Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom menemukan sebuah galaksi langka yang hampir seluruh massanya didominasi materi gelap. Penemuan ini dilakukan melalui pengamatan menggunakan Hubble Space Telescope bersama Euclid Space Telescope, yang mengungkap keberadaan galaksi sangat redup bernama CDG-2.
Secara umum, semua galaksi di alam semesta memang didominasi oleh Dark Matter atau materi gelap, zat misterius yang tidak dapat dilihat secara langsung namun memiliki massa besar. Dalam galaksi normal, materi gelap biasanya sekitar lima kali lebih banyak dibandingkan materi biasa yang membentuk bintang, planet, dan gas kosmik.
Namun pada galaksi CDG-2, dominasi materi gelap jauh lebih ekstrem. Para peneliti menemukan sekitar 99% massa galaksi ini terdiri dari materi gelap, menjadikannya salah satu galaksi paling “gelap” yang pernah ditemukan.
Galaksi CDG-2 berada sekitar 245 juta tahun cahaya dari Bumi. Tidak seperti galaksi biasa yang terlihat terang dari jarak kosmik, galaksi ini sangat redup dan sulit dideteksi karena hanya memiliki sedikit bintang.
Karena minim cahaya, CDG-2 sering disebut sebagai “galaksi hantu”. Cahaya yang dipancarkannya sangat lemah sehingga hampir tidak terlihat oleh teleskop biasa.
Materi gelap tidak dapat diamati secara langsung karena tidak berinteraksi dengan radiasi elektromagnetik atau cahaya. Berbeda dengan partikel materi biasa seperti proton, neutron, dan elektron, materi gelap tidak memancarkan, menyerap, ataupun memantulkan cahaya.
Namun para ilmuwan masih bisa mendeteksinya melalui pengaruh gravitasi. Kehadiran materi gelap dapat diketahui karena ia memengaruhi pergerakan gas, bintang, serta pembelokan cahaya di sekitarnya.
Penemuan CDG-2 bermula ketika para astronom meneliti kumpulan bintang padat yang dikenal sebagai Globular Cluster atau gugus bola. Struktur ini sering menjadi petunjuk keberadaan galaksi redup yang tersembunyi.
Dalam penelitian tersebut, tim astronom menemukan sepuluh galaksi redup dengan kecerahan rendah serta dua kandidat galaksi gelap. Untuk memastikan keberadaan salah satunya, para peneliti kemudian menggunakan beberapa teleskop besar, termasuk Hubble Space Telescope, Euclid Space Telescope, serta Subaru Telescope di Hawaii.
Data dari Hubble menunjukkan adanya empat gugus bola yang saling berdekatan di wilayah Perseus Cluster, sebuah gugus galaksi yang berjarak sekitar 300 juta tahun cahaya dari Bumi.
Pengamatan lanjutan kemudian mengungkap cahaya redup yang mengelilingi gugus bola tersebut. Cahaya samar ini menjadi bukti adanya galaksi tersembunyi yang hampir tak terlihat yang kemudian diidentifikasi sebagai CDG-2.
Ketua tim peneliti, David Li dari Universitas Toronto, menjelaskan galaksi ini merupakan kasus unik. Menurutnya, CDG-2 menjadi galaksi pertama yang terdeteksi hanya melalui populasi gugus bola bintangnya.
Berdasarkan analisis tim, galaksi ini memiliki kecerahan yang setara dengan sekitar 6 juta bintang mirip Matahari. Sekitar 16% dari cahaya tersebut berasal dari gugus bola yang mengelilinginya.
Para ilmuwan menduga galaksi ini sebenarnya pernah memiliki lebih banyak bintang di masa lalu. Namun sebagian besar bintang tersebut kemungkinan terlepas akibat interaksi gravitasi dengan galaksi lain di sekitarnya.
Berbeda dengan bintang biasa, gugus bola memiliki kepadatan bintang yang sangat tinggi sehingga mampu bertahan dari gangguan gravitasi tersebut. Karena itulah gugus bola menjadi satu-satunya penanda yang tersisa dari galaksi CDG-2 yang kini tampak seperti bayangan samar di alam semesta.
Penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana galaksi dapat berevolusi dan bagaimana materi gelap memainkan peran penting dalam struktur kosmik. (Space/Z-2)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
Peneliti ungkap bagaimana materi gelap membantu pembentukan lubang hitam supermasif di awal semesta, memecahkan misteri temuan teleskop James Webb.
Simulasi kosmologis HyperMillennium menjadi yang terbesar di dunia, membantu ilmuwan memahami evolusi alam semesta, materi gelap, dan pembentukan galaksi.
Astronom temukan alasan mengapa galaksi kerdil di sekitar Bima Sakti memiliki bentuk yang serupa. Ternyata ada "takdir kosmik" yang mengatur evolusi mereka.
Menggunakan data misi Gaia, ilmuwan menemukan 87 kandidat aliran bintang (stellar streams) baru. Penemuan ini menjadi kunci memetakan materi gelap.
Peneliti menemukan bukti baru ekspansi alam semesta mungkin lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Apakah ini jawaban atas perdebatan panjang para astronom?
Para astronom terkejut dengan penemuan FCC 224, galaksi yang hampir seluruhnya bebas dari materi gelap, yang terletak di tepi Gugus Fornax.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved