DPR Minta Jangan Ada Lagi Pembantu Presiden Prabowo Berperilaku ‘Asal Bapak Senang’

Rahmatul Fajri
09/4/2026 19:16
DPR Minta Jangan Ada Lagi Pembantu Presiden Prabowo Berperilaku ‘Asal Bapak Senang’
Ilustrasi(Dok Gerindra)

ANGGOTA DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti memberikan catatan terhadap jajaran kabinet dan pelaksana kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa stabilitas ekonomi yang saat ini terjaga tidak akan berarti banyak jika tidak dibarengi dengan kejujuran eksekusi di lapangan.

Azis menyoroti adanya kesenjangan antara angka-angka makro ekonomi yang tampak rapi dengan realitas yang dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.

"Sudah saatnya kita mengatakan ini dengan terang: jangan ada lagi pembantu presiden dan jajarannya yang berkarakter medioker dan berperilaku ‘asal bapak senang’. Negara ini tidak membutuhkan laporan yang indah di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan," ujar Azis melalui keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Azis mengapresiasi taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kerja kabinet di Istana Negara pada 8 April 2026 yang menekankan disiplin anggaran dan keberpihakan pada ekonomi rakyat. Menurutnya, arah kebijakan tersebut sudah sangat tepat, namun tantangan terbesarnya terletak pada karakter pelaksanaan oleh jajaran di bawahnya.

Ia meminta para menteri dan kepala lembaga untuk lebih berani menyampaikan hambatan nyata daripada sekadar menyodorkan angka keberhasilan yang menenangkan.

"Biasakan menyampaikan kesulitan yang memerlukan terobosan dan koordinasi eksekusi kebijakan, bukan hanya angka keberhasilan yang menenangkan. Karena hanya dari kejujuran itulah kebijakan bisa diperbaiki," tegas legislator Gerindra tersebut.

Di tengah indikator ekonomi yang kuat seperti cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar dan rasio utang yang terkendali, Azis mengingatkan adanya gejala pelemahan daya beli pada kelas menengah dan UMKM. Ia mengilustrasikan kondisi ini melalui fenomena di pasar dan warung kecil.

"Ekonomi kita tumbuh dalam angka, tetapi belum sepenuhnya tumbuh dalam rasa. Seorang pemilik warung mungkin tidak membaca laporan fiskal, tetapi ia tahu satu hal sederhana: pembeli datang, tetapi tidak lagi membeli seperti dulu," ungkapnya.

Selain evaluasi internal, Azis juga menyoroti maraknya narasi menyesatkan dan hoaks yang menyebut ekonomi nasional sedang runtuh. Menurutnya, kritik memang diperlukan dalam demokrasi, namun kritik yang kehilangan pijakan data hanya akan menggerus kepercayaan publik yang menjadi fondasi investasi.

"Kita melihat klaim bahwa ekonomi runtuh, bahwa negara kehilangan kendali, narasi yang terdengar kuat, tetapi rapuh ketika diuji. Hoaks memperkeruhnya, emosi mempercepatnya," tambah Azis.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa stabilitas yang dimiliki Indonesia saat ini hanyalah modal waktu. Transformasi nyata hanya bisa terjadi jika pemerintah mengedepankan kualitas dan kejujuran dalam setiap langkah eksekusi.

"Jika stabilitas tidak diikuti oleh kejujuran dalam eksekusi, maka ia hanya akan menjadi ketenangan yang menunda masalah," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya