Lobster Terbukti Bisa Merasakan Sakit, Haruskah Cara Memasaknya Diubah?

Thalatie K Yani
17/4/2026 14:00
Lobster Terbukti Bisa Merasakan Sakit, Haruskah Cara Memasaknya Diubah?
Ilustrasi(freepik)

PERDEBATAN panjang mengenai apakah krustasea seperti lobster dapat merasakan sakit kini mulai menemukan titik terang. Sebuah penelitian terbaru terhadap lobster Norwegia (Nephrops norvegicus) memperkuat bukti bahwa hewan ini memiliki sistem saraf yang mampu memproses penderitaan, mirip dengan makhluk hidup yang lebih kompleks.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports pada 13 April lalu, para peneliti menemukan fakta mengejutkan: obat pereda nyeri yang digunakan manusia, yakni aspirin dan lidokain, secara signifikan mampu meredam respons pelarian pada lobster yang diberi kejutan listrik.

Eksperimen "Kejutan Listrik"

Tim peneliti mengamati 105 lobster Norwegia yang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok yang diberi kejutan listrik sebesar 9,09 volt selama 10 detik menunjukkan reaksi refleks berupa "sentakan ekor" (tail flip) yang intens, sebuah upaya alami untuk melarikan diri dari bahaya.

Namun, hasilnya berubah drastis ketika lobster diberikan obat pereda nyeri sebelum disengat. Lidokain dilarutkan ke dalam tangki, sementara aspirin disuntikkan langsung ke tubuh lobster. Dari 13 lobster yang diberi lidokain, hanya tujuh yang melakukan sentakan ekor. Bahkan pada kelompok aspirin, hanya tiga dari 13 lobster yang menunjukkan reaksi pelarian tersebut.

Para peneliti berargumen bahwa jika gerakan tersebut hanyalah kontraksi otot mekanis akibat listrik, maka obat pereda nyeri tidak akan berpengaruh. Penurunan respons ini membuktikan adanya komponen neurologis yang disebut nosisepsi, proses di mana sinyal bahaya dikirim ke otak dan menciptakan kondisi internal negatif yang kita kenal sebagai rasa sakit.

Kesejahteraan Hewan yang Terabaikan

Temuan ini menjadi landasan kuat bagi para aktivis lingkungan dan ilmuwan untuk menuntut perlakuan yang lebih etis terhadap krustasea.

"Fakta bahwa obat penawar rasa sakit untuk manusia juga bekerja pada lobster Norwegia menunjukkan betapa miripnya fungsi tubuh kita," ujar Lynne Sneddon, Profesor Zoofisiologi di University of Gothenburg, Swedia. "Itulah mengapa penting bagi kita untuk peduli pada cara kita memperlakukan dan membunuh krustasea, sama seperti kita peduli pada ayam dan sapi."

Perubahan Kebijakan Global

Hasil riset ini menambah tekanan bagi industri kuliner dan regulator di seluruh dunia. Saat ini, beberapa negara seperti Norwegia, Selandia Baru, Austria, dan sebagian wilayah Australia telah melarang praktik merebus krustasea hidup-hidup demi kesejahteraan hewan.

Di Inggris, lobster, kepiting, dan gurita kini telah diakui sebagai makhluk hidup yang memiliki perasaan (sentient beings) berdasarkan Undang-Undang Kesejahteraan Hewan tahun 2022. Sementara itu, Amerika Serikat mulai mengikuti jejak ini melalui negara bagian California dan Washington yang melarang peternakan gurita karena dianggap tidak manusiawi.

Kini, industri dan peneliti mulai beralih mencari alternatif yang lebih "manusiawi", seperti penggunaan alat pemingsan listrik (electrical stunning) sebelum lobster diolah, guna memastikan hewan-hewan ini tidak merasakan penderitaan saat menjadi hidangan di meja makan. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya