Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEGELISAHAN guru terhadap kehadiran teknologi di ruang kelas kerap dianggap sebagai gejala baru. Kecerdasan artifisial (KA), misalnya, sering dipersepsikan hadir secara tiba-tiba tanpa jangkar sejarah yang bisa dirujuk. Akibatnya, respons yang muncul sering kali bersifat defensif, penuh kehati-hatian, bahkan cenderung menolak.
Padahal, sejarah pendidikan menunjukkan sebaliknya. Setiap generasi guru selalu berhadapan dengan peranti baru yang datang membawa janji perbaikan sekaligus kecemasan akan hilangnya peran manusia. Kegelisahan ini adalah repetisi sejarah yang hanya tampil dalam bentuk dan bahasa yang berbeda.
Sejatinya, yang berubah hanyalah teknologinya, sementara pertanyaan dasarnya tetap sama: siapa yang memegang kendali di ruang kelas? Di titik ini, adaptasi menjadi keniscayaan. Namun, ia bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya memastikan otoritas guru tetap relevan di tengah disrupsi.
OTORITAS DAN SEJARAH
Sebelum abad ke-18, posisi guru hampir tidak pernah diperdebatkan. Hal itu wajar mengingat pengetahuan masih menjadi barang langka, buku sangat mahal, dan akses informasi terbatas. Guru hadir sebagai figur otoritatif-transmisif (single source of truth) yang menyampaikan pengetahuan lintas generasi. Sejarawan pendidikan menyebut guru pada masa ini sebagai custodian of knowledge atau penjaga gerbang pengetahuan (Tyack & Cuban, 1995).
Ketegangan mulai muncul saat papan tulis masuk ke ruang kelas pada pertengahan abad ke-19. Di Amerika Serikat dan Eropa, teknologi ini awalnya dicurigai. Muncul kekhawatiran guru akan 'malas bicara' dan murid 'berhenti berpikir'. Namun, sejarah mencatat papan tulis justru menjadi medium dialogis untuk memvisualisasikan konsep. Larry Cuban (1986) mengevaluasi bahwa dampak positif teknologi muncul ketika guru menggunakannya secara pedagogis, bukan sekadar alat salin.
Pelajaran berharga ini kembali teruji pada awal abad ke-20 melalui radio pendidikan. Radio menjanjikan pemerataan kualitas pengajaran. Namun, evaluasi di AS hingga Kanada justru menunjukkan hasil mengecewakan. Murid bosan dan dinamika kelas hilang karena guru direduksi menjadi sekadar penonton (Saettler, 1990). Teknologi terbukti gagal ketika otoritas pedagogis guru disisihkan.
FENOMENA GURU IMITASI
Memasuki era internet, tantangan berubah rupa. Informasi menjadi melimpah ruah. Mitos 'guru paling tahu' runtuh karena murid dapat mengakses pengetahuan lebih cepat. Namun, laporan OECD (2015) menegaskan bahwa peningkatan intensitas teknologi informasi tidak berkorelasi otomatis dengan hasil belajar. Yang menentukan tetaplah bagaimana guru mengelola teknologi dalam kerangka pedagogi yang bermakna.
Pandemi covid-19 menjadi ujian adaptasi terbesar. Merujuk pada evaluasi Bank Dunia (2021), guru yang berhasil menjaga keberlanjutan belajar bukanlah mereka yang paling canggih secara teknis, melainkan yang paling adaptif dan empatik. Teknologi memang menyelamatkan proses, tetapi tidak otomatis menjaga kualitas relasi.
Risiko yang muncul kemudian ialah fenomena 'guru imitasi'. Tekanan adaptasi yang keliru serta beban kerja yang tinggi mendorong guru mengambil jalan lintas melalui solusi instan: template, modul otomatis, hingga rubrik siap pakai. Imitasi ini menggerus fungsi esensial guru dalam berpikir pedagogis. Guru tak lagi merancang pembelajaran berdasarkan konteks murid, melainkan sekadar mengikuti pola yang ditentukan oleh sistem. Guru imitasi tampak adaptif di permukaan, tetapi rapuh secara profesional karena kehilangan kendali atas tujuan belajar.
KEDAULATAN PEDAGOGI
Kini, saat KA mulai merambah ruang kelas dengan kemampuan menjawab soal dan menyusun materi secara instan, sejarah seolah berulang dengan intensitas lebih tinggi. Risiko terbesarnya bukan pada kecanggihan mesin, melainkan pada godaan untuk mendelegasikan keputusan pedagogis kepada algoritma.
Di sinilah kedaulatan pedagogis menjadi krusial. Keputusan akhir pembelajaran—tujuan, proses, dan penilaian—harus tetap berada di tangan guru. Laporan UNESCO (2023) menegaskan bahwa KA seharusnya berfungsi sebagai decision support system, bukan decision maker. Guru yang berdaulat mampu menggunakan KA untuk memperkaya analisis, sambil tetap peka membaca keheningan kelas dan latar sosial murid yang tak terjangkau kode biner.
Kehadiran mata pelajaran pilihan koding dan KA melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 merupakan upaya menguatkan kedaulatan tersebut. Statusnya sebagai mapel pilihan menunjukkan bahwa negara tidak memaksakan satu model tunggal. Sekolah bahkan dapat mengajarkannya secara unplugged (tanpa perangkat), menekankan bahwa esensinya adalah penguatan cara berpikir—logika algoritmik, literasi data, dan etika digital.
Fokus utamanya bukan sekadar mengajarkan 'cara memakai' KA, melainkan 'memahami' KA. Ini sejalan dengan UNESCO AI Competency Framework yang menempatkan penalaran dan nilai sebagai fondasi. Tanpa guru, koding dan KA kehilangan konteks etisnya. KA mungkin mampu menjawab segala soal, tetapi ia tidak pernah tahu kapan seorang murid sedang dirundung sedih atau putus asa.
Sejarah memberi peringatan konsisten: tidak ada teknologi pendidikan yang berhasil tanpa guru yang berdaulat. Tantangan guru di era KA bukan lagi soal 'siap atau tidak siap', melainkan 'berani atau tidak berani' menjaga peran sebagai penentu makna belajar. Sebagaimana diingatkan Geoffrey Hinton, KA boleh saja mengolah informasi secepat kilat, tetapi ia tetap defisit dalam pemahaman moral, empati, dan konteks kemanusiaan. Di sanalah guru tetap tak tergantikan.
Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi
SEBANYAK tujuh kementerian menandatangani dan menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta Kecerdasan Artifisial (AI).
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.
ERA kecerdasan artifisial ini membutuhkan ketersediaan SDM digital yang cukup tinggi. Karenanya, penting bagi pemerintah bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan.
IBM menyampaikan bahwa AI telah bergeser, dari fase eksperimental, menjadi kebutuhan mendasar yang mengubah cara keputusan dibuat dan bagaimana peran kerja didefinisikan.
DARI debat seru berbagai kajian, kita dapat menyimpulkan empati merupakan isu penting dalam kehidupan (Coplan, 2011).
Iyan Yuliantini, pensiunan guru SLB di Tasikmalaya, merintis UMKM telur asin dengan melibatkan alumni SLB untuk mewujudkan kemandirian ekonomi disabilitas.
Indonesia hadapi krisis guru akibat gelombang pensiun besar-besaran. Kekurangan guru mencapai 1,3 juta orang sementara lulusan PPG belum mencukupi.
GURU perempuan memiliki peran krusial dalam menentukan arah pembangunan bangsa, terutama melalui kontribusi nyata dalam pembentukan karakter generasi penerus yang tangguh.
Tradisi halal bihalal untuk saling memaafkan antara siswa dan guru digelar pada hari pertama masuk sekolah setelah libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
IDUL Fitri baru saja kita rayakan. Selama sebulan, kita berlatih menahan diri dan mempertajam empati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved