Cabai Meroket, Harga Sembako di Batam Bikin Warga Menjerit

Hendri Kremer
08/4/2026 20:23
Cabai Meroket, Harga Sembako di Batam Bikin Warga Menjerit
Ketersediaan sembako di Batam masih aman, namun harga beberapa komoditas mulai merangkak naik.(MI/HENDRI KREMER)

HARGA sejumlah bahan pokok di Kota Batam mengalami kenaikan signifikan pada awal April 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai yang kini menembus harga tinggi dan dikeluhkan masyarakat.

Beberapa pasar tradisional seperti Pasar Penuin Wet Market dan Pasar Mitra Raya, harga cabai rawit mencapai kisaran Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah dijual sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram, tergantung kualitas dan pasokan.

Tidak hanya cabai, kenaikan juga terjadi pada bahan pokok lainnya. Harga beras medium kini berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram, sedangkan minyak goreng curah menyentuh Rp20.000 per liter. Gula pasir pun naik menjadi sekitar Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Di sektor protein, harga daging ayam terpantau naik menjadi Rp42.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Telur ayam juga mengalami kenaikan dan kini dijual sekitar Rp30.000 hingga Rp33.000 per kilogram di tingkat pasar.

Kondisi ini membuat masyarakat harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangga. Banyak warga mengaku keberatan dengan kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan.

“Sekarang belanja jadi lebih mahal, terutama cabai. Biasanya beli sedikit sudah cukup, sekarang harus dikurangi,” ujar Ani, 43, seorang ibu rumah tangga di kawasan Batam Center.

Hal senada disampaikan Roma, 28, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Batam Center. Ia mengaku harus lebih berhemat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Kenaikannya terasa sekali, apalagi cabai. Ini saja belanja seikit-sedikit, ngak tahu bisa hemat atau tidak,” katanya.

Kenaikan harga sembako ini juga berdampak pada pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan. Mereka terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi porsi untuk menyesuaikan biaya produksi yang meningkat.

Sejumlah pedagang menyebutkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan dari daerah pemasok serta meningkatnya biaya distribusi. Sebagai daerah kepulauan, Batam masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga.

Pemerintah daerah sebelumnya menyatakan bahwa stok bahan pokok masih dalam kondisi aman. Namun, masyarakat berharap adanya langkah konkret untuk menstabilkan harga, terutama pada komoditas yang mengalami lonjakan tinggi seperti cabai. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan semakin menurun dan berdampak pada aktivitas ekonomi lokal. Sementara itu, Disprindag Kota Batam belum turun ke lapangan memeriksa kenaikan sembako ini. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya