Ancaman Deepfake dan Jaringan Scam Internasional: VIDA & Gita Wirjawan Ingatkan Keamanan Digital

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 11:59
Ancaman Deepfake dan Jaringan Scam Internasional: VIDA & Gita Wirjawan Ingatkan Keamanan Digital
Ilustrasi(Freepik)

LANSKAP keamanan siber di Indonesia kini menghadapi ancaman yang jauh lebih kompleks. Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) telah mengubah pola serangan penipuan digital (scam) menjadi lebih adaptif, terstruktur, dan berskala masif.

Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam diskusi antara Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, bersama tokoh nasional Gita Wirjawan dalam podcast Endgame. Niki mengungkapkan bahwa pelaku kriminal digital saat ini bukan lagi individu amatir, melainkan jaringan profesional lintas negara yang didukung infrastruktur teknis canggih.

"Penipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. Modusnya sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannya terus berkembang pesat," tegas Niki Luhur dalam keterangan resminya, Kamis (2/4/2026).

Transformasi Menjadi Bisnis Kriminal Global

Fenomena scam telah berevolusi dari sekadar gangguan digital menjadi industri kriminal lintas batas dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan data yang dipaparkan Niki, skala operasi ini melibatkan aset kripto dalam jumlah fantastis dan berdampak langsung pada kedaulatan serta kemanusiaan.

Indikator Dampak Data / Fakta
Penyitaan Aset Bitcoin US$14 Miliar (Sekitar Rp238 Triliun)
Lokasi Jaringan Utama Kamboja dan Myanmar
WNI Terdampak (Repatriasi) Sekitar 800 orang di KBRI Kamboja
Teknologi Utama Deepfake & Synthetic Identity

Bahaya Deepfake dan Krisis Kepercayaan

Salah satu tantangan terberat yang muncul adalah penggunaan teknologi generatif seperti deepfake. Teknologi ini mampu menciptakan identitas sintetis berupa audio maupun visual yang sangat menyerupai aslinya, sehingga sulit dibedakan oleh mata awam.

Gita Wirjawan menekankan bahwa tantangan terbesar di era ini bukan sekadar teknis, melainkan soal kepercayaan (trust). Kemampuan AI memalsukan identitas dengan presisi tinggi berisiko meruntuhkan rasa aman masyarakat di ruang digital.

Langkah Strategis: Literasi dan Teknologi

Merespons ancaman tersebut, VIDA meluncurkan whitepaper bertajuk "2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook". Dokumen ini memberikan gambaran komprehensif mengenai peta jalan penipuan di Asia Tenggara, termasuk bagaimana pelaku memanfaatkan AI untuk memantau pergerakan likuiditas masyarakat.

Sebagai upaya perlindungan publik, VIDA menginisiasi dua langkah utama:

  • Kampanye #JanganAsalKlik: Gerakan literasi untuk mendorong masyarakat lebih kritis terhadap pesan atau tautan mencurigakan.
  • Where’s The Fraud Hub: Laman edukasi yang menyediakan panduan praktis bagi masyarakat untuk mengenali dan menghindari modus penipuan terbaru.

Penyedia solusi identitas digital ini menegaskan bahwa memerangi scam memerlukan sinergi antara sistem keamanan digital yang tangguh dan penguatan literasi masyarakat secara berkelanjutan untuk memutus rantai kejahatan siber. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya