Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA premanisme yang masih tinggi di Ibu Kota dinilai bukan persoalan tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor sosial yang saling berkaitan. Sosiolog Musni Umar menyebut, pendekatan penanganannya pun tidak bisa parsial, melainkan harus menyentuh akar persoalan.
“Tidak mudah mengatasi premanisme karena premanisme terkait dengan berbagai faktor,” ujar Musni saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, faktor pertama adalah pendidikan. Mayoritas pelaku premanisme memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sehingga sulit bersaing di pasar kerja formal.
Kata Musni, Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas baru mencapai 9,41 tahun, atau setara lulusan SMP hingga awal SMA.
“Kondisi itu membuat mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan. Mau berdagang juga terkendala—tidak ada yang membimbing, tidak punya talenta bisnis, dan tidak ada modal. Akhirnya, untuk bertahan hidup, sebagian memilih jalan premanisme,” katanya.
Selain pendidikan, faktor ekonomi juga menjadi pendorong kuat. Musni menilai, rendahnya tingkat pendidikan berbanding lurus dengan lemahnya kondisi ekonomi masyarakat.
Kelompok dengan akses pendidikan terbatas cenderung terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.
Faktor lain yang disorot adalah persoalan mentalitas dan lingkungan sosial. Menurutnya, sebagian pelaku terjebak dalam pola hidup yang tidak produktif, berkumpul dalam kelompok yang sama, dan menggantungkan hidup dari aktivitas yang menyimpang.
“Untuk makan, merokok, dan kebutuhan sehari-hari, mereka akhirnya terpaksa melakukan aksi premanisme,” ujarnya.
Musni menegaskan, penanganan persoalan ini tidak cukup hanya dengan penertiban atau pendekatan hukum. Diperlukan intervensi yang lebih komprehensif untuk mengubah perilaku dan membuka jalan hidup baru bagi para pelaku.
Ia menawarkan sejumlah langkah strategis. Pertama, perubahan mentalitas melalui program kamp motivasi dan pelatihan dengan mentor yang kompeten. Kedua, pendampingan pascapelatihan dengan mendorong mereka masuk ke sektor pekerjaan seperti satpam atau usaha informal.
Ketiga, penguatan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan motivasi hidup. Terakhir, membuka akses ekonomi melalui dukungan usaha mikro dan kecil, mulai dari penyediaan modal, tempat usaha, hingga perlindungan dan pengawasan.
“Kalau ini dilakukan secara serius dan berkelanjutan, mereka bisa berubah menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (Far/P-3)
Sosiolog IPB Dr Ivanovich Agusta menyebut maraknya penipuan online di Indonesia bukan sekadar kelalaian individu, melainkan gejala kerentanan sosial.
Ia menjelaskan, ketimpangan yang terjadi di perkotaan seperti Jakarta menciptakan ruang-ruang kerentanan sosial.
SOSIOLOG UI Rissalwan Habdy Lubis, mengatakan bahwa tragedi kematian yang terjadi di acara pernikahan anak Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, terjadi karena antusiasme masyarakat.
Akses pendidikan yang layak masih sulit dijangkau oleh masyarakat kurang mampu. Ketimpangan ini menghambat kemajuan individu dan pembangunan bangsa.
Nilai-nilai etika modern yang saat ini berlaku dalam masyarakat dipenuhi nilai-nilai abstrak sehingga perlu dikonkretkan dalam etika praktis, seperti sosok teladan yang menjadi panutan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved