Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahun, lebih dari dua triliun ikan liar dan hasil budidaya dibunuh untuk konsumsi manusia. Di balik piring hidangan laut yang tersaji, sebuah fakta biologis sederhana sering kali terabaikan: ikan bisa merasakan sakit.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menyoroti penderitaan intens yang dialami ikan, khususnya jenis rainbow trout (trout pelangi), saat proses penyembelihan. Studi ini tidak hanya memaparkan rasa sakit tersebut, tetapi juga menawarkan jalan untuk menguranginya melalui metode yang lebih manusiawi.
Selama ini, penderitaan hewan tidak memiliki metrik universal seperti jejak karbon dalam isu lingkungan. Untuk mengatasinya, para ilmuwan mengembangkan Welfare Footprint Framework (WFF). Alat ini memungkinkan peneliti mengukur rasa sakit dalam satuan menit untuk membandingkan kondisi kesejahteraan antarspesies.
Saat ikan dikeluarkan dari air, mereka mengalami penurunan kondisi yang lambat dan penuh stres. Insang mereka runtuh, mereka terengah-engah dalam kepanikan, dan kimia darah mereka berubah drastis karena kekurangan oksigen. Penelitian menunjukkan bahwa ikan trout dapat menahan rasa sakit yang melumpuhkan hingga 25 menit sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Secara rata-rata, seekor ikan trout harus menanggung sekitar sepuluh menit rasa sakit yang masuk kategori menyakitkan, melumpuhkan, atau sangat menyiksa. Jika disesuaikan dengan berat badan, angka ini setara dengan 24 menit penderitaan per kilogram ikan yang dibunuh.
Metode asfiksia udara (membiarkan ikan mati karena kehabisan napas di udara terbuka) masih legal dan umum digunakan di banyak belahan dunia. Namun, metode ini terbukti tidak cepat dan tidak bebas rasa sakit.
Penggunaan es atau air es yang sering dianggap lebih lembut pun ternyata bermasalah bagi spesies yang beradaptasi dengan dingin seperti trout. Suhu dingin justru memperlambat metabolisme, yang mengakibatkan hilangnya kesadaran tertunda lebih lama dan memperpanjang masa penderitaan.
Studi ini mengevaluasi dua jenis metode pemingsanan (stunning): elektrik dan perkusi (pukulan). Pemingsanan elektrik, jika digunakan dengan benar, dianggap sebagai intervensi kesejahteraan hewan yang paling hemat biaya karena dapat menghindarkan ikan dari ratusan menit penderitaan.
Meski demikian, implementasinya masih tidak konsisten di lapangan karena masalah penempatan elektroda atau tegangan yang tidak memadai. Sementara itu, pemingsanan perkusi menunjukkan konsistensi yang lebih baik di laboratorium, namun sulit diterapkan dalam skala industri karena variasi ukuran ikan dan kelelahan pekerja.
Kekuatan dari Welfare Footprint Framework terletak pada transparansinya yang berbasis bukti, mirip dengan model yang digunakan dalam ilmu kesehatan publik.
“Welfare Footprint Framework menyediakan pendekatan berbasis bukti yang ketat dan transparan untuk mengukur kesejahteraan hewan, serta memungkinkan keputusan yang tepat tentang alokasi sumber daya untuk dampak terbesar,” ujar Dr. Wladimir Alonso dari Welfare Footprint Institute.
Bagi pembuat kebijakan, riset ini menyediakan fondasi ilmiah untuk mereformasi praktik lama. Dengan triliunan ikan yang disembelih setiap tahun, perbaikan kecil dalam proses penyembelihan dapat memberikan dampak besar bagi kesejahteraan makhluk hidup di bawah air yang selama ini penderitaannya sering kali tidak terlihat. (Earth/Z-2)
Pemprov Jakarta akui kelalaian dalam penanganan ikan sapu-sapu setelah disorot MUI. Evaluasi dilakukan, termasuk opsi olahan jadi arang.
Studi terbaru mengungkap penggunaan aspirin dan lidokain pada lobster Norwegia dapat meredam rasa sakit. Bukti kuat bagi perlindungan kesejahteraan hewan invertebrata.
Kesejahteraan hewan (animal welfare) semakin menjadi isu global karena implikasinya terhadap etika, lingkungan, kesehatan publik, hingga ekonomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved