Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH beberapa kali menjadi pembicaraan dalam pembahasan tata surya, kini, komet antarbintang 3I/ATLAS dinilai telah menghilang. Meskipun objek tersebut masih ada di luar angkasa, tetapi komet tersebut sudah sangat redup dan jauh sehingga dinyatakan lenyap oleh sebagian besar astronom.
Saat ini, 3I/ATLAS terletak di rasi bintang Cancer setelah melewati rasi bintang Leo pada awal 2026 ini. 3I/ATLAS hanya berukuran selebar telapak tangan di sebelah barat gugusan bintang Beehive Cluster, M44.
Komet antarbintang 3I/ATLAS merupakan pengunjung antarbintang ketiga yang telah ditemukan para astronot. Sistem teleskop survei NASA yang dikenal dengan ATLAS mendeteksi komet ini pada 1 Juli 2025 lalu.
Lintasan dan kecepatan dari 3I/ATLAS mengungkapkan bahwa komet ini bukan berasa dari Bima Sakti, melainkan dari sistem bintang lain.
Teleskop Hubble pun memotret 3I/ATLAS semenjak 21 Juli 2025.
3I/ATLAS diperkirakan telah melayang di ruang antarbintang selama miliaran tahun sebelum bertemu dengan Bima Sakti. Beberapa peneliti menilai bahwa komet antarbintang ini berasal dari cakram tipis Bima Sakti yang terbentuk di awal sejarah.
Sebelumnya, 3I/ATLAS melakukan lintasan terdekatnya dengan Matahari pada 29 Oktober 2025. Komet ini kemudian melakukan lintasan terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember 2025 lalu.
Pada titik terdekatnya, 3I/ATLAS melewati Bumi dengan jarak 168 juta mil yang menandakan jarak terdekat yang akan dicapai komet antarbintang ini dengan Bumi.
Komet ini melesat menembus Bima Sakti dengan kecepatan hampir 130.000 mil per jam, menjadikannya kecepatan tertinggi yang pernah tercatat untuk pengunjung tata surya.
Namun, sebelum dinyatakan “menghilang,” 3I/ATLAS memang telah bergerak keluar dari tata surya.
Komet 3I/ATLAS telah bergerak melewati perihelion pada akhir Oktober 2025 ketika jaraknya tepat berada di dalam orbit Mars. Jarak komet ini kemudian semakin menjauh dari Matahari setiap harinya.
Pada Maret 2026, 3I/ATLAS dilaporkan melintasi Jupiter dengan jarak yang relatif dekat dan dianggap mampu mengubah lintasannya.
Kemudian, awal Juli akan menjadi perjalanan baru bagi 3I/ATLAS yang akan melintasi orbit Saturnus dan orbit Uranus pada April 2027.
Setahun kemudian, komet 3I/ATLAS juga dilaporkan akan melintasi orbit Neptunus. Komet antarbintang tersebut akan keluar dari tata surya menuju awan Oort dan berakhir di ruang antarbintang.
Teleskop profesional, baik darat maupun luar angkasa, akan terus memantau 3I/ATLAS selama mereka mampu.
Dari hasil gambar teleskop-teleskop pun menunjukkan bahwa komet ini terus mengecil dan akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandangan. (EarthSky, BBC Sky at Night Magazine/P-3)
Blazar merupakan objek paling bercahaya di alam semesta dan diklasifikasikan sebagai inti galaksi aktif.
Salah satu sorotan utama adalah planet Jupiter yang terlihat dengan badai raksasa berwarna merah atau Great Red Spot, dengan ukuran yang bahkan lebih besar dari Bumi.
Simak skenario sains jika Matahari menghilang. Dari kegelapan dalam 8 menit hingga pembekuan total Bumi dan nasib akhir umat manusia.
Merkurius tidak memiliki atmosfer tebal seperti Bumi. Atmosfernya sangat tipis dan terdiri dari partikel-partikel seperti oksigen, natrium, hidrogen, helium, dan kalium.
Menurut laporan NASA, cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai bumi.
Para astronom berhasil mengidentifikasi jalan pintas potensial untuk menemukan eksoplanet dengan memanfaatkan sinyal unik dari bintang yang memiliki aktivitas magnetik rendah.
Astronom temukan alasan mengapa galaksi kerdil di sekitar Bima Sakti memiliki bentuk yang serupa. Ternyata ada "takdir kosmik" yang mengatur evolusi mereka.
Menggunakan data misi Gaia, ilmuwan menemukan 87 kandidat aliran bintang (stellar streams) baru. Penemuan ini menjadi kunci memetakan materi gelap.
Peneliti berhasil memetakan medan magnet galaksi Bima Sakti secara mendalam. Terungkap adanya anomali unik di Lengan Sagitarius yang mengalir berlawanan arah.
Ilmuwan menemukan kandidat pulsar langka yang berputar 122 kali per detik di pusat galaksi. Temuan ini berpotensi membuktikan teori relativitas Einstein.
Dengan melatih kecerdasan buatan untuk memahami evolusi ledakan supernova dan menggabungkan wawasan tersebut dengan model fisika besar
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved