Hidup-Mati Arsenal dan Arteta

Dhika Kusuma Winata
14/4/2026 23:45
Hidup-Mati Arsenal dan Arteta
Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kiri), menghibur gelandang Arsenal asal Belgia bernomor punggung 19, Leandro Trossard.(Darren Staples / AFP)

ARSENAL memasuki momen paling menentukan dalam perburuan gelar Liga Primer Inggris yang sudah 24 tahun dirindukan. Sempat unggul jauh di puncak klasemen, posisi the Gunners sekarang dalam ancaman serius dan tekanan semakin menggunung.

Duel antara City kontra Arsenal di Stadion Etihad, Minggu (19/4) akhir pekan ini, bakal sangat krusial. Situasinya memunculkan satu pertanyaan besar. Apakah tim asuhan Mikel Arteta bakal kembali masuk angin seperti yang terjadi tiga musim secara beruntun?

Dengan enam poin keunggulan yang tersisa dan Manchester City masih memiliki satu laga tunda, duel di Etihad akhir pekan ini dipandang sebagai penentu arah perebutan gelar. Jika City mampu menang dan memaksimalkan laga sisa, peluang mereka untuk kembali menjadi juara terbuka lebar.

Secara mental, angin kini berpihak kepada kubu City. Eks kapten timnas Inggris Wayne Rooney menilai City memiliki keunggulan dari sisi pengalaman dan mental juara. Rooney juga menyoroti potensi tekanan psikologis yang dihadapi Arsenal setelah serangkaian hasil buruk.

“City tahu bagaimana cara memenangi liga dan punya pelatih yang berpengalaman. Mereka akan lebih tenang dibandingkan Arsenal,” kata Rooney dikutip BBC.

“Ketika Anda mulai kehilangan beberapa pertandingan, akan muncul pertanyaan soal dari mana kemenangan berikutnya datang. Pikiran negatif seperti itu bisa memengaruhi performa,” imbuh mantan pemain MU itu.

Skenario yang hangat dibicarakan ialah City bisa menang atas Arsenal lalu mampu memetik tambahan tiga poin lagi dari satu laga tunda. Jika begitu posisinya, City akan menyamai poin Arsenal sehingga ada potensi gelar ditentukan dengan selisih gol. Catatannya, kedua tim tidak kehilangan poin lagi di semua sisa pertandingan.

Hanya saja, skenario itu seolah too good too be true alias terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Kedua kubu masing-masing bisa saja terpeleset.

Bagi City, kemenangan di Etihad wajib diraih demi membuka peluang juara. Bagi Arsenal, hasil imbang bisa dianggap positif.

Secara matematis peluang masih terbuka sedikit lebih lebar untuk Arsenal. Simulasi statistik masih menempatkan Martin Odegaard dan kawan-kawan sebagai favorit juara. Menurut simulasi model Opta, Arsenal tetap terdepan dengan kans 87% sedangkan City 13 persen.

Asumsi City akan menyapu bersih sisa pertandingan juga tidak sesederhana itu. Jika ingin juara, artinya City wajib memenangi semua tujuh laga terakhir, termasuk kontra Arsenal. Hanya saja, skenario tersebut sangat sulit andai tidak ingin dibilang mustahil.

Pasalnya, dalam dua musim terakhir tim asuhan Pep Guardiola hanya mampu mencatatkan rentetan kemenangan beruntun hingga enam pertandingan.

Dari sisi pertemuan kedua tim, Arsenal memang menunjukkan perkembangan. Dalam lima laga liga terakhir melawan City, mereka tidak terkalahkan dengan dua kemenangan dan tiga hasil imbang.

Tren buruk tiga kekalahan dari empat laga terakhir di semua kompetisi memunculkan keraguan atas mental pasukan Arteta. Itu terjadi saat Arsenal seharusnya bisa memperlebar jarak di puncak klasemen.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan tim, tetapi juga langsung mengarah ke Mikel Arteta. Masa depan pelatih asal Spanyol itu mulai diperdebatkan jika gagal mengakhiri musim ini dengan trofi.

Pengamat sepak bola Inggris Chris Sutton menilai situasinya bakal juga menentukan bagi Arteta. Kegagalan meraih gelar setelah kerqp menjadi favorit bisa dianggap sebagai kemunduran besar.

“Jika dia (Arteta) gagal membawa Arsenal juara Liga Primer atau Liga Champions, ini akan menjadi titik krusial. Persepsi suporter bisa berubah dan keputusan besar mungkin harus diambil,” kata Sutton. (Dhk)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya