Tekanan Global Meningkat, PT Vale Buktikan Operasi Tambang Nikel Selaras dengan Kelestarian Lingkungan

Lina Herlina
22/4/2026 19:37
Tekanan Global Meningkat, PT Vale Buktikan Operasi Tambang Nikel Selaras dengan Kelestarian Lingkungan
Ilustrasi(Dok Vale Indonesia)

DI tengah meningkatnya tekanan global terhadap industri ekstraktif untuk menerapkan prinsip keberlanjutan, PT Vale Indonesia Tbk membuktikan bahwa operasi tambang dan pemurnian nikel dapat berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan.

Anak usaha MIND ID ini mengandalkan dua teknologi pengolahan air limbah mutakhir di wilayah operasional Sorowako, Kabupaten Luwu Timur. Teknologi tersebut diterapkan guna memastikan air yang dilepas ke ekosistem alam memenuhi baku mutu ketat pemerintah.

Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia Tbk, Vanda Kusumaningrum, menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan ratusan sediment pond (kolam pengendapan) yang tersebar di area Petea dan Sorowako, tetapi juga dua fasilitas utama, yaitu Pakalangkai Wastewater Treatment Plant (WWTP) yang beroperasi sejak 2013 dan Lamella Gravity Settler yang mulai difungsikan pada 2014.

"Setiap air limbah tambang, baik dari limpasan air hujan maupun proses produksi, harus melalui pengolahan yang terencana, terukur, dan berkelanjutan sebelum dialirkan ke badan air alami seperti sungai, danau, atau laut. Ini komitmen mutlak kami," ujar Vanda.

Teknologi Andalan

PT Vale tidak sekadar menampung air limbah. Perusahaan menerapkan pendekatan teknologi bertingkat. Lamella Gravity Settler, misalnya, memanfaatkan prinsip gravitasi untuk memisahkan partikel padat seperti lumpur dan sedimen secara efisien. 

Air yang lebih jernih kemudian dialirkan ke tahap berikutnya, sementara padatan di dasar dikelola lebih lanjut.

Sementara itu, Pakalangkai WWTP, yang juga dikenal sebagai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), merupakan sistem terintegrasi yang menggabungkan proses fisik, kimia, dan biologis. Teknologi ini dirancang untuk menghilangkan kontaminan organik, anorganik, hingga mikroorganisme patogen dari air bekas proses tambang.

"Kami memastikan mine effluent telah memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepas. Proses ini penting untuk melindungi biota air, habitat alami, dan mencegah potensi gangguan kesehatan masyarakat sekitar," tambah Vanda.

Momentum Hari Bumi

Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada hari ini menjadi momentum bagi PT Vale untuk memperluas aksi lingkungannya. Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, perusahaan menggelar penanaman ratusan pohon mangrove, kayu angin, ketapang, dan kelapa di kawasan Jetty Port Bahomotefe, serta aksi bersih pantai.

Kegiatan yang melibatkan karyawan dan kontraktor mitra kerja itu juga disertai kampanye internal hemat air dan energi. 

Head of Bahodopi Operation PT Vale, Wafir, menegaskan bahwa langkah-langkah kecil seperti efisiensi listrik dan penggunaan air secara bijak adalah bagian dari strategi jangka panjang perusahaan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Hari Bumi menjadi momentum penting bagi kami untuk menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan bukan sekadar komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dan konsisten. 

"Penanaman pohon, aksi bersih pantai, hingga kampanye hemat air dan energi adalah bagian dari upaya kami menyeimbangkan kegiatan operasional dengan perlindungan lingkungan," tegas Wafir.

Dengan wilayah operasional yang tersebar di Sorowako (Sulsel), Pomalaa (Sultra), serta Sambalagi dan Bahodopi (Sulteng), PT Vale berkomitmen menjadikan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sebagai standar utama, selaras dengan target pengendalian krisis iklim dan polusi global.

Selain itu, Muhammad Saleh, warga Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, mantan karyawan kontraktor di area tambang PT Vale, mengaku tidak meragukan komitmen perusahaan itu soal lingkungan. Terutama dalam hal pengelolaan lahan pascatambang.

Salah satu lokasi yang menurutnya menjadi bukti nyata komitmen PT Vale adalah Bukit Himalaya. Luasnya sekitar 50 hektare. Di kawasan itu, pohon-pohon seperti sengon sudah tumbuh subur. Bahkan, usianya ada yang mencapai 20 tahun.

"Sebagai masyarakat, kami menilai PT Vale tidak perlu diragukan lagi kalau soal lingkungan pascatambang. Ini bukan cerita dari mulut ke mulut. Tapi sudah dibuktikan dengan upaya nyata. Salah satunya di Bukit Himalaya itu. Coba lihat saja, orang yang baru pertama kali ke sana pasti tidak tahu kalau itu bekas tambang. Kondisinya sudah seperti hutan lebat. Tanamannya sudah belasan tahun," urai Saleh. (LN/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya