Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Kedekatan anak dengan video gim terkadang mengkhawatirkan. Tapi bukan tanpa alasan. Berdasarkan survei terbaru The Entertaiment Software Association tahun 2018 menemukan hanya 30% pemain yang berusia di bawah 18 tahun. Artinya 70% dari pemain video gim berusia di atas 18 tahun.
Survei itu juga menemukan 64% penghuni rumah bermain video gim. Dua dari tiga orangtua bermain gim dengan anak mereka, karena berpikir mainan itu bermanfaat.
Pola pengguna video gim memang terlihat sejak awal. Di mana waktu bermain gim meningkat seiring bertambahnya usia. Menurut Survei Common Sense Media 2017 di Amerika Serikat menunjukan anak-anak di bawah 2 bukan pemain gim, anak 2-4 tahun bermain sekitar 21 menit sehari, anak-anak berusia 5-8 tahun bermain sekitar 42 menit sehari, dan anak usia 8-12 tahun berinteraksi dengan perangkat komunikasi sekitar satu jam sampai satu jam dan 20 menit per hari.
Angka itu hampir sama dengan remaja. Sebanyak 27% anak laki-laki dan 2% anak perempuan mengatakan video gim adalah kegiatan favorit. Lebih dari 80% guru menggunakan gim dan aplikasi pendidikan di sekolah pada 2015, dan meningkat saat ini.
Haruskah khawatir dengan perkembangan anak-anak? Jawabannya, tergantung. Profesor Nancy Darling dari Oberlin College menggulas tema itu dalam psychologytoday.com.
Dalam laporan Society for Research on Child Development (SRCD), disebutkan ada 2 poin utama penelitian tersebut. Pertama, efek ketergantungan pada konten pemrograman. Misalnya, ketika menonton televisi pendidikan prasekolah memiliki hubungan positif jangka panjang dengan prestasi akademik dalam bahasa Inggris, matematika, dan sains. Sebaliknya, konten kekerasan dalam televisi, meskipun menghibur, terbukti punya hubungan negatif dengan perkembangan kognitif.
Kedua, meskipun televisi tampak sebagai kegiatan soliter, pengasuhan memoderasi pengaruh menonton televisi. Orangtua memengaruhi tontonan televisi anak-anak dengan memandu pilihan konten, dan menonton bersama. Interaksi orangtua-anak akan menambah pengetahuan anak-anak.
Sebagai orangtua, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, orangtua perlu tahu jenis permainan anak. Ada banyak permainan kreatif, tapi cocok untuk dewasa.
Kedua, cara tepat agar tahu permainan yang cocok dengan anak adalah dengan memainkannya bersama orangtua. Jika orangtua bermain bersama, mereka bisa berbicara, saling beraksi, dan merespon.
Menurut Prof. Nancy Darling, poin yang disampaikan SRCD, sudah dinyatakannya bertahun-tahun lalu. Jauh sebelum penelitian ini muncul. Balita harus berinteraksi dengan dunia nyata, bukan dengan layar.
Anak kecil perlu belajar memanipulasi lingkungan mereka secara fisik. Mereka belum tahu cara menggerakkan tangan dan tubuh mereka melalui ruang. Mereka tidak tahu bagaimana hal-hal nyata berinteraksi. Video gim memberikan simulasi yang luar biasa dan luar biasa, tetapi dapat diprediksi. Dunia nyata memungkinkan anak terlibat dalam lebih banyak interaksi tak terduga. Setiap interaksi adalah pengalaman belajar.
Kembali ke pertanyaan, jadi haruskah kita membiarkan anak-anak bermain video gim?
Ketika usianya di atas 5 tahun dan gim tersebut sesuai dengan peruntukan usia. Bermainlah dengan anak-anak. Nikmati permainan itu.
Jika mereka masih belum 5 tahun, sebaiknya hindari gim. Banyak hal lain yang lebih bermanfaat. (M-3)
Baca juga: Wrangler bakal Boyong True Wanderer 2019 ke Amerika
https://mediaindonesia.com/read/detail/234088-wrangler-bakal-boyong-true-wanderer-2019-ke-amerika
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved