Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Basarnas telah mengevakuasi lima orang nelayan asal Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, ke Pelabuhan Belawan, Kota Medan. Sebelum dievakuasi, kelima nelayan itu sempat terombang-ambing di laut akibat kapal ikannya karam diterjang ombak tinggi.
"Kapal SAR RB 203 sudah membawa lima nelayan terdampar ke Pelabuhan Belawan," ungkap Mustari, Kepala Kantor Basarnas Medan, Selasa (9/7).
Dia mengatakan, dengan menggunakan Regead Inflatable Boat (RIB), personel anak buah kapal (ABK) Rescue Boat (RB) 203 Belawan berhasil melaksanakan operasi penyelamatan terhadap lima orang nelayan asal Pangkalan Brandan, Sumatra Utara. Kelima orang nelayan tersebut sebelumnya sempat terombang-ambing di laut setelah kapal yang mereka tumpangi karam akibat diterjang ombak tinggi pada Minggu (7/7) subuh.
Baca juga : Cuaca Buruk Selat Malaka Pengaruhi Harga Ikan di Aceh
Sebelum kejadian, mereka berangkat dari Pangkalan Brandan menuju Tuasan (rumpon), lokasi biasa para nelayan mencari ikan. Setelah tiba di lokasi pada sekitar pukul 18.00 WIB, kapal kemudian ditambatkan di atas tuasan.
Namun pada sekitar pukul 19.00 WIB, muncul badai di perairan mereka berada dan menyebabkan ombak menjadi tinggi. Wilayah perairan itu kemudian diterjang ombak tinggi hingga mengakibatkan kapal mereka digenangi air.
Banyak dan cepatnya air yang masuk ke kapal membuat para nelayan tidak mampu mengiringinya melakukan pembuangan. Tidak lama kemudian kapal itu pun tenggelam dan mereka terombang-ambing di laut.
Baca juga : 2 Nelayan Tenggelam saat Mencari Keong di Pantai Batu Hiu Pangandaran
Berusaha bertahan hidup, mereka menggunakan tutup kotak penyimpanan ikan yang terbuat dari fiber untuk tetap mengapung di air. Beruntung, esok harinya sekitar pukul 16.00 Wib, kapal MV Mersk Qinzhou melintasi perairan tersebut.
Kru kapal berbendera Singapura itu kemudian menyelamatkan kelima nelayan dan selanjutnya melaporkan kejadian ini ke agen kapal yang berada di Indonesia. Informasi kejadian itu lalu diteruskan agen kapal ke Basarnas Medan.
Setelah mendapat informasi tersebut, lanjut Mustari, pihaknya segera berkoordinasi dengan pihak agen dan nakhoda kapal. Selanjutnya disepakati tindakan intercept oleh Basarnas Medan pada titik koordinat yang sudah ditentukan.
Baca juga : Jaring Nelayan, Tni, Polri, dan Nelayan Evakuasi HiuTutul ke Tengah Laut
Malamnya, sekitar pukul 23.50 WIB, nahkoda kapal SAR RB 203 Belawan bersama dengan dua orang ABK bergerak menuju lokasi intercept. Adapun lokasi intercept berjarak sekitar 90 NM (Nautical Mile) menuju perairan Selat Malaka dari Pelabuhan Belawan.
Selanjutnya mereka langsung mengevakuasi kelima nelayan dan tiba di Pelabuhan Belawan pada Selasa (9/7) sekitar pukul 04.05 WIB. Para nelayan dapat didaratkan ke Belawan dengan selamat.
Setibanya di Pelabuhan Belawan, sambung Mustari, tim SAR mengistirahatkan kelima nelayan tersebut di Kapal SAR RB 203 Belawan. Saat beristirahat, diberikan juga pertolongan medis kepada nelayan yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Baca juga : Tim SAR Evakuasi Tiga Nelayan Aceh yang Terapung 14 Hari di Samudera Hindia
"Kami sangat bersyukur bahwa operasi penyelamatan ini berjalan lancar dan semua nelayan yang terdampar telah berhasil dievakuasi dengan selamat," tambah Mustari.
Basarnas Medan mengapresiasi kerja sama dari semua pihak yang turut membantu keberhasilan operasi penyelamatan. Termasuk diantaranya TNI AL Belawan, Ditpolairud Polda Sumut, Syahbandar Belawan, dan Otoritas Pelabuhan Belawan.
(Z-9)
Basarnas mengerahkan 14 personel tambahan dari Basarnas Special Group untuk mengevakuasi lima korban yang terhimpit dalam kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Melihat posisi korban yang berada jauh di bawah tebing dan ancaman kenaikan permukaan air laut, tim memutuskan untuk menempuh jalur udara guna mempercepat proses evakuasi.
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sekitar 100 warga terdampak banjir di kawasan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada Selasa malam (7/4).
BMKG menegaskan tak ada rekomendasi evakuasi lanjutan usai peringatan tsunami Malut-Sulut dicabut, namun warga diminta cek keamanan bangunan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengevakuasi 32 Warga Negara Indonesia dari Iran
Rosatom evakuasi ratusan pekerja dan keluarga dari PLTN Bushehr, Iran. Pembangunan Unit 2 dan 3 dihentikan sementara akibat situasi keamanan yang kian membahayakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved