PROFESOR Jiang Xueqin memberikan bedah tuntas mengenai situasi geopolitik terkini di Timur Tengah pascakegagalan pembicaraan tingkat tinggi di Islamabad. Dalam analisisnya, ia menggunakan metafora pintu terkunci untuk menggambarkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang justru menjebak dirinya sendiri.
Metafora Pintu: Menambah Kunci tidak akan Membukanya
Dalam podcast miliknya, Prof. Jiang mengibaratkan Amerika Serikat seperti seseorang yang terkunci di dalam ruangan bersama musuhnya. Setelah berminggu-minggu berteriak dan mengancam agar pintu dibuka, AS justru memasang kunci tambahan pada pintu tersebut.
Tindakan ini merujuk pada keputusan Presiden Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz. Jalur yang selama enam minggu terakhir ini ia tuntut agar tetap terbuka.
Kegagalan Islamabad: Diplomasi yang Dirancang untuk Gagal
Negosiasi selama 21 jam di Islamabad antara Wakil Presiden AS, J.D. Vance, dan Ketua Parlemen Iran, Ghalibaf, berakhir buntu. Prof. Jiang mengungkapkan bahwa kegagalan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari tuntutan yang tidak masuk akal.
Faktor Sabotase: Tuntutan utama AS agar Iran menghapus seluruh kemampuan pengayaan uraniumnya dianggap sebagai agenda Israel, bukan kepentingan inti Amerika. Sementara negosiasi berlangsung, Israel terus membombardir Libanon, yang secara otomatis membatalkan syarat utama Iran untuk gencatan senjata regional.
5 Alasan Struktural Blokade AS akan Gagal
Prof. Jiang memaparkan lima realitas struktural yang akan membuat kebijakan blokade ini menjadi bumerang bagi Washington:
- Menyakiti AS Lebih dari Iran: Iran telah terbiasa dengan sanksi selama 47 tahun. Sebaliknya, harga minyak dunia melonjak di atas US$104 per barel segera setelah pengumuman blokade, menghancurkan kepercayaan konsumen Amerika ke titik terendah dalam sejarah.
- Amerika Berdiri Sendiri: Sekutu tradisional seperti Inggris dan Australia menolak berpartisipasi. Inggris bahkan membangun koalisi sendiri yang terdiri dari 40 negara untuk mencari solusi diplomatik, meninggalkan AS terisolasi.
- Gertakan Tiongkok: Menteri Pertahanan Tiongkok, Laksamana Dong Jun, secara terbuka menyatakan kapal-kapal Tiongkok akan tetap melintasi Selat Hormuz. Tiongkok juga mulai membayar tol transit kepada Iran menggunakan yuan, bukan dolar, serta mengirimkan sistem pertahanan udara MANPADS ke Teheran.
- Opsi Eskalasi Iran di Laut Merah: Jika Hormuz ditutup, Iran melalui sekutu Houthi di Yaman dapat menutup Bab el-Mandeb di Laut Merah. Penutupan dua titik krusial ini akan mengubah resesi global menjadi depresi ekonomi besar.
- Rusia Menjadi Pemenang Finansial: Setiap barel minyak yang terjebak di Teluk Persia akan digantikan oleh minyak Rusia. Pendapatan pajak minyak Rusia melonjak menjadi US$9 miliar per bulan akibat kenaikan harga yang dipicu oleh kebijakan AS sendiri.
Ego vs Strategi: Prediksi Masa Depan
Menurut Prof. Jiang, blokade ini bukanlah langkah strategis yang diperhitungkan, melainkan reaksi emosional Trump terhadap penghinaan diplomatik. Ia memberikan tiga prediksi penting:
| Prediksi | Estimasi Waktu & Dampak |
|---|---|
| Kolapsnya Blokade | Dalam 45 hari, harga bensin AS mendekati US$6 atau Rp102 ribu/galon, memaksa Trump mengakhiri blokade secara diam-diam. |
| Pelanggaran oleh Tiongkok | Dalam 3 minggu, kapal berbendera Tiongkok akan melintasi blokade tanpa berani dihentikan oleh Angkatan Laut AS. |
| Isolasi Amerika | Dalam 6 bulan, blokade ini justru akan memperkuat posisi tawar Iran dan mengisolasi AS secara internasional. |
Analisis ini menyimpulkan bahwa setiap langkah yang diambil Amerika Serikat dalam perang ini justru memperlemah dirinya sendiri dan memperkuat para pesaingnya. "Anda tidak menemukan strategi. Anda menemukan cermin yang memperlihatkan wajah kekaisaran yang tidak lagi mengenali dirinya sendiri," tutup Prof. Jiang. (I-2)
