Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Menjaga rumah selalu bersih rupanya bukan hanya baik bagi penampilan rumah, tetapi akan membuat Anda merasa lebih baik. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa menjaga rumah tetap rapi memiliki efek positif pada produktivitas dan pembelajaran anak-anak.
Sebuah studi tahun 2001 yang dilakukan The University of Michigan yang diikuti anak-anak dari usia sekolah hingga dewasa menemukan bahwa anak-anak yang rumahnya dinilai bersih, jauh lebih mungkin untuk berhasil di sekolah dan mendapatkan lebih banyak uang di masa dewasa.
"Hal itu karena menjaga rumah yang bersih dan teratur mencerminkan kemampuan dan keinginan keseluruhan untuk menjaga ketertiban dalam berbagai kegiatan kehidupan," tulis Rachel Dunifon, yang dilansir dari upworthy.com.
Baru-baru ini, penelitian dari Princeton dan UCLA telah memberikan bukti bahwa kekacauan di rumah adalah penghalang ketika harus menjalani kehidupan terbaik. Karena otak kita hanya dapat fokus pada begitu banyak informasi sekaligus, kehadiran kekacauan di rumah dapat menarik fokus, yang mengarah pada gangguan dan stres. Dan itu berlaku ganda untuk anak-anak, yang baru belajar untuk fokus.
"Area otak yang bertanggung jawab untuk organisasi, perencanaan, dan memori kerja, tidak menjadi sepenuhnya terkonsolidasi hingga sekitar usia 25," jelas Merriam Sarcia Saunders, seorang psikoterapis dan ahli dalam perawatan ADHD.
Ia melanjutkan, dengan begitu anak-anak tidak memiliki akses siap untuk kemampuan berorganisasi. Mereka harus melihat orang dewasa dalam hidup mereka untuk membentuk kemampuan itu dan mengajarkan keterampilan itu sampai anak dapat mulai menggeneralisasi mereka ke dalam rutinitas sehari-hari mereka.
Sebaliknya, lingkungan yang tidak teratur dengan kekacauan yang berserakan bisa sangat menstimulasi anak. Ini bisa membuat anak sulit berkonsentrasi, tidur nyenyak, atau bahkan tertidur di malam hari. Dan jika seorang anak tinggal di rumah yang tidak teratur sehingga mereka tidak dapat menemukan barang-barang mereka, mereka mungkin merasa tersesat dan tidak pada tempatnya dalam skala yang lebih besar.
"Contohnya akan adanya ketidak mampuan untuk menemukan hal-hal yang diperlukan seperti kaus kaki yang serasi, pakaian bersih, sepatu kedua itu, mainan yang dihargai atau mungkin dokumen penting seperti pekerjaan rumah dan slip izin, dapat meningkatkan hormon stres ke tingkat kronis," kata Saunders.
Paling tidak katanya, pada akhirnya dapat menyebabkan seorang anak berhenti berusaha karena mereka tidak pernah dapat menemukan apa yang mereka butuhkan. Hal pertama yang perlu dilakukan, yang kemudian bisa menjadi tips bagi orangtua di rumah adalah menurunkan harapan sedikit saja karena banyak anak-anak cenderung tidak tahu apa artinya membersihkan kamar mereka.
Mulailah dengan bekerja bersama anak-anak untuk mengatur mainan mereka di nampan plastik bening atau taruh pakaian di keranjang. Anak-anak dapat melihat ke mana barang-barang mereka seharusnya disimpan. Jika anak-anak Anda masih kecil, pertimbangkan untuk memberi label pada masing-masing tempat sampah dan keranjang dengan gambar. Dan pertimbangkan menyingkirkan hal-hal yang mungkin tidak disukai atau jarang digunakan anak Anda. Lebih sedikit mainan tidak berarti lebih sedikit kreativitas!
"Hari berikutnya, atur ruangan itu lagi, dan kali ini minta anakmu untuk menyimpan dua barang. Tambahkan satu hal setiap hari, ingatlah untuk memuji, sampai tugas itu tidak lagi terasa berat," imbuhnya.
Ini akan memberi anak-anak rasa prestasi dan kebanggaan. Dan itu cara yang bagus untuk mengajar mereka bahwa mereka juga memiliki kendali atas beberapa hal. (M-2)
BACA JUGA: Ibu Perokok Lahirkan Anak Mandul
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved