PLN Watch: Pengembangan PLTS 100 GW Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Andhika Prasetyo
25/4/2026 06:18
PLN Watch: Pengembangan PLTS 100 GW Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Ketua Umum PLN Watch, KRT Tohom Purba(PLN Watch)

Ketua Umum PLN Watch, KRT Tohom Purba, memberikan apresiasi tinggi terhadap rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Langkah ini dinilai sebagai fondasi progresif untuk membangun kedaulatan energi nasional yang lebih tangguh di tengah ketidakpastian global.

“Ini bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi kesiapan menghadapi dinamika energi masa depan,” ujar Tohom dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (25/4).

Integrasi Teknologi dan Stabilitas Pasokan

Tohom menekankan bahwa kunci keberhasilan transisi ini terletak pada integrasi PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi penyimpanan energi ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas pasokan listrik yang bersumber dari energi bersih, mengingat sifat energi surya yang intermiten.

Menurutnya, penguatan ketahanan energi domestik menjadi harga mati bagi Indonesia. Terlebih saat ini dunia tengah dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik tersebut berdampak signifikan terhadap fluktuasi harga dan stabilitas pasokan energi dunia.

Oleh karena itu, strategi PT PLN (Persero) dalam mempercepat transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) serta mendorong efisiensi energi dianggap sebagai langkah yang tepat dan berorientasi jangka panjang.

Posisi Tawar Indonesia di Kancah Global

Dinamika global saat ini tidak hanya berkutat pada persoalan harga, tetapi juga menyentuh aspek kendali atas sumber daya dan keberlanjutan ekonomi nasional. Tohom meyakini bahwa kemandirian energi akan meningkatkan posisi tawar Indonesia di mata internasional.

“Negara yang mampu mengendalikan energinya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat, dan PLN sedang bergerak ke arah tersebut,” tegasnya.

Baca Juga: Program dedieselisasi yang mengalihkan pembangkit diesel ke energi terbarukan dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat neraca energi nasional.

Transisi yang Realistis dan Adaptif

Selain fokus pada PLTS, PLN Watch juga menyoroti strategi co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pendekatan ini dipandang sebagai langkah transisi yang realistis dan adaptif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional yang terus meningkat dengan komitmen pelestarian lingkungan.

Tohom berharap Indonesia tidak hanya berhenti sebagai konsumen teknologi energi global, tetapi bertransformasi menjadi pemain utama.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen energi global, tetapi harus menjadi produsen sekaligus inovator dalam energi bersih,” pungkas Tohom.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya