Kentang Ternyata Berevolusi dari Nenek Moyang Tomat, Ini Temuan Terbaru Ilmuwan

Media Indonesia
27/4/2026 01:00
Kentang Ternyata Berevolusi dari Nenek Moyang Tomat, Ini Temuan Terbaru Ilmuwan
Ilustrasi(Dok The Guardian)

PENELITIAN terbaru mengungkap fakta menarik tentang asal-usul kentang. Makanan pokok yang dikenal luas ini ternyata berevolusi dari nenek moyang tanaman tomat sekitar 9 juta tahun lalu melalui proses alami yang kompleks.

Temuan ini menunjukkan bahwa kentang merupakan hasil persilangan (hibridisasi) antara tomat liar yang tumbuh di Pegunungan Andes dengan tanaman liar bernama Etuberosum.

Hibridisasi Jadi Kunci

Peneliti yang memimpin studi ini, Sanwen Huang, menjelaskan bahwa proses hibridisasi tersebut melibatkan dua induk berbeda.

“Tomat adalah induk betina dan Etuberosum adalah induk jantan. Namun, hal ini awalnya tidak jelas,” ujarnya.

Secara fisik, tanaman kentang memang tampak mirip dengan Etuberosum di bagian atas. Namun, perbedaan mencolok terlihat di bawah tanah, di mana kentang memiliki umbi bertepung, sementara Etuberosum tidak.

Peran Gen dalam Pembentukan Umbi

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell, tim ilmuwan menemukan dua gen kunci yang berperan dalam pembentukan umbi, yakni SP6A dari tomat dan IT1 dari Etuberosum.

Penulis utama studi, Zhiyang Zhang, menyebut penelitian ini melibatkan analisis besar-besaran.

“Ini adalah salah satu koleksi genom kentang liar terbesar yang pernah dianalisis,” katanya.

Kedua gen tersebut tidak cukup kuat jika berdiri sendiri. Namun, ketika bergabung, keduanya memicu perubahan batang bawah tanah menjadi umbi yang kaya nutrisi.

Temuan yang Dinilai Inovatif

Ahli lain, James Mallet, menilai studi ini sebagai terobosan penting dalam memahami evolusi tanaman.

“Studi ini sangat inovatif. Ini menunjukkan bagaimana peristiwa hibridisasi dapat memicu munculnya organ baru, bahkan menciptakan garis keturunan baru,” ujarnya.

Adaptasi yang Membuat Kentang Bertahan

Kentang mewarisi kombinasi gen yang membuatnya lebih kuat dan adaptif. Umbi yang dimilikinya berfungsi sebagai penyimpan energi, sehingga tanaman ini mampu bertahan dalam kondisi ekstrem seperti dingin dan kekeringan.

Kemampuan ini juga memungkinkan kentang berkembang biak tanpa bergantung pada biji, melainkan melalui tunas pada umbi.

Dari Andes ke Dunia

Ahli botani dari Museum Sejarah Alam London, Sandra Knapp, menyoroti peran masyarakat lokal dalam domestikasi kentang.

“Masyarakat adat di Andes memiliki ratusan varietas kentang. Di Eropa, kita mungkin hanya memiliki beberapa varietas yang berasal dari satu spesies,” jelasnya.

Kini, sebagian besar kentang yang dikonsumsi dunia berasal dari satu spesies utama, yaitu Solanum tuberosum.

Potensi Pengembangan di Masa Depan

Para peneliti kini juga mulai mengeksplorasi kemungkinan baru, termasuk membuat kentang dapat berkembang biak melalui biji dan bahkan menyisipkan gen kentang ke dalam tomat.

“Kami sedang mengerjakan proyek untuk membantu kentang bereproduksi melalui biji, serta memasukkan gen penting ke dalam tomat agar bisa menghasilkan umbi,” kata Huang.

Meski masih dalam tahap awal, riset ini membuka peluang besar dalam pengembangan tanaman pangan di masa depan bahkan memungkinkan tomat kembali berperan dalam evolusi “keturunannya” sendiri. (Muhammad Ghifari A/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya