Kesaksian Korban: Detik-Detik Mencekam Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Insi Nantika Jelita
28/4/2026 13:14
Kesaksian Korban: Detik-Detik Mencekam Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
Ilustrasi(Dok Metro TV)

MALAM itu, Senin (27/4), suasana di Stasiun Bekasi Timur berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik. Maksus (39), salah satu penumpang yang selamat dari kecelakaan kereta api Argo Bromo relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi yang menghantam KRL Commuter Line tujuan Cikarang, masih mengingat jelas detik-detik mencekam yang ia alami.

Awalnya, ia tidak merasakan tanda bahaya yang berarti. Namun, ia merasa janggal karena kereta yang ditumpanginya berhenti lebih lama dari biasanya saat menurunkan penumpang di stasiun. Rasa penasaran mendorongnya turun dari gerbong depan untuk melihat situasi.

Tak lama setelah itu, suara benturan keras memecah suasana. Maksus mengira bunyi tersebut berasal dari insiden lain di sekitar rel, bukan tabrakan antar kereta. Namun, dalam sekejap, kondisi berubah drastis. Pintu-pintu gerbong bergetar keras, terbuka dan tertutup akibat guncangan hebat. Lampu di dalam kereta mendadak padam.

“Saya gemetar. Waktu itu belum sadar kalau itu tabrakan kereta,” katanya saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (28/4).

Di tengah kegelapan akibat listrik yang padam, ia melihat bagian dalam gerbong rusak parah. Lampu-lampu jatuh, kursi tercabut, dan beberapa penumpang terjepit di bagian atas gerbong. Bahkan, ada korban yang tersangkut di langit-langit kereta.

Ketika situasi mulai terlihat jelas, Maksus mengaku panik. Dari arah gerbong belakang, terdengar teriakan minta tolong bersahutan. Sejumlah penumpang keluar dengan kondisi terluka, sebagian bahkan tidak mampu berjalan. Darah terlihat di beberapa bagian tubuh korban.

“Ada yang menangis, teriak minta tolong. Di gerbong belakang lebih parah," ungkapnya. 

Meski diliputi rasa takut, Maksus tetap berusaha membantu penumpang lain. Ia sempat menolong seorang korban dengan luka serius di bagian kaki dan tubuh, yang sudah tidak lagi memikirkan barang bawaannya.

“Yang penting selamat dulu. Barang sudah tidak tahu ke mana,” tuturnya.

Tak berselang lama, petugas dan tim penyelamat mulai berdatangan. Ambulans memenuhi area stasiun, membawa korban ke rumah sakit. Menurut Maksus, jumlahnya sangat banyak hingga membuat suasana semakin tegang.

Ia baru bisa meninggalkan lokasi sekitar pukul 00.00 WIB, setelah ikut membantu proses evakuasi dan menghubungi keluarga serta kerabat.

Kini, meski selamat, trauma masih membekas dalam dirinya. Rasa takut dan syok belum sepenuhnya hilang. Namun di balik itu, ia bersyukur masih diberi keselamatan.

“Masih takut, tapi saya bersyukur masih selamat,” ucapnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya