Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan investasi besar-besaran terhadap bidang energi bersih di negara-negara berkembang. Apalagi hanya ada sedikit harapan untuk menanggulangi secara efektif ancaman perubahan iklim pada tahun 2030.
Badan perdagangan dan pembangunan PBB, UNCTAD melaporkan negara-negara berkembang membutuhkan investasi energi terbarukan sekitar US$1,7 triliun per tahun. Namun hanya menarik investasi asing langsung dalam energi bersih senilai US$544 miliar di tahun 2022.
"Kita tidak dapat memenuhi kebutuhan energi dunia dan melindungi planet kita serta masa depan kita tanpa investasi besar-besaran dari sektor swasta di bidang energi terbarukan di negara-negara berkembang," ujar Kepala PBB Antonio Guterres.
Baca juga : Menteri LHK dan Presiden IUCN Bahas Kerja Sama Pelestarian Keanekaragaman Hayati
"Kita setidaknya terlambat satu dekade dalam upaya kita memerangi pemanasan global. Oleh karena itu, investasi dalam energi terbarukan di negara-negara berkembang sangat penting dan seringkali merupakan cara yang paling ekonomis untuk menjembatani kesenjangan energi,” ujarnya.
"Namun, meskipun transisi menuju energi terbarukan merupakan prioritas global, investasi dalam infrastruktur dan efisiensi energi masih jauh dari yang dibutuhkan,” tambahnya.
Investasi internasional dalam energi terbarukan meningkat hampir tiga kali lipat sejak kesepakatan iklim Paris dicapai pada tahun 2015, UNCTAD mencatat dalam Laporan Investasi Dunia tahunannya. Namun, sebagian besar pertumbuhan tersebut terjadi di negara-negara maju.
Baca juga : Kritik pada Kesepakatan Rancangan Iklim COP28 yang Kurang Komitmen Penghentian Bahan Bakar Fosil
Sejak tahun 2015, 31 negara berkembang, termasuk 11 negara kurang berkembang, belum mendaftarkan satu pun proyek investasi internasional berukuran besar di bidang energi terbarukan atau sektor transisi energi lainnya.
"Skala tantangannya sangat besar," ujar kepala UNCTAD Rebeca Grynspan.
"Peningkatan yang signifikan dalam investasi dalam sistem energi berkelanjutan di negara-negara berkembang sangat penting bagi dunia untuk mencapai tujuan iklim pada tahun 2030,” pungkasnya. (CNA/Fer/Z-7)
Ketua Umum PLN Watch KRT Tohom Purba menilai proyek PLTS 100 GWp sebagai langkah strategis Indonesia hadapi krisis energi global dan konflik geopolitik.
Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) mengumpulkan minyak jelantah di Pendopo Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Indonesia dan Korea Selatan menandatangani 10 MoU strategis dalam kunjungan Presiden Prabowo. Simak daftar lengkap kerja sama dari AI hingga energi bersih.
Transformasi menuju praktik green mining semakin menjadi perhatian di sektor pertambangan Indonesia seiring meningkatnya tuntutan global terhadap dekarbonisasi.
Tujuan utama inisiatif ini ialah merespons krisis iklim global yang dampaknya semakin terasa di Indonesia, lewat pendekatan moral, spiritual, dan aksi kolektif berbasis nilai-nilai Islam.
Pemerintah mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien dan rendah emisi di sektor industri melalui pengoperasian pabrik mini liquefied natural gas (LNG) di Pasuruan.
DANA Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ada 12 negara akan mengajukan program pinjaman mengatasi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasokan oleh perang di Timur Tengah
Mengapa transplantasi ginjal sulit berkembang di negara berkembang? Studi terbaru mengungkap 4 kendala utama, mulai dari biaya hingga faktor sosial.
Dalam percakapan global tentang masa depan modal dan ekonomi Asia Tenggara, Indonesia bukanlah sekadar pasar negara berkembang, melainkan sebuah ekonomi kepulauan.
Proses mempertemukan pelaku usaha atau business matchmaking dianggap menjadi jurus ampuh bagi Indonesia untuk bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 7 yang diadopsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah energi bersih dan terjangkau.
"Tagih utang iklim kepada negara maju. Bukan dagang karbon. Karena negara-negara maju punya utang iklim, mereka sudah pakai fosil duluan,"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved