Densus 88 kembali Bekuk Terduga Teroris di Makassar

MI/ LN/AB/P-1
22/4/2015 00:00
Densus 88 kembali Bekuk Terduga Teroris di Makassar
(Antara Foto/Hayu Yudha)
TIM dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kemarin menangkap terduga teroris Ambo Ece, 35, yang diduga anggota jaringan kelompok militan pimpinan Daeng Koro dan Santoso di Poso yang melarikan diri. Kepala Seksi Penerangan Masyarakat Polda Sulawesi Selatan dan Barat Ajun Komisaris Besar Andi Masmini membenarkan penangkapan tersebut. Ambi ditangkap pukul 06.30 Wita di Bulutironge, Kecamatan Pitumpanua Siwa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 14 anggota tim Densus 88 Antiteror menggelar operasi penggerebek-an terhadap terduga teroris Ambo Ece, yang merupakan warga Bangsalae, Kelurahan Batu-batu, Kecamatan Pitumpanua Siwa, Wajo.

"Hasil interogasi sementara, Ambo Ece terlibat pembunuhan dua anggota Polres Poso Aiptu Sudirman dan Brigadir Andi Sapa di Tamanjeka, Poso, Sulteng, beberapa waktu lalu. Saat ini, terduga teroris masih berada di Makassar untuk dilakukan pengembangan penyelidikan," terang Masmini. Sementara itu di Pasuruan, Jawa Timur, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar latihan bersama di Pusat Pendidikan (Pusdik) Brimob, Watu Kosek.

Latihan akan digelar selama sepekan, 21-29 April. "Latihan ini untuk meningkatkan pengembangan dalam menanggulangi terorisme sehingga aksi dan ancaman serta serangan terorisme bisa diproteksi sejak dini," kata Kepala Deputi BNPT Irjen Arief Dharmawan, kemarin. Sekitar 300 personel lembaga penegak hukum di Jawa Timur dilibatkan dalam latihan bersama tersebut. Peserta di antaranya berasal dari Brimob Polda Jatim, Densus 88, TNI, Bea Cukai, lembaga pemasyarakatan, dinas kesehatan, dinas perhubungan, Polres Pasuruan, dan Satpol PP Jatim.

"Aparatur negara adalah ujung tombak dalam menciptakan dan menjaga stabilitas keamanan nasional. Mereka dituntut untuk cepat tanggap. Maka itu diperlukan kerja sama yang terpadu dari semua lembaga dalam satu sistem," imbuh Arief. Dari latihan bersama tersebut, ia berharap muncul sinergi dari berbagai kompenen. Apalagi timbulnya terorisme, selain karena adanya fanatisme yang sempit, juga dipengaruhi faktor rendahnya sumber daya masyarakat, keterbelakangan hidup, kemiskinan, dan ketidakadilan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya