Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN di Selat Hormuz memasuki babak baru setelah Iran mengklaim telah memasang ranjau laut di jalur pelayaran vital tersebut untuk mencegah lalu lintas independen. Ancaman ini memicu kekhawatiran global, mengingat status selat tersebut sebagai arteri utama pasokan energi dunia.
Menanggapi situasi ini, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan kesiapan negaranya untuk mengerahkan unit pembersihan ranjau dan pengintaian maritim. "Kami ahli dalam hal itu," tegas Merz. Katanya, misi multinasional ini memerlukan dasar hukum yang kuat untuk intervensi di wilayah sensitif tersebut.
Ranjau laut merupakan senjata bawah air yang relatif murah namun mematikan. Berbeda dengan ranjau era Perang Dunia yang membutuhkan kontak fisik, ranjau modern jauh lebih canggih. Johannes Peters, ahli peperangan bawah laut dari Universitas Kiel, menjelaskan bahwa perangkat saat ini dapat dipicu oleh tanda magnetik, gelombang suara (akustik), hingga perubahan tekanan air dari kapal yang lewat.
Secara umum, terdapat tiga jenis ranjau berdasarkan penempatannya:
Bahkan, ranjau modern dapat diprogram untuk hanya menyerang kelas kapal tertentu berdasarkan profil akustiknya, sehingga kapal sekutu tetap bisa melintas dengan aman sementara kapal musuh menjadi target.
Proses pembersihan ranjau secara tradisional sangat memakan waktu dan berisiko tinggi. Namun, teknologi drone atau kendaraan bawah air otonom (AUV) kini menjadi pengubah permainan. Angkatan Laut Jerman mulai menggunakan sistem otonom untuk memetakan dasar laut tanpa harus mempertaruhkan nyawa personel.
"Sistem otonom berarti puluhan nyawa tidak lagi harus dipertaruhkan secara langsung di zona bahaya," ujar Kapten Fregat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 Angkatan Laut Jerman.
Perusahaan Jerman, Euroatlas, tengah mengembangkan drone Greyshark yang mampu beroperasi lebih lama dan menempuh jarak jauh. Versi bertenaga baterai dijadwalkan mulai diproduksi pada September 2026, disusul model sel bahan bakar yang mampu beroperasi selama satu minggu penuh di bawah air.
Meski teknologi drone menawarkan solusi, Selat Hormuz memberikan tantangan unik. Jangkauan senjata pesisir Iran yang jauh membuat kapal induk drone sulit mendekat ke area pencarian. Markus Beer dari Euroatlas menekankan bahwa drone dengan jangkauan luas seperti Greyshark sangat krusial karena dapat dilepaskan dari jarak aman tanpa memperburuk situasi geopolitik.
Hingga saat ini, keberadaan pasti ranjau di Selat Hormuz masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Namun, ancaman psikologis dari keberadaan ranjau tersebut sudah cukup untuk mengganggu stabilitas pasar dan asuransi pelayaran internasional. Pengalaman di Laut Hitam menunjukkan bahwa pembersihan ranjau pascakonflik bisa memakan waktu puluhan tahun, mengingat ranjau dari era Perang Dunia pun terkadang masih ditemukan dalam kondisi aktif. (DW/I-2)
Presiden AS Donald Trump instruksikan Angkatan Laut tembak kapal pemasang ranjau di Selat Hormuz di tengah gencatan senjata dengan Iran yang memanas.
Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut AS melakukan blokade total di Selat Hormuz untuk melumpuhkan ekonomi Iran.
Presiden Donald Trump mengancam konsekuensi militer "tingkat tinggi" jika Iran nekat memasang ranjau di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved