang optimis cenderung melihat hambatan sebagai sesuatu yang sementara, terdapat peuang untuk hal yang baik akan terjadi di masa depan.
Di lain pihak, orang yang pesimis percaya bahwa kondisi buruk yang dialaminya tidak akan pernah berakhir. Mereka tidak bisa berhenti menakut-nakuti diri dengan rasa bersalahnya. Mereka bukan hanya tidak bahagia, mereka bahkan percaya bahwa kebahagiaan adalah suatu ilusi yang tidak nyata.
Jika Anda cenderung terlalu khawatir dengan tekanan dalam hidup Anda, maka belum terlambat untuk mengubah pola pikir anda. Cara yang paling sederhana adalah menjadi optimis dalam membayangkan diri anda sebaik mungkin. Pendekatan ini menurut The Journal of Positive Psychology disebut sebagai metode "Best Possible Self" (Kemungkinan Terbaik dalam Diri).
Anda dapat membayangkan diri anda berada di masa depan, di mana semua tujuan hidup telah tercapai dan semua masalah telah diselesaikan. Salah satu teknik yang dapat anda lakukan adalah dengan menulis tentang bayangan di masa depan dari hidup anda, di mana anda telah mencapai apa yang diinginkan dan mendeskripsikan rasa yang akan anda alaminya. Anda dapat mempraktekan metode ini dengan rutin membuat tulisan selama 10 menit dalam seminggu.
Kebiasaan lain seperti membuat jurnal "rasa terima kasih" juga dapat membantu anda fokus terhadap hal-hal baik yang terjadi dalam hidup anda. Meluangkan beberapa menit setiap hari untuk menuliskan hal-hal baik yang terjadi dalam hidup anda dapat memelihara pikiran positif anda dan menghindari diri anda memikirkan hal-hal yang negatif. (M-1)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Profesor dari Indiana University, Gabriel Filippelli, mengungkapkan bahwa terdapat bukti dengan menggunakan sepatu di dalam rumah dapat meningkatkan penyebaran kuman di rumah.
Pelayaran jarak jauh ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ujian nyata bagi kesiapan teknis kapal KRI Canopus-936 dalam menghadapi berbagai kondisi laut internasional.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved