Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PREDIKSI tentang masa depan teknologi kerap terdengar spekulatif. Namun, beberapa di antaranya justru perlahan mendekati kenyataan. Salah satu tokoh yang paling dikenal dengan ramalan futuristiknya adalah Ray Kurzweil, ilmuwan komputer asal Amerika Serikat yang selama puluhan tahun konsisten berbicara soal singularitas teknologi, momen ketika kecerdasan manusia dan mesin menyatu.
Kurzweil pertama kali mempopulerkan gagasan tersebut pada akhir 1990-an. Dalam teorinya, singularitas akan terjadi ketika kecerdasan buatan mampu melampaui kemampuan otak manusia dan berkembang secara eksponensial. Pada 1999, ia memprediksi kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence/AGI) akan tercapai sekitar tahun 2029, saat komputer mampu melakukan sekitar satu triliun perhitungan per detik.
Prediksi itu sempat dianggap terlalu optimistis. Banyak pakar kala itu memperkirakan AGI baru akan terwujud satu abad kemudian. Namun, dengan pesatnya perkembangan AI dan semakin seringnya pembahasan soal AGI dalam beberapa tahun terakhir, ramalan Kurzweil mulai dipandang lebih serius.
Dalam bukunya yang terbit pada 2024 berjudul The Singularity Is Nearer, Kurzweil kembali menegaskan keyakinannya. Ia memprediksi pada 2045, atau sekitar 19 tahun dari sekarang, manusia akan mencapai singularitas yakni kondisi ketika kecerdasan manusia meningkat hingga jutaan kali lipat berkat integrasi dengan teknologi.
Kurzweil meyakini hal ini akan dicapai melalui antarmuka otak berbasis nanoteknologi, di mana nanobot non-invasif terhubung ke kapiler otak untuk menghubungkan pikiran manusia dengan kecerdasan buatan.
“Kita akan menjadi kombinasi antara kecerdasan alami dan kecerdasan siber,” ujar Kurzweil dalam wawancaranya dengan The Guardian. Ia menambahkan bahwa penyatuan tersebut akan memperluas kecerdasan manusia hingga satu juta kali lipat dan memperdalam kesadaran serta pemahaman manusia.
Meski terdengar ekstrem, gagasan tentang masa depan hibrida manusia dan AI juga dibahas oleh sejumlah filsuf dan pakar kecerdasan buatan. Marcus du Sautoy dan Nick Bostrom dari Universitas Oxford, misalnya, menilai bahwa bentuk sintesis manusia dan mesin dalam skala tertentu hampir tidak terhindarkan.
“Kita sedang menuju masa depan hibrida,” kata du Sautoy kepada Popular Mechanics. Menurutnya, manusia perlahan harus menerima bahwa mereka bukan satu-satunya entitas dengan tingkat kecerdasan tinggi.
Di balik optimisme tersebut, singularitas juga memunculkan pertanyaan besar. Bagaimana nasib pekerjaan manusia? Apakah usia manusia bisa diperpanjang secara drastis? Dan apakah konsep tentang “kemanusiaan” akan berubah?
Kurzweil tetap optimistis. Ia menilai kebijakan seperti Pendapatan Dasar Universal akan menjadi kebutuhan di masa depan, sementara AI diyakini membawa lompatan besar di bidang medis. Bahkan, ia menyebut peluang memperpanjang usia manusia secara signifikan bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.
“Pada awal 2030-an, kita bisa mencapai titik di mana setiap tahun kehidupan yang hilang akibat penuaan dapat digantikan oleh kemajuan teknologi,” ujar Kurzweil.
Seperti banyak prediksi futuristik lainnya, ramalan tentang singularitas masih menyisakan ketidakpastian. Namun, lebih dari dua dekade lalu Kurzweil telah memperkirakan bahwa umat manusia akan mendekati titik penting dalam sejarah teknologi pada dekade 2020-an. Hingga kini, belum ada bukti kuat yang benar-benar membantah arah prediksi tersebut. (Popular Machanics/Z-2)
Peneliti dari IMT School Lucca mengungkap bagaimana kepribadian dan pengalaman hidup membentuk mimpi. Temukan alasan mengapa mimpi terasa nyata atau aneh.
Dicoding kembali menggelar ajang tahunan bergengsi, Dicoding Developer Conference (DDC) 2026.
Rokid resmi merilis kacamata pintar berbasis AI di Indonesia. Perangkat wearable ini tawarkan asisten digital real-time dan layar micro-OLED canggih.
Google resmi meluncurkan fitur Personal Intelligence untuk Gemini di Indonesia. Hubungkan Gmail dan Google Photos dengan aman untuk asisten AI yang lebih cerdas.
Teknologi AI kini memperkuat layanan dialisis atau cuci darah dengan analisis data real-time untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien penyakit ginjal kronis.
BINUS University mengukuhkan Prof. Rindang Widuri sebagai Guru Besar. Ia memperkenalkan konsep Audit 5.0 yang memadukan kecerdasan buatan dan nurani manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved