Ancaman Ranjau Selat Hormuz, Jerman Tawarkan Teknologi Drone Pembersih

Wisnu Arto Subari
21/4/2026 07:00
Ancaman Ranjau Selat Hormuz, Jerman Tawarkan Teknologi Drone Pembersih
Selat Hormuz.(Al Jazeera)

KETEGANGAN di Selat Hormuz memasuki babak baru setelah Iran mengklaim telah memasang ranjau laut di jalur pelayaran vital tersebut untuk mencegah lalu lintas independen. Ancaman ini memicu kekhawatiran global, mengingat status selat tersebut sebagai arteri utama pasokan energi dunia.

Menanggapi situasi ini, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan kesiapan negaranya untuk mengerahkan unit pembersihan ranjau dan pengintaian maritim. "Kami ahli dalam hal itu," tegas Merz. Katanya, misi multinasional ini memerlukan dasar hukum yang kuat untuk intervensi di wilayah sensitif tersebut.

Bahaya Ranjau Laut Modern

Ranjau laut merupakan senjata bawah air yang relatif murah namun mematikan. Berbeda dengan ranjau era Perang Dunia yang membutuhkan kontak fisik, ranjau modern jauh lebih canggih. Johannes Peters, ahli peperangan bawah laut dari Universitas Kiel, menjelaskan bahwa perangkat saat ini dapat dipicu oleh tanda magnetik, gelombang suara (akustik), hingga perubahan tekanan air dari kapal yang lewat.

Secara umum, terdapat tiga jenis ranjau berdasarkan penempatannya:

  • Ranjau Apung: Mengambang bebas di permukaan air.
  • Ranjau Tambat: Terikat ke dasar laut tetapi melayang di bawah permukaan.
  • Ranjau Dasar: Terletak langsung di dasar laut, sangat sulit dideteksi.

Bahkan, ranjau modern dapat diprogram untuk hanya menyerang kelas kapal tertentu berdasarkan profil akustiknya, sehingga kapal sekutu tetap bisa melintas dengan aman sementara kapal musuh menjadi target.

Revolusi Pembersihan dengan Drone

Proses pembersihan ranjau secara tradisional sangat memakan waktu dan berisiko tinggi. Namun, teknologi drone atau kendaraan bawah air otonom (AUV) kini menjadi pengubah permainan. Angkatan Laut Jerman mulai menggunakan sistem otonom untuk memetakan dasar laut tanpa harus mempertaruhkan nyawa personel.

"Sistem otonom berarti puluhan nyawa tidak lagi harus dipertaruhkan secara langsung di zona bahaya," ujar Kapten Fregat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 Angkatan Laut Jerman.

Teknologi Greyshark:

Perusahaan Jerman, Euroatlas, tengah mengembangkan drone Greyshark yang mampu beroperasi lebih lama dan menempuh jarak jauh. Versi bertenaga baterai dijadwalkan mulai diproduksi pada September 2026, disusul model sel bahan bakar yang mampu beroperasi selama satu minggu penuh di bawah air.

Tantangan di Selat Hormuz

Meski teknologi drone menawarkan solusi, Selat Hormuz memberikan tantangan unik. Jangkauan senjata pesisir Iran yang jauh membuat kapal induk drone sulit mendekat ke area pencarian. Markus Beer dari Euroatlas menekankan bahwa drone dengan jangkauan luas seperti Greyshark sangat krusial karena dapat dilepaskan dari jarak aman tanpa memperburuk situasi geopolitik.

Hingga saat ini, keberadaan pasti ranjau di Selat Hormuz masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Namun, ancaman psikologis dari keberadaan ranjau tersebut sudah cukup untuk mengganggu stabilitas pasar dan asuransi pelayaran internasional. Pengalaman di Laut Hitam menunjukkan bahwa pembersihan ranjau pascakonflik bisa memakan waktu puluhan tahun, mengingat ranjau dari era Perang Dunia pun terkadang masih ditemukan dalam kondisi aktif. (DW/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya