Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MAJELIS Hakim Konstitusi mempertanyakan naskah akademik dalam proses penyusunan Undang-Undang No.11/ 2020 tentang Cipta Kerja dalam sidang uji formil yang digelar di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (23/9).
Hakim Konstitusi Saldi Isra menanyakan para saksi dari pemerintah mengenai hal tersebut dalam sidang lanjutan No.91,103,105,107/PUU-XVIII/2020 dan perkara No.4,6/PUU-XIX/2020.
Pertanyaan senada juga dilontarkan Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams yang meminta penjelasan terkait pembuatan naskah akademis rancangan UU Cipta Kerja.
"Berapa lama penyusunannya. Kalau jamnya berapa lama, tidak dari tanggal sekian sampai sekian," tanya Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams.
Menurutnya, banyak pertanyaan perihal penyusunan naskah akademik yang amat krusial sebab UU Cipta Kerja berdampak pada 79 undang-undang lain. Sehingga, ia menilai tidak mungkin pembahasan naskah akademik dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu Wahiduddin menyinggung soal judul UU Cipta Kerja yang awalnya bernama UU Cipta Lapangan Kerja.
"Dari sejak naskah akademik awalnya RUU Cipta Kerja, atau ada judul lain? dulu naskah akademik RUU Cipta Lapangan Kerja, biasanya tidak sederhana itu membahas judul, judul menggambarkan isi," ucapnya.
Baca juga : Bawaslu RI Buka Sekolah Kader Pengawas Partisipatif
Saksi dari pemerintah yakni Widyaiswara Utama Kementerian Hukum dan HAM Nasrudin menilai, penyusunan naskah akademik UU Cipta Kerja cukup lama. Dimulai saat akhir periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Setelah pelantikan kabinet pada 20 Oktober 2019, imbuhnya, sebagian besar substansi dari naskah akademik dikembangkan menjadi RUU Cipta Lapangan Kerja disertai penambahan klaster menjadi 11.
"Sehingga tidak dari nol (naskah disusun) saat presiden menyampaikan pidatonya pada pelantikan," ujar dia.
Sementara itu Dekan Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang Rodiyah yang juga saksi pada diskusi fokus terbatas terkait penerapan RUU Cipta Kerja yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, pada Januari 2020, menjelaskan pada pembahasan itu, tidak diperlihatkan secara lengkap naskah akademik dan draft RUU. Melainkan materi dalam bentuk presentasi dari pemateri.
Saksi lainnya, yakni Kepala Pusat Perencanaan Hukum Nasional Djoko Pudjirahardjo mengatakan naskah akademik disusun oleh pemerakarsa UU Cipta Kerja yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Harnanto. Adapun Kementerian Hukum dan HAM, ujarnya, hanya melakukan koordinasi. Namun, ia menjelaskan pada pertemuan awal, ia mendengar sudah ada naskah akademik.
"Saya mendengar sudah ada naskah akademik. Tapi tidak melihat (naskah akademik)," ucapnya.
Pada kesempatan itu, Hakim Konstitusi Daniel Yusmic P. Foekh menanyakan pada saksi perihal perubahan nama
yang dianggap sangat berpengaruh dalam penyusunan UU. Lalu, ada atau tidaknya perdebatan mengenai perubahan nama UU Cipta Kerja. Menurut Djoko, tidak ada perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Adapun naskah RUU yang diajukan ketika itu bernama Cipta Lapangan Kerja. (OL-2).
Mahkamah menilai frasa “kerugian negara” yang tercantum dalam Pasal 20 ayat (5) dan ayat (6) UU Administrasi Pemerintahan tidak dapat dibiarkan tanpa penafsiran yang tegas.
MK menjelaskan bahwa tidak semua jabatan publik bisa diperlakukan sama. Jabatan yang diperoleh melalui pemilihan umum, seperti presiden atau anggota DPR.
Salah satu isu yang dipersoalkan adalah Pasal 240 dan 241 KUHP terkait penghinaan terhadap pemerintah dan lembaga negara yang dinilai berpotensi membatasi kebebasan berpendapat.
MK respons desakan percepatan putusan UU TNI terkait peradilan umum bagi prajurit. Simak penjelasan Pan Mohammad Faiz mengenai kompleksitas perkara nomor 197/2025.
LARANGAN merokok dan menggunakan ponsel saat berkendara diminta diperjelas dalam Undang-Undang Lalu Lintas. Pemohon menilai aturan yang ada saat ini masih terlalu umum.
SEORANG advokat menggugat UU Ormas ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena menilai aturan yang seharusnya hanya berlaku untuk ormas justru diterapkan juga pada yayasan.
Peradilan militer bukan bentuk impunitas, melainkan mekanisme akuntabilitas yang memiliki dasar konstitusional dalam UUD 1945.
Dimas Bagus Arya Saputra, menyoroti praktik peradilan militer dalam sejumlah kasus pelanggaran HAM berat, termasuk kasus penculikan aktivis 1997–1998 oleh Tim Mawar.
Rencana revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu memicu perdebatan hangat mengenai besaran ambang batas parlemen (parliamentary threshold).
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad menegaskan tidak ingin terburu-buru dalam menyusun RUU Pemilu mematangkan kajian, menghindari adanya gugatan berulang ke MK
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved