Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, monster laut mitologi seperti "Kraken" dianggap hanya sebagai legenda. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa gurita raksasa dengan paruh penghancur tulang benar-benar pernah menguasai samudra pada Zaman Kapur (Cretaceous).
Berdasarkan analisis fosil yang diterbitkan dalam jurnal Science, spesies gurita purba ini diperkirakan memiliki panjang hingga 19 meter. Ukuran masif ini tidak hanya menandingi, tetapi juga memungkinkan mereka untuk memangsa predator puncak lainnya seperti mosasaurus dan plesiosaurus.
Karena tubuh gurita bersifat lunak dan jarang terawetkan menjadi fosil, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Yasuhiro Iba dari Universitas Hokkaido memfokuskan studi pada paruh, satu-satunya bagian tubuh gurita yang keras.
Tim melakukan pemindaian digital terhadap fosil-fosil paruh yang berasal dari 72 hingga 100 juta tahun lalu. Mereka menemukan bahwa spesies bernama Nanaimoteuthis haggarti memiliki paruh yang jauh lebih besar daripada cumi-cumi raksasa modern.
"Studi kami menunjukkan bahwa ini bukan sekadar versi besar dari gurita modern," kata Dr. Yasuhiro Iba. "Mereka adalah predator raksasa di puncak jaring makanan laut Zaman Kapur. Ini mengubah pandangan bahwa laut saat itu hanya didominasi oleh predator vertebrata besar."
Analisis menunjukkan pola keausan yang unik pada fosil paruh tersebut. Kerusakan berupa retakan dan pengikisan menandakan gurita ini secara rutin menghancurkan benda keras seperti cangkang dan tulang mangsanya.
Dr. Thomas Clements, pakar paleobiologi dari University of Reading yang tidak terlibat dalam penelitian, memberikan komentarnya terhadap ukuran hewan tersebut.
"Melihat paruh sebesar ini sejujurnya sangat menakjubkan. Itu adalah hewan yang sangat besar. Saya tentu tidak ingin berenang di lautan purba jika makhluk-makhluk ini ada di sana," ungkapnya.
Clements menambahkan bahwa selama ini rekonstruksi seni selalu memperlihatkan vertebrata memakan sefalopoda (gurita/cumi). "Sangat menyenangkan membayangkan gurita memakan vertebrata besar untuk sekali ini saja," tambahnya.
Selain kekuatan fisik, penelitian ini mengungkap gurita purba tersebut memiliki perilaku yang kompleks. Pola keausan pada salah satu sisi paruh menunjukkan adanya perilaku "lateralisasi" atau penggunaan sisi tubuh tertentu.
Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka mungkin memiliki preferensi tangan (seperti kidal atau tidak), mirip dengan gurita modern yang lebih menyukai lengan tertentu untuk menjelajah dan lengan lainnya untuk makan.
"Ini menunjukkan bahwa hewan-hewan ini bukan hanya predator yang kuat, tetapi juga memiliki perilaku yang canggih," pungkas Iba. Temuan ini membuktikan bahwa gurita purba telah menempati posisi yang jauh lebih dominan dalam ekosistem laut masa lalu daripada yang diperkirakan sebelumnya. (The Guardian/Z-2)
Studi terbaru mengungkap otak anjing mulai mengecil sejak zaman Neolitikum. Simak alasan ilmiah mengapa ukuran otak tidak menentukan kecerdasan anjing.
Penemuan fosil langka Cimolodon desosai di Baja California mengungkap rahasia mamalia bertahan hidup saat kepunahan massal dinosaurus 66 juta tahun lalu.
Penelitian terbaru di Spanyol mengungkap bagaimana manusia purba Neanderthal berbagi gua dengan beruang gua melalui pembagian ruang ekologis yang unik.
Peneliti ungkap "reset" prasejarah di Paris. DNA kuno menunjukkan pergantian populasi total akibat penyakit pes dan krisis sosial pada zaman megalitikum.
Penelitian terbaru di Gua Goyet, Belgia, mengungkap bukti mengerikan kanibalisme Neanderthal yang menargetkan orang asing, khususnya perempuan dan anak-anak.
Ilmuwan temukan fosil gurita raksasa Nanaimoteuthis haggarti sepanjang 19 meter di Jepang. Simak evolusi dan peran predator puncak lautan purba ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved