Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington membuka seluruh opsi, termasuk tindakan militer, dalam pendekatannya terhadap Iran. Hegseth mendesak Teheran untuk segera kembali ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan nuklir baru.
Berbicara kepada awak media saat kunjungan kerja di Colorado pada Senin (23/2/2026), Hegseth menyampaikan bahwa meskipun Presiden Donald Trump memprioritaskan solusi diplomatik, militer AS telah menyiapkan rencana darurat (contingency plans) jika negosiasi menemui jalan buntu.
"Iran harus membuat kesepakatan. Mereka memiliki kesempatan sekarang, dan itulah hasil yang lebih diinginkan oleh presiden," ujar Hegseth tegas.
Hegseth menekankan bahwa tugas utama Pentagon saat ini adalah menyediakan berbagai opsi strategis bagi Panglima Tertinggi. Ia tidak menampik bahwa serangan militer tetap masuk dalam pertimbangan serius jika Iran memutuskan untuk menolak poin-poin kesepakatan yang ditawarkan.
"Semua masih menjadi opsi. Itu keputusan presiden. Kami di sini untuk membantu memastikan kesepakatan tercapai, dan saya pikir Iran akan bijak jika memilih untuk membuat kesepakatan yang baik," tambahnya.
Pernyataan Menhan Hegseth ini memperkuat posisi AS yang tetap agresif tetapi terbuka pada jalur diplomasi, sekaligus memberikan tekanan psikologis menjelang pertemuan tingkat tinggi di Eropa.
Di saat yang sama, Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social membantah keras laporan media yang menyebut adanya penolakan dari internal militer. Sebelumnya, beredar rumor bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, memperingatkan risiko besar dari konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
"Banyak cerita dari media berita palsu yang menyatakan Jenderal Daniel Caine menentang kita untuk pergi berperang dengan Iran. Itu 100 persen tidak benar," tulis Trump.
Trump menegaskan kembali bahwa otoritas penuh terkait pengerahan kekuatan militer berada di bawah kendalinya. Ia menyatakan lebih memilih kesepakatan damai, namun tidak akan ragu mengambil langkah drastis jika kepentingan nasional AS terancam.
"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan rakyatnya. Hal seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi pada mereka," ucap Trump menambahkan.
Ketegangan antara Washington dan Teheran ini terjadi hanya beberapa hari sebelum delegasi kedua negara dijadwalkan bertemu di Jenewa, Swiss, pada Kamis mendatang. Pertemuan ini dianggap sebagai peluang terakhir untuk meredakan spekulasi perang yang kian memanas di tingkat regional.
Dunia internasional kini menyoroti apakah tekanan ekonomi dan ancaman militer dari pemerintahan Trump akan berhasil memaksa Iran menandatangani kesepakatan baru, atau justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. (Anadolu/Ant/I-2)
Kondisi itu memperkuat kekhawatiran akan pecahnya kembali peperangan seiring dengan berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu mendatang.
AGRESI militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran disebut telah memberikan dampak serius terhadap citra negara tersebut di mata internasional.
Presiden AS Donald Trump mengecam keras Paus Leo XIV setelah sang Paus mengkritik kebijakan AS di Iran dan Venezuela. Trump meminta Vatikan berhenti berpolitik.
Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai serangan militer AS ke Iran merupakan upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan perhatian dari skandal Epstein Files.
Wakil presiden tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin mendahului Presiden Donald Trump
Militer AS mengerahkan bom raksasa 5.000 pon untuk hancurkan situs bawah tanah Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved