Penggunaan AI Pribadi Dorong Kepercayaan Pekerja Berpengetahuan

Media Indonesia
24/4/2026 18:29
Penggunaan AI Pribadi Dorong Kepercayaan Pekerja Berpengetahuan
Ilustrasi.(Freepik)

KEPERCAYAAN  knowledge workers atau profesional yang mengandalkan pengetahuan dan analisis dalam pekerjaannya di Indonesia terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan profesional ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi mereka dibandingkan instruksi perusahaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi kini bergerak dari bawah ke atas (bottom-up).

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov untuk Salesforce terhadap 1.002 pekerja berpengetahuan di Indonesia, sebanyak 68% responden menyatakan bahwa penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari meningkatkan kepercayaan mereka untuk mengaplikasikan alat serupa di pekerjaan. Bahkan, 70% pekerja mengaku merasa lebih percaya diri menggunakan AI di kantor setelah terbiasa menggunakannya secara personal.

Kesenjangan Keterampilan dan Risiko Shadow AI

Meskipun antusiasme pekerja sangat tinggi--dengan kurang dari 3% yang tidak berencana menggunakan agen AI--terdapat tantangan besar berupa kesenjangan keterampilan. Riset tersebut mengungkap fakta-fakta krusial berikut:

Indikator Persentase
Pekerja yang ingin memahami keterampilan AI baru 37%
Pekerja yang menerima pelatihan AI dari perusahaan 33%

Minimnya pelatihan resmi ini memicu risiko munculnya Shadow AI, yaitu penggunaan alat AI yang tidak disetujui atau di luar pengawasan organisasi. Hal ini berpotensi menimbulkan kerentanan keamanan serius, seperti kebocoran data sensitif dan ketidakakuratan informasi akibat kurangnya pemahaman terhadap prompt engineering.

Peringatan Keamanan: Perusahaan yang tidak menyediakan solusi AI tingkat perusahaan (enterprise-grade) berisiko menghadapi masalah kepatuhan dan validitas data jika karyawan menggunakan alat AI publik secara sembunyi-sembunyi.

Menuju Agentic Enterprise

Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, menekankan bahwa bisnis memiliki peluang besar untuk mengonversi antusiasme karyawan menjadi nilai ekonomi jangka panjang. "Organisasi perlu membangun fondasi yang tepat: tata kelola tepercaya, sistem aman, dan dukungan keterampilan agar karyawan menjadi AI-fluent," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim, menyatakan bahwa teknologi informasi adalah kunci transformasi nasional. "Dengan bantuan data akurat dan agen AI, kita bisa mengeksekusi kebijakan jauh lebih cepat, tepat, dan produktif," kata Silmy.

Ekspektasi Konsumen yang semakin AI-First

Penggunaan AI secara pribadi tidak hanya mengubah cara kerja, tetapi juga meningkatkan standar konsumen di Indonesia. Riset menunjukkan tuntutan baru terhadap pelaku bisnis:

  • 54% konsumen mengharapkan akurasi lebih tinggi dan minim kesalahan.
  • 52% mengharapkan solusi yang lebih inovatif dan cerdas.
  • 51% menginginkan layanan yang lebih cepat dan efisien.

Sebagai respons atas kebutuhan ini, Salesforce memperkenalkan Agentforce di Jakarta, platform yang menyatukan manusia, agen AI, aplikasi, dan data dalam satu ekosistem tepercaya. Platform ini dirancang untuk membantu perusahaan bertransformasi menjadi Agentic Enterprise, di mana ribuan agen AI dan manusia berkolaborasi menjalankan tugas kompleks secara otonom namun tetap terkendali.

Sejumlah perusahaan besar di Indonesia mulai mengadopsi transformasi digital ini untuk mendorong produktivitas dan pengalaman pelanggan yang lebih personal. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya