Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN pedagang Pasar Induk Cianjur, Jawa Barat berunjuk rasa ke Pendopo Cianjur, Selasa (30/4) siang. Mereka menagih janji Pemkab Cianjur yang akan menjamin keberadaan pasar akan ramai. Namun kondisi itu kontradiktif dengan keadaan sekarang. Banyak pedagang bangkrut akibat sepinya pembeli.
"Tuntutan pedagang Pasar Induk Cianjur pada dasarnya bukan sesuatu hal yang baru, tapi sudah lama. Mereka (Pemkab Cianjur) menjanjikan kepada kita terkait Pasar Bojongmeron, eks Pegadaian yang akan ditinjau ulang perizinannya karena akan menyaingi pedagang Pasar Induk Cianjur. Tapi tidak ada realisasinya. Masih banyak yang berjualan di lokasi-lokasi itu," tegas Ketua DPP Pasir Induk Cianjur Pasirhayam, Habib Hud Alaidrus, Selasa (30/4).
Selain itu, kata dia, janji pemerintah yang mewajibkan angkutan kota masuk ke kawasan Pasar Induk Cianjur kenyataannya hanya isapan jempol belaka Pasalnya, masih banyak sopir angkutan kota ngeyel lantaran enggan masuk ke kawasan Pasar Induk Cianjur.
"Sebetulnya pemerintah bisa menindak dengan penilangan atau mencabut trayek angkutan kota yang membandel. Janji pemerintah juga yang akan memperbaiki berbagai fasilitas belum juga dilaksanakan," tuturnya.
Kondisi itu, tambah Hud, berdampak terhadap keberlangsungan nasib para
pedagang. Semula saat pemindahan sekitar 2015 lalu terdapat lebih kurang 3.400-an pedagang. Sekarang hanya tersisa sekitar 1.800-an pedagang.
"Kebanyakan bangkrut karena kondisi pasar sangat sepi," ungkapnya.
Menurut Hud, Pemkab Cianjur pernah menjanjikan akan membuat berbagai event di kawasan Pasar Induk Cianjur. Tujuannya untuk menarik masyarakat datang ke pasar untuk berbelanja. Namun sampai sekarang belum pernah dilakukan.
Para pedagang meminta Pemkab Cianjur segera merealisasikan janji-janji. Ia menambahkan dulu saat proses pemindahan pedagang ke Pasar Induk Cianjur, pemkab juga menjanjikan hanya ada satu pasar agar terpusat di satu titik.
"Tapi sekarang banyak bermunculan pasar di mana-mana. Kami tunggu realisasi dari janji-janji itu. Kalau dikerjakan kami ucapkan terima kasih. Kalau tidak, kami tak akan bayar uang retribusi. Besaran retribusi bervariasi, ada yang Rp1.500, ada yang Rp2 ribu, dan ada juga yang Rp5 ribu per hari," pungkasnya.
Kepala Dinas KUMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Cianjur, Himam Haris menanggapi hal itu mengaku sejauh ini Pemkab Cianjur sudah berupaya optimal agar Pasar Induk Cianjur selalu ramai dikunjungi pembeli.
baca juga : Pemerintah Bangun 1.037 Pasar Rakyat untuk Jaga Stabilitas Harga
"Kami sudah dan sedang melaksanakan semua tuntutan para pedagang itu. Penataan kawasan pasar, penataan lampu-lampu, termasuk soal jalur angkot, kami sudah berkoordinasi dengan polisi. Cuma ada yang akan dikerjakan Dinas PUPR setelah selesai Pemilu," terang Himam.
Penertiban para pedagang di eks Pasar Bojongmeron, sebut Himam, sampaisekarang sedang dilakukan. Pada prinsipnya, tegas Himam, Pemkab Cianjur berupaya optimal memenuhi keinginan para pedagang. (OL-3)
Inkoppas menegaskan kelangkaan plastik tidak menjadi isu utama yang mengganggu pasar rakyat saat ini, tetapi kenaikan biaya transportasi akibat isu kenaikan harga solar.
Berdasarkan pantauan, pada Minggu (29/3), ketinggian sampah do Pasar Induk Kramat Jati bahkan telah melampaui lampu penerangan jalan, namun tidak terlihat adanya aktivitas pengangkutan.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Kopi luwak dikenal dengan proses produksi unik melalui fermentasi alami oleh Asian Palm Civet (Paradoxurus hermaphroditus).
Selain kendala fisik, pasar tersebut juga kerap dijadikan tempat berkumpulnya gelandangan dan pengemis
Melubernya sampah ke jalan tersebut terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved