Iran Ajukan Proposal Baru Usai Trump Batalkan Perundingan

Ferdian Ananda Majni
27/4/2026 12:30
Iran Ajukan Proposal Baru Usai Trump Batalkan Perundingan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Kiri) bertemu dengan Kepala Staf Umum Pakistan Asim Munir (Kanan).(Anadolu/Iranian Ministry of Foreign Affairs)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Pakistan untuk membahas perundingan damai dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (25/4).

Keputusan tersebut diambil karena Trump menilai pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kemajuan berarti.

Meski membatalkan agenda diplomatik itu, Trump menegaskan bahwa langkah tersebut tidak serta-merta menandakan kelanjutan konflik. 

Ia juga mengungkapkan bahwa pihak Iran sempat mengajukan revisi proposal negosiasi tak lama setelah keputusan pembatalan dibuat.

"Mereka memberi kami sebuah dokumen yang seharusnya lebih baik dan yang menarik segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami menerima dokumen baru yang jauh lebih baik," katanya kepada wartawan dilansir AFP, Senin (27/4).

Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan bahwa Jared Kushner dan Steve Witkoff akan bertolak ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Namun, dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan perjalanan tersebut dibatalkan.

"Kami memegang semua kartu. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja mereka mau, tetapi Anda tidak akan lagi melakukan penerbangan 18 jam hanya untuk duduk-duduk membicarakan hal-hal yang tidak penting," sebutnya.

Trump kembali menegaskan bahwa keputusan itu bukan sinyal dimulainya kembali perang. 

"Tidak, itu tidak berarti demikian. Kami belum memikirkannya," ucapnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Islamabad. 

Dalam lawatan tersebut, ia bertemu dengan Panglima Militer Pakistan Asim Munir, yang berperan sebagai mediator utama, serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.

Pihak Iran menyatakan bahwa Araghchi telah melanjutkan perjalanan ke Muscat dan dijadwalkan kembali ke Pakistan setelah menghadiri pertemuan di Oman. 

Selanjutnya, ia juga direncanakan bertolak ke Rusia untuk membahas upaya penghentian perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.

Araghchi menilai kunjungannya ke Pakistan sebagai langkah yang produktif, meski ia tetap meragukan keseriusan Washington dalam proses diplomasi. 

"Kita masih harus melihat apakah AS benar-benar serius dalam diplomasi," ujarnya.

Sebelum keputusan pembatalan oleh Trump, prospek perundingan memang sudah dinilai belum pasti. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Araghchi tidak berencana bertemu langsung dengan pejabat Amerika Serikat, sementara Pakistan akan berperan sebagai perantara dalam penyampaian usulan dari kedua pihak.

Sementara itu, Shehbaz Sharif menyatakan bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menegaskan komitmen Islamabad untuk terus memfasilitasi upaya perdamaian di kawasan. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya